The Second Chance To Change Destiny.

The Second Chance To Change Destiny.
Bab 73 Elena di culik.



Wanita tanpa nama itu terkejut karena dirinya saat ini berada di tengah-tengah taman bunga yang luas, padahal seingatnya dia sedang tidur di kamar setelah makan malam dengan Alfred.


Di taman itu ternyata ia tidak sendiri, ada seorang wanita duduk di atas batu sambil bernyanyi. Suaranya sangat merdu sampai wanita tanpa nama tertarik untuk mendekatinya.


Wanita asing itu berhenti bernyanyi, ia berbalik menghadap wanita tanpa nama dengan senyuman manis terukir di bibirnya.


"Akhirnya kita bisa bertemu. Apa kau merasa tenang di sini?" tanya wanita asing kepada wanita tanpa nama.


"Ya. Suara mu sangat merdu hingga membuat hati ku merasa damai dan tenang, tapi kau siapa?"


"Siapa aku itu tidak penting, yang penting adalah kebahagian mu. Apa kau tidak bahagia tinggal bersama raja para dewa?"


"Aku tidak tahu bisa mengatakan ini atau tidak. Tapi aku tidak bisa menipu diri ku sendiri, berada di kediaman ini lebih baik aku ada dalam penjara saja."


"Bisa kau bertahan lebih lama lagi?"


"Aku tidak tahu."


"Jika kau bertahan lebih lama lagi, putri ku akan datang menjemput mu. Suatu saat nanti entah itu 10 atau 20 tahun lagi. Apa kau akan menunggunya?"


"Kenapa kau sangat yakin putri mu akan datang?"


"Karena dia putri ku, jiwa ku, jantung ku dan dunia ku. Dia tidak akan membuat orang tidak bersalah seperti mu menderita, jadi dia akan membawa mu pergi. Namun, jika kau melihatnya suatu saat nanti maka kau harus mengatakan semua keluhan mu kepadanya setelah itu dia tahu apa yang harus dia lakukan. Kau mau?"


"Ya. Tapi bagaimana aku bisa tahu dia itu putri mu atau tidak?"


"Kau pasti akan tahu hanya dalam sekali melihatnya. Saat hari itu tiba maka hari mu setelahnya akan selalu di penuhi kebahagian."


"Bisakah kau beri tahu aku siapa nama mu? atau nama putri mu itu?"


"Nama putri adalah Elena dan aku adalah wanita yang menjadi alasan dari penderitaan mu, Rani." Mendengar nama wanita asing itu membuat wanita tanpa nama langsung terbangun dari tidurnya.


"Ternyata hanya mimpi. Apa aku bisa berharap dari mimpi itu? raja para dewa mengatakan aku adalah putri dari Rani. Tapi dalam mimpi tadi, dia menyebut nama wanita lain sebagai putrinya. Sudahlah lupakan saja itu hanya mimpi," batin wanita tanpa nama.


******


Alma merasa sangat sangat kesal setelah Sonia pergi dan belum kembali selama 5 hari, Alma merasa dirinya telah dikhianati oleh Sonia. Karena setelah mereka membuat racun dengan kekuatan Alma, Sonial angsung pergi bahkan tanpa berpamitan terlebih dulu.


Kini Alma duduk di taman hiburan melihat orang-orang bermain di sekitarnya, pemandangan ini cukup menenangkannya.


"Andai saja Alma tahu siapa teman yang ingin Sonia racuni, maka Alma akan menyelamatkan temannya itu agar dia bisa merasakan bagaimana rasanya dikhianati," batin Alma yang masih belum bisa melepaskan Sonia dari pikirannya.


"Lepaskan aku …." Elena menolak untuk pergi bersama Liana. Akan tetapi, Liana tidak peduli padanya ia juga tidak mau melepaskan Elena.


"Aku mau makan," teriak Elena membuat mereka berdua menjadi pusat perhatian.


"Mereka sedang apa?" tanya Alma pada dirinya sendiri. Ia penasaran kenapa tubuh Elena di ikat dan talinya di pegang oleh Liana.


"Siapa saja tolong aku, wanita ini menculik ku," teriak Elena. Namun penghuni taman mengabaikan mereka, hal itu membuat Alma semakin penasaran. Oleh karena itu, ia pun pergi menghampiri mereka.


"Hei hei hei. Apa yang kau katakan? menyelamatkan orang lain bukan begitu caranya," protes Elena membuat Liana tertawa.


"Kau tenanglah. Alma ada di sini dengan begitu kau tidak akan di bawa ke mana-mana olehnya, jangan berterima kasih pada Alma," jawab Alma membuat Elena tertunduk lesu.


"Liana, ayo kita pergi aku tidak akan memberontak lagi," keluh Elena, ia tidak mau berurusan dengan Alma.


"Tunggu!" Alma menghadang jalan Liana, "Culik Alma juga, jika tidak dia akan kesepian hanya sendiri."


"Hah? Liana jangan konyol. Dia …."


"Selesai." Liana mengikat tubuh Alma, lalu ia menarik kedua pergi menuju tempat yang dia mau.


Mereka pergi ke kedai membeli beberapa camilan, lalu mereka makan bersama di pinggir jalan. Terkadang Elena akan berebut makanan dengan Alma hingga terjadi perdebatan, dan Elena selalu saja kalah dari Alma.


Kini hari sudah petang mereka sudah pergi ke banyak tempat, Liana pun melepaskan ikatan pada tubuh keduanya.


"Sudah waktunya pulang, terima kasih sudah ikut meramaikan perjalanan kami," ucap Liana pada Alma.


"Penculikannya hanya seperti itu?" tanya Alma kebingungan.


"Sebenarnya ini bukan penculikan. Elena adalah adik ku. Dia suka sekali menghilang dan sering membuat aku khawatir, jadi aku mengikatnya lalu ku tuntun dia berjalan agar tidak menghilang lagi. Karena marah dia malah mengatakan banyak hal aneh," jawab Liana.


"Itulah alasannya kenapa orang-orang di taman mengabaikan kami saat dia meminta tolong, karena hari ini bukan yang pertama kalinya dia begitu. Aku harap kau menikmati jalan-jalan bersama kami," lanjut Liana memberikan Alma pelukan.


"Apa besok kalian akan ke taman lagi?" raut wajah sedih Alma membuat keduanya merasa tidak tega meninggalkan dia sendirian.


"Tidak, karena besok kami sibuk. Bagaimana jika kau datang ke rumah kami?" usul Elena membuat Alma dan Liana terkejut.


"Aku sangat ingin berteman lalu melakukan hal seru seperti tadi. Apa jika aku ke rumah mu kita sudah berteman?" tatapan polos Alma mampu menyihir Elena untuk tidak membencinya.


"Bodoh! kita sudah berteman sejak kau ikut bersama kami. Nanti akan ada banyak keseruan lagi datanglah ke Kediaman Abraham, kami menantikan kedatangan mu," ucap Elena mendapatkan anggukan dari Alma. Dengan begitu keduanya pergi menaiki kereta kuda, tidak lupa Elena melambaikan tangan pada Alma dari jendela kereta.


"Berteman asli rasanya sangat menyenangkan. Alma menyukai mereka berdua, mereka tidak jahat sama sekali berbeda dengan teman Alma dari dunia bawah yang dipenuhi kebencian satu sama lain. Apa mungkin karena mereka bersaudara makanya sangat dekat? berteman dengan manusia baik ternyata jauh lebih seru," batin Alma yang sangat menantikan hari esok.


*****


Kesokan harinya Alma bersiap pergi ke Kediaman Abraham. Namun kedatangan Sonia mengubah rencananya, Sonia memaksa Alma ikut bersama karena hari ini ia akan menggunakan racun yang mereka buat bersama.


Hari ini sudah Sonia nantikan karena permintaan Jovanka sebelum pergi ke pengasingan adalah mengundang Elena untuk minum teh bersama, Ernest menyetujui hal itu sampai membuat Sonia cemburu. Namun, ia tidak terlalu cemburu karena pada hari ini setelah Elena meminum teh buatan Jovanka yang telah Sonia beri racun maka dia akan langsung tiada. Setelah itu Jovanka harus bertanggung jawab atas semuanya.


Hari yang penuh kebahagian ini sangat di sayangkan bagi Sonia jika hanya ia lalui sendiri, jadi ia mengajak Alma walau pun sebenarnya dia enggan mengajak wanita ini lagi.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘