The Second Chance To Change Destiny.

The Second Chance To Change Destiny.
Bab 93 Kejutan.



Elena dan Kavana pergi menemui tetua agung, beliau tinggal di rumah yang sederhana terletak di gunung belakang menara. Elena merasa rumahnya sangat indah karena itu kecil, berkesan menggemaskan.


"Salam tetua agung. Ini Kavana dan Elena, bisakah kami masuk?" tanya Kavana dari luar rumah.


"Masuklah," jawab tetua agung dari dalam.


Karena ini rumah panggung, jadi Kavana dan Elena harus menaiki tangga menuju teras. Di teras itu ada tetua agung yang sedang menggiling gandum menjadi tepung.


"Duduklah di mana saja yang kalian suka," ucapnya tanpa memalingkan pandangan dari penggilingan.


"Kakek, apa anda memasak sendiri?" tanya Elena penasaran.


Tetua agung tersenyum lalu ia menggunakan kekuatannya untuk membuat ilusi, ilusi untuk menjebak Kavana agar dia tidak mendengar apa yang akan mereka bicarakan.


"Lupakan tentang memasak. Aku penasaran dengan cincin yang ada pada jari mu, di mana kau membelinya?" tanya tetua agung. Kali ini beliau menghentikan pekerjaannya dan memincingkan mata menatap Elena sambil tersenyum manis.


Elena menutupi cincinnya seraya menjawab, "Kakek, kau terlihat seperti perampok jika begitu. Memang cincin ku sebagus itu sampai seorang tetua agung pun tertarik."


Tetua agung tertawa mendengar jawaban itu, "Siapa saja yang mengenalinya pasti akan tertarik. Itu batu permata safir malam kan?"


"Iya, aku menemukannya saat pembasmian goblin. Lalu permatanya aku ambil dan di buat menjadi cincin oleh salah satu teman ku. Apa anda mau?"


"Tidak, aku tidak mau menerima sesuatu yang sudah dipakai oleh orang lain. Itu sedikit kotor."


"Aku mau pulang," ucap Elena seraya berdiri dari duduknya. 


Tetua agung tertawa kecil lalu menarik tangan Elena, "Orang tua ini hanya bercanda, duduklah."


Elena duduk kembali dengan wajah di tekuk. Tetua agung tersenyum dan menghilangkan ilusinya, percakapan kali ini akan melibatkan Kavana.


"Kau tidak akan mendapatkan ujian ulang karena hanya kau sendirian, pengawas merasa akan sangat rugi dan buang-buang waktu saja," ucap tetua agung pada Elena.


"Lalu bagaimana? dia adalah bintang agung, tanpa hasil ujian dia tidak akan di akui," sela Kavana.


"Dengarkan dulu. Dia akan ku berikan ujian lain yang akan ku nilai secara langsung, dengan nilai dari ku maka dia akan diakui oleh siapa saja. Bagaimana Elena?" tanya tetua agung lagi.


"Tentu saja aku tidak keberatan, justru ini akan menjadi hal baik untuk ku. Aku beruntung," jawab Elena.


"Bagus. Jadi ujian itu adalah …." Tetua agung mengeluarkan kantong kecil dari dalam jubahnya, "Antarkan ini ke kediaman raja para dewa."


"Apa?" teriak Elena dan Kavana serempak.


"Ke dunia atas? jangan bercanda. Elena belum punya hak khusus untuk ke sana, dia bahkan belum ikut ujian tahap pertama. Apa yang akan para tetua lain katakan nanti?" tanya Kavana.


"Dia benar. Ini harus dibicarakan dulu, aku tidak mau dipandang rendah," tambah Elena.


Bugh!


Tetua agung memukul kepala keduanya, "Ini perintah dari ku, apa kalian tidak mau ikut ujian? jika tidak mau maka lupakan saja tentang perintah ku, dan keluarlah dari daratan ini."


"Aku akan menerimanya." Mengambil barang yang tadi tetua agung berikan padanya.


"Bagus, kau cukup pintar rupanya. Kalau begitu bawa itu dan serahkan pada raja para dewa, Kavana akan ikut dengan mu karena raja para dewa hanya menemui pria jadi Kavana yang berikan barang itu langsung padanya. Kau mau atau tidak Kavana? atau aku harus memanggil pria lain?" tanya tetua agung.


"Aku akan pergi. Jangan gantikan aku dengan siapa pun," jawab Kavana dengan cepat. Ini kesempatan ia bisa berdua saja dengan Elena, dan jauh dari Louis.


*****


"Kenapa kau? bukannya kemarin kau sehat?" tanya Kavana terheran-heran kondisi Elena memburuk dalam semalam. Elena tidak menjawab karena semalam itu dia sedang sibuk dengan Louis.


Beberapa jam lalu.


Setelah makan malam dengan Liana, Elena diam-diam pergi ke kamar Louis di asrama pria. Ia berjalan mengendap-endap seperti pencuri agar tidak ketahuan oleh penghuni asrama lain.


Perlahan-lahan ia membuka jendela kamar Louis, saat itu kamar Louis gelap gulita hanya kamar mandi yang diterangi oleh cahaya. Elena berniat ingin memberikan Louis kejutan jadi dia masuk dan bersembunyi di bawah ranjang.


Tidak lama Louis keluar dari dalam kamar mandi sambil bersenandung, Elena dapat melihat bayangannya dari lentera yang ia bawa. Mendadak pintu kamar dibanting dari luar oleh seseorang. Elena hampir saja berteriak karenanya.


"Rion, bisakah kau jangan membanting pintu saat membukanya?" tanya Louis, dia juga sepertinya terkejut.


"Hehehee. Tapi kamar mu harum sekali, kau mandi dengan sabun beraroma? kenapa? apa Elena akan datang?" tanya Rion menggoda Louis.


"Ka-kalau iya ke-kenapa? aku sering mandi dengan sabun itu sejak dulu, kau saja yang tidak pernah menciumnya."


"Heeh. Benarkah? kenapa pipi mu merona? ternyata Louis juga bisa malu, manisnya."


"Diamlah. Aku sibuk sekarang." 


"Pakaian mu lumayan banyak. Kau mau pakai yang mana? menurut ku biru cocok untuk mu."


"Biru memang cocok. Tapi Elena suka warna hitam, jadi aku akan pakai pakaian berwarna hitam."


"Hei Louis, apa benar melakukan semua ini hanya wanita yang tidak mencintai mu? kau berpikir keras untuk tampil sempurna di depannya, lalu dia sendiri bagaimana?" 


"Inilah perbedaan mu dengan ku. Bagi ku cinta satu orang saja sudah cukup untuk membuat hubungan menjadi dekat, tidak peduli dia mau seperti apa di depan ku. Tapi aku ingin sempurna untuknya, aku tidak mau dia pergi ke hati lain atau kembali ke hati yang lama."


"Bagi mu akan dekat. Sayangnya itu hanya sebuah pemikiran saja, dibutuhkan 2 hati untuk membina hubungan agar selalu baik. Jika hanya ada satu hati yang berjuang, maka apa yang terjadi? kau tahu tanpa perlu aku katakan. Sebaiknya kau belajarlah hidup tanpa memikirkan Elena, karena kau sendiri tidak tahu isi hatinya. Entah dia akan bertahan dengan mu atau meninggalkan mu suatu saat nanti."


"Aku akan tetap mencintainya bahkan jika aku harus mengulang kehidupan ini untuk tetap bersamanya, maka aku tidak akan ragu," jawab Louis membuat Elena terkejut.


"Mengulang kehidupan?" batin Elena lagi-lagi berpikir panjang.


"Louis, apa kau menyimpan pakaian di bawah ranjang?" tanya Rion, "Lihat! ada kain merah di sana."


"Mana?" Louis memalingkan tatapannya ke ranjang lalu  mendekati ranjangnya.


"Kain apa ini?" Louis pun mengintip ke bawah ranjang dan alangkah terkejut dia saat melihat Elena di bawah sana.


"Kejutan!" bisik Elena tersenyum lebar membuat wajah Louis memerah.


"Apa kau dengar semuanya?" tanya Louis berbisik, Elena menatap ke arah lain dan mengangguk pelan.


Dengan cepat Louis langsung berdiri lalu ia mengambil pakaiannya dan masuk ke dalam kamar mandi, tidak lama dia keluar lagi dengan pakaian rapi. Lalu ia menarik Rion keluar dari kamarnya dan mengunci pintu kamar dari dalam. Ia tidak bisa menahan rasa malunya saat ini, apalagi saat Elena merangkak keluar dari bawah ranjang membuat Louis semakin malu.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘