The Second Chance To Change Destiny.

The Second Chance To Change Destiny.
Bab 43 Bukan tukang kebun.



Daratan agung adalah tempat yang sangat indah, ini adalah kota besar yang mengambang di udara. Penduduk yang tinggal di kota ini adalah murid-murid dalam dan murid luar menara, murid luar adalah mereka yang belum mencapai tahap tertinggi dari semua murid yang ada dalam sedangkan murid dalam adalah mereka yang kekuatannya telah di akui.


Elena dan Liana mendaftar di sana menjadi murid luar, entah butuh berapa tahun bagi mereka untuk memperkuat tenaga dalam agar dapat menjadi murid dalam atau murid resmi menara agung.


Di antara murid yang mendaftar ada juga yang mendapatkan perlakuan khusus karena mereka di undang langsung oleh menara setelah lulus akademik, berbeda dengan murid yang datang atas keinginan sendiri.


"Kita terpisah." Liana sedih karena ia harus ke bangunan yang berbeda dengan Elena.


"Sampai jumpa nanti. Semangat." Elena hanya bisa mendukung Liana, entah akan menjadi seperti apa Liana di sana sendirian.


Setelahnya Elena pergi ke paviliun pemanggil di sana ada banyak murid senior dan murid baru, beberapa orang kelas atas membentuk kelompok mereka untuk menghina orang kelas bawah.


Tidak lama kemudian seorang wanita keluar dari dalam pavilliun, ia meminta semua murid baru memeriksa level mereka dengan kristal bela diri. Rata-rata murid baru berada pada level misteri, hanya Elena yang masih berada di level dasar.


"Apa itu? kau mau jadi tukang kebun dengan level itu?" ejek seorang senior pada Elena.


"Kau bisa masuk ke mari dengan jalur apa? pulang saja ke rumah mu dan pergilah bekerja menjadi pelayan di rumah bangsawan," tambah yang lainnya.


"Jangan begitu. Kita harus bersikap adil, memangnya kenapa jika dia hanya di level itu? kita juga pernah di level yang sama kan?" seorang pria tampan berrambut kuning keemasan membela Elena.


"Tidak masalah. Selama kau masih berada di level dasar maka jangan berpikir bisa belajar bersama yang lain, karena di sini hanya kau yang level dasar maka tempat mu di belakang. Berkebun," ucap wanita yang tidak lain adalah guru sekaligus ketua paviliun itu, Nona Wylie Amanda.


"Aku mendaftar sebagai murid bukan tukang kebun. Anda adalah guru maka anda harus bersikap sebagai guru, ucapan anda terhadap ku itu tidak adil," protes Elena.


"Hah? di luar sana kau bisa menjadi orang yang di anggap agung karena keahlian mu. Tapi di sini tidak, murid tidak di nilai dari keahlian melainkan level kekuatan. Di sini orang dengan keahlian seperti mu ada banyak bahkan ada yang jauh lebih berbakat dari mu, di sini kau tidak berarti sama sekali bahkan posisi mu setara dengan sampah," balas Wylie.


"Walau pun begitu anda tetap tidak bisa membeda-bedakan murid sesuka hati anda. Mau aku atau orang lain sama saja, kami semua sama-sama murid."


"Di sini semuanya level misteri hanya kau yang level dasar. Apa aku harus membahas pelajaran level dasar di antara siswa level misteri? atau apa aku harus membuang tenaga seorang guru untuk satu murid saja? itu tidak mungkin. Jadi saat ini aku sudah sangat sangat adil. Jalan ke kebun ada di belakang paviliun, kau di sana tidak sendiri ada banyak sampah seperti mu di sana. Mereka menetap di sana karena tidak bisa maju dalam bermeditasi, jika kau bisa maju maka kau akan keluar dari sana dan jika tidak maka menualah di sana," pungkas Wylie.


"Tidak bisa, aku tidak bisa berakhir di kebun. Level ku sudah tidak naik selama 2 tahun lalu bagaimana jika tidak naik sama sekali, rencana ku bisa gagal lalu semuanya akan hancur. Bagaimana ini?" batin Elena menggigit kuku ibu jarinya.


"Ayo masuk, kalian langsung ke asrama." Para senior mengarahkan murid baru masuk ke area paviliun, tinggalah Elena sendiri di halaman depan.


"Berani sekali mereka, aku akan membunuh kalian semua." Slyph sangat kesal melihat bagaimana orang-orang menghina Elena.


"Tenanglah." Pria tampan berambut kuning itu kembali menenangkan Elena, "Aku Arthur, dulu aku ada di posisi yang sama dengan mu. Tapi berkat kerja keras ku, aku bisa hidup sebagai murid resmi bersama yang lain. Kau juga harus semangat."


Sesampainya di halaman belakang ternyata ada sekitar 10 orang murid sedang memanen tanaman herbal, melihat Elena masuk mereka bersikap biasa saja.


"Aku …."


"Asrama sebelah sana. Tapi sebelum itu, pergilah melapor dulu pada pengawas kebun agar tugas mu bisa lebih cepat di berikan. Dan tolong ingat jangan bicara saat kerja atau mengajak bicara," potong seorang wanita saat Elena hendak bertanya.


"Terima kasih." Elena mengangguk dan pergi ke bangunan terpisah, di sana tertulis kediaman pengawas kebun.


Elena melapor sebagai murid yang baru masuk, pengawas itu memberikan Elena selembar jadwal untuk pekerjaannya yang akan di mulai besok. Ia juga mendapatkan kunci kamarnya.


Asrama dalam kebun itu tidak memiliki banyak kamar. Kamar wanita berada di lantai 2 sedangkan pria di lantai 1, dalam satu kamar terdapat 4 ranjang.


"Tambah aku kamar ini sudah penuh," batin Elena melihat hanya sisa satu ranjang yang masih kosong.


"Nona." Slyph muncul tiba-tiba dengan wajah berlinang air mata, spirit Elena memang bisa datang sesuka hati mereka bahkan tanpa di panggil.


"Ada apa? tidak terjadi hal buruk di sini lalu kenapa kau datang?" tanya Elena sambil merapikan barang-barangnya.


"Hal buruk sudah terjadi. Anda adalah orang yang hebat, seharusnya tempat anda bukan di sini. Ayo kita pulang saja," jawab Slyph.


"Aku sudah tiba di sini maka aku tidak akan pulang. Di balik hal buruk tersimpan hal baik, aku akan tetap di sini. Kau bantu aku merapikan barang-barang dari pada hanya mengomel di sana, ayo."


"Baiklah. Tapi nona, pria itu yang muncul di depan protal. Dia di sana menangis, aku melihatnya karena aku penasaran. Apa anda tidak ma …."


"Slyph. Ini bukan saatnya. Bantu saja aku lalu istirahatlah," potong Elena.


"Nona adalah wanita yang hebat, di level dasar sudah mendapatkan kontrak dengan spirit 4 elemen serta kesatria suci. Apalagi semuanya spirit tingkat tinggi, ditambah dengan 5 kesatria suci. Seharusnya nona tidak berakhir di tempat ini, bahkan asrama akademik tidak seperti ini. Nona kami yang malang," batin Slyph.


Setelah selesai merapikan ranjang sampai membersihkan area ranjang dengan bantuan angin Slyph. Elena meminta Slyph untuk kembali ke dunia spirit, barulah Elena bisa duduk dan bernafas dengan baik. Walau pun ia masih kesal karena ucapan Wylie tadi. Tapi Elena sudah bertekad ini tidak akan berlangsung lama, karena dia datang ke sini bukan sebagai tukang kebun. 


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘