
"Tangkap dia!" perintah Louis pada para kesatria yang ada di sana, para kesatria langsung bergerak ingin menangkap Alvaro.
"Tunggu!" cegah Naina, ia tidak mau jika Alvaro di tangkap begitu saja, "Kakak melakukan ini bukan tanpa sebab. Itu karena dia sudah menghina kami dua kali, pertama dia menghina pakaian ku katanya mirip dengan pakaian wanita rumah bunga lalu kedua dia mengotori pakaian kakak ku juga. Kenapa kalian hanya menghukum kakak ku saja?"
"Diam kau." Louis mengarahkan pedang petirnya pada ke leher Naina, "Elena tidak pernah menyakiti hati orang lain tanpa sebab. Saat ada seseorang yang memberikan dia hinaan, maka dia hanya mengembalikan apa yang orang itu beri. Aku kenal dia dengan baik."
"Kenapa anda seyakin itu? tanya saja pada Pangeran Luca kebenarannya, dia ada di sana saat wanita itu menghina pakaian ku," balas Naina berusaha membela diri.
"Kau menghina kakak ipar dan Nona Liana. Hinaan mu sudah keterlaluan, dan kakak hanya mengatakan saja jika pakaian mu mirip dengan wanita dari rumah bunga. Itu penghinaan karena kau sendiri menghina kakak ipar ku bahkan kau yang memulai masalah ini, jadi kalian berdualah yang salah dan tanpa tahu malu kalian telah bertindak sangat rendah. Kalian jangan bawa Alvaro sendirian, bawa Naina bersama juga. Ini perintah kakak," jawab Luca. Para kesatria pun merantai kedua saudara itu dan membawa mereka ke penjara bawah tanah.
"Luca, tutup acara ini. Yang lain ikut dengan ku," ucap Louis. Ia menggendong Elena ke ruang istirahat bersama keluarga Elena di belakangnya.
Louis menurunkan Elena duduk di sofa, lalu ia mengambil air serta handuk untuk membersihkan rambut Elena dari anggur, ia juga membawakan gaun baru dan meminta Elena mengganti gaunnya di kamar. Setelah selesai berganti pakaian Elena kembali duduk, ia membiarkan Louis mengeringkan rambutnya.
Setelah itu Louis juga meminta pelayan mengambilkan sedikit salep buatannya, ia menggunakan salep itu untuk memijat pergelangan kaki Elena yang terkilir saat Alvaro menghempaskannya ke lantai.
"Katakan saja jika sakit," ucap Louis mendengar Elena meringis kesakitan sampai mencengkram rambutnya.
Tiba-tiba kaisar masuk bersama dengan Vanessa, melihat mereka Louis berhenti memijat Elena.
"Tamu macam apa yang kalian bawa ke mari?" tanya Louis pada sang ayahanda. Terlihat jelas dari tatapannya jika amarah Louis masih belum reda.
"Pangeran Alvaro datang atas keinginan Kaisar timur, mereka membawa surat pengajuan pertunangan untuk memperkuat persahabatan kita dengan mereka. Tidak peduli apa yang mereka lakukan kita tidak harus memenjarakan mereka, kita hanya perlu mengirim mereka kembali ke Kekaisaran Timur saja. Jika begini maka …."
"Ayahanda." Louis memotong penjelasan kaisar, "Aku tidak mau menjadi anak kurang ajar dengan menentang ayah. Tapi ucapan ayah sudah keterlaluan, pria itu menghina Elena di depan semua orang. Lalu ayah bilang jangan kurung mereka? aku bahkan berpikir akan memotong tangannya."
"Lalu bagaimana jika terjadi perang karena hal ini?" kali ini Vanessa yang bertanya.
"Elena." Teriak Louis membuat banyak orang terkejut, "Kenapa tadi di aula kau hanya diam saja saat ada pria kotor yang menyakiti harga diri mu?"
"Itu … karena itu perjamuan yang di buat oleh kaisar maka aku harus menghormatinya, apalagi saat itu kaisar tidak ada di tempat," jawab Elena.
"Bodoh! jika aku tidak datang maka tidak akan ada satu pun orang yang berani melawan pria itu, dan kau akan semakin menderita karenanya. Ingatlah Elena, kau hidup bukan untuk di hina. Tapi untuk berjuang, tidak ada seorang pun yang bisa memandang rendah apalagi sampai bertindak rendah pada mu. Jika ada maka orang itu tidak punya pilihan selain mati."
Louis berbalik seraya memegang pundak Elena, "Kau sekarang adalah tunangan ku, maka posisi mu berada di atas semua orang saat kau berada wilayah kita. Kau bisa menghukum siapa saja yang kau mau, tidak peduli mau kesalahan dia kecil atau besar. Aku ingin berada di sisi mu bukan sebagai beban. Tapi sebagai kekuatan mu, aku ingin melindungi mu dari bahaya apa pun atau masalah. Aku tahu kau tidak butuh siapa pun, dukungan apa pun, apalagi kekuatan dari orang lain. Kau adalah tunangan ku dan dengan hak itu kau bisa memberikan hukuman berat kepada orang yang tidak tahu diri seperti Alvaro."
Elena menepis kedua tangan Louis dari pundaknya, "Lalu bagaimana jika aku menghukum siapa saja sesuka hati ku? kau tidak bisa memberikan aku wewenang seperti itu. Kau yang seperti itu sudah egois."
"Aku berkata seperti ini bukan karena aku ingin. Tapi karena aku percaya pada mu, Elena selalu bertindak dengan alasan yang masuk akal. Aku sangat tahu akan hal itu. Pria kotor seperti Alvaro ada banyak di dunia ini, dan kejadian seperti ini bisa menimpa wanita mana pun termasuk saudara perempuan mu. Jadi kau tidak akan diam saja jika itu terjadi, kan?" tanya Louis membuat Elena terdiam.
"Oleh karena itu, ayahanda." Louis beralih menatap kedua orang tuanya "Aku tidak akan mengampuni siapa saja yang menghina atau menyakiti kehormatan Elena, dan aku akan menghukum siapa saja yang berani pada Elena. Ayahanda tidak bisa menahan ku untuk melakukan hal itu."
Mendengar itu dari sang anak membuat kaisar dan Vanessa tersenyum, mereka bangga karena Louis lebih mementingkan harga diri, dan kehormatan seorang wanita.
"Yang kau lakukan sudah benar. Patahkan kaki serta tangan pria kurang ajar itu lalu rantai dia, dan kirim dia pulang ke tempatnya," jawab kaisar.
"Ya. Ayahanda mu benar, jangan pikirkan apa yang akan terjadi nanti. Jika mereka mau perang maka kita akan perang, lagi pula adik pria itu tidak pantas menikah dengan adik mu," tambah Vanessa.
"Ini berlaku untuk kalian Keluarga Abraham. Jangan ragu melawan siapa saja yang berani menyentuh anggota keluarga kalian, ini titah kaisar," ungkap kaisar membuat keluarga Abraham lega.
Kini masalah itu berakhir sampai di situ saja karena malam ini akan menjadi malam yang panjang. Sesampai di kediaman Elena langsung mengurung diri dalam kamar, ia teringat bagaimana marahnya Louis setelah apa yang terjadi padanya di aula tadi. Elena berpikir keras apa alasan dibalik amarah itu. Namun ia tidak menemukannya, untuk sesaat Elena berpikir Louis marah karena yang dipermalukan saat itu bukan hanya Elena melainkan tunangannya, dan sebagai tunangan Elena maka Louis merasa tindakan pria itu telah melukai harga dirinya sebagai seorang pangeran.
Namun pemikiran itu tertepis oleh setiap ucapan yang keluar dari mulut Louis, tatapannya, serta perilakunya murni karena dia tidak mau kerhormatan Elena terluka. Jantung Elena berdetak tidak karuan karena itu, dan wajahnya terasa panas kala mengingat seperti apa Louis datang menyelamatkannya saat itu.
Sementara itu di sisi lain Louis pergi ke penjara bawah tanah. Di sana ia menghukum Alvaro secara fisik, Louis tanpa ampun mematahkan kedua tangan dan kaki Alvaro secara langsung. Naina yang menyaksikan itu tersiksa secara mental, karena dia wanita maka tidak benar bagi Louis melukai fisiknya. Namun dengan menyaksikan bagaimana saudaranya di hukum, sudah menjadi hukuman yang pantas untuk Naina bahkan seumur hidup dia tidak akan melupakan hal ini, Louis yakin akan itu.
Setelah puas dengan itu Louis meminta Fil memindahkan mereka ke kamar, karena besok mereka berdua akan di kirim kembali ke timur berserta surat tentang kejahatan keduanya. Para kesatria timur yang menjadi saksi juga sudah bersumpah akan mengatakan semua yang terjadi tanpa menutupi apa pun. Louis hanya perlu menunggu kejadian selanjutnya.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘