
Elena mendapatkan surat jawaban dari Fil kalau dia akan memberikan Elena kristal itu secara gratis, Admon juga menyampaikan hasil pengawasannya setelah beberapa hari. Elena merasa lega setelah mendengar apa yang Admon katakan, kini dia tidak perlu khawatir isi hati Liana atau Leon sebab keduanya sudah tahu kebenaran ini dan masih menerima Elena.
*****
Alfred lagi-lagi pergi menemui tetua agung, ia tidak akan menyerah sebelum menemukan Elena.
"Selama ini kau selalu baik-baik saja melayani ku, lalu kenapa sekarang kau malah membenci ku sampai menolak ku seperti ini. Aku tahu dulu …."
"Hoam …." Tetua agung sengaja menguap saat Alfred sedang bicara karena kepribadian Alfred yang benci jika diabaikan oleh seseorang, apalagi musuhnya.
"Benar-benar tidak sopan, sudah cukup. Kalian keterlaluan." Alfred dengan cepat mencekiki leher tetua agung, "Kau merasa hebat hanya karena aku bicara lembut kepada mu, tua bangka."
"Ilusi angin bunga," ucap tetua agung tersenyum sambil tersenyum, "Akhirnya orang yang sakit jiwa membuka topengnya."
Tetua agung yang dicekik oleh Alfred berubah menjadi kelopak bunga, lalu ia muncul lagi diloteng ruang tamu.
"Aku benci permainan ilusi mu," ucap Alfred hanya dibalas dengan senyuman oleh tetua agung.
"Jika aku tidak mendapatkan informasi dari mu, maka aku masih punya 1000 cara lain untuk mendapatkannya." Alfred menjentikan jarinya dan terjadilah ledakan beruntun dari jarak yang jauh.
"Aku akan menghancurkan daratan ini," ucap Alfred membuat tetua agung menggertakan giginya, tanpa basa-basi ia menyerang Alfred tanpa henti.
Pertengkaran hebat terjadi diantara keduanya, adu kekuatan tidak dapat dihindari hingga menghancurkan kediaman tetua agung. Posisi tetua agung sendiri saat ini tidak menguntungkan, karena Alfred memiliki kekuatan fisik yang jauh lebih kuat dari sebelumnya, ia juga menggunakan kekuatan mata langit untuk membaca semua gerakan tetua agung.
Kekuatan mata itu akan sehilang selama satu menit setelah ia menggunakannya selama lima menit, dalam satu menit itu ada peluang bagi tetua agung untuk menyerang mental Alfred ke dalam ilusi menyakitkan agar ia terjebak dalam ilusi itu dan hancur didalamnya.
Setelah pengaruh ilusi itu hilang untuk yang ke sekian kalinya, Alfred menjadi berbeda kali ini.
"Beraninya kau merebut Rani dari ku. Walau pun itu hanya ilusi Rani tetaplah milikku, kembalikan ilusi Rani pada ku, kembalikan." Alfred menerjang tetua agung dengan cara membabi buta.
"Sial! kenapa harus ilusi tentang wanita itu yang keluar," batin tetua aku menghindari serangan Alfred.
"Aku bilang …. kembalikan!" teriak Alfred seraya menikam dada tetua agung menggunakan tangannya, lalu mencabut jantung tetua agung dari dalam.
Brak!
Hanya dalam sedetik nyawa Tetua agung melayang dari tubuhnya, tidak ada sedikit pun rasa kasihan dalam hati Alfred setelah apa yang dia lakukan.
"Siapa pun, untuk alasan apa pun jika berani merebut Rani dari ku maka … matilah." Alfred menginjak-injak kepala tetua agung, setelahnya ia menari kegirangan.
Tidak lama kemudian 3 pilar dunia atas yang baru datang untuk menemuinya, Alfred dalam sekejab mata langsung kembali tenang untuk menjaga reputasi terhormat didepan mereka.
"Kalian bertiga, apa tugas kalian sudah selesai?" tanya Alfred melirik mereka yang tertunduk.
Stella sebagai dewi kecantikan mendongkak seraya menjawab, "Hari ini pun anda sangat tampan. Ketampanan dari wajah anda atau dari dalam hati anda adalah anugerah terindah untuk saya. Cepatlah! jadikan diri saya sebagai milik an … umph."
Yohan sebagai dewa pendidikan menyumbat mulut Stella dengan sapu tangan, "Tugas dari anda sudah selesai. Kami tidak membunuh siapa pun dari mereka. Namun kami telah membuat kerusakan besar, dengan begini maka mereka akan kembali patuh pada anda."
"Seperti yang diharapkan dari dewa pendidik memiliki kecerdasan luar biasa. Kau mengubah rencana ku menjadi sangat sempurna, mereka jika dibunuh akan sangat disayangkan karena masih berguna. Akan tetapi, itu bukan berarti kau lebih bijak dari ku jadi jangan besar kepala," balas Alfred.
"Saya tidak berani," jawab Yohan.
"Ya ampun. Kau masih saja tidak sabaran rupanya. Aku tidak suka saat ada yang berani menentang ku, jika sudah ku putuskan maka kau patuhi saja. Paham kan?" Alfred mendekati wajah Robin dengan tatapan tajam.
"Baik," jawab Robin menghindari kontak mata dengan Alfred.
"Elena itu wanita yang bagaimana yah, kenapa mereka sangat melindunginya? di mana kau Elena? tunjukan diri mu agar aku bisa mencincang tubuh mu secepatnya," batin Alfred kembali menggila.
*****
Daratan agung berduka dua kali pada hari yang sama, banyak murid menangisi kematian tetua agung dan banyak juga rakyat daratan menangis karena kehilangan tempat tinggal mereka.
Para bintang agung saling berpelukan dan menangis, terutama Kavana. Dari semua orang dia terlihat sangat menderita karena kematian orang yang sangat dia kagumi.
Ditengah kesedihan, kesakitan, dan ketidak berdayaan banyak orang Elena tiba-tiba menghilang. Tangisan orang-orang hari ini melukai hatinya, ia mengutuk Alfred habis-habisan atas semua kejadian hari ini.
Elena pergi ke dunia bawah dengan Hydra sebagai pemandunya, tapi sebelum itu ia masuk ke dalam hutan untuk memanggil semua kontraktornya.
"Kalian sudah tahu apa yang terjadi dan kenyataannya kan?" tanya Elena pada mereka semua. Namun mereka diam saja, bahkan ada yang menghindari tatapan Elena.
"Aku tidak akan memaksa kalian. Kalian akan … tidak, bukan itu. Kalian harus memilih," desak Elena, ia sedang mengejar waktu.
"Kami akan mengikuti nona selamanya." Para kesatria telah memilih tetap bersama Elena.
"Saya juga." Penguasa Elena serempak menjawab dengan tegas walau pun mata mereka berair.
Para Valkyrie masih diam, terlihat jelas dari raut wajah mereka mengalami dilema. Elena tidak mau menyusahkan mereka maka dia akan mempermudah segalanya.
"Kontrak, dilepaskan." Elena menghancurkan rantai kontrak yang mengikat jantung mereka.
Valkyrie menyentuh dada mereka saat mereka terhentak, ada rasa sakit didada mereka karena kontrak dilepaskan tanpa keinginan mereka.
"Terima kasih untuk semua yang kalian berikan pada ku, kebersamaan dengan kalian sangat indah dan berkesan untukku. Mari bertemu suatu hari nanti sebagai teman. Sampai jumpa." Elena tersenyum kemudian ia berlari meninggalkan mereka dan para kontraktor Elena kembali ke dalam tubuhnya.
"Nona …." Sekilas Brunhilde melihat Elena meneteskan airmata saat berlari meninggalkan mereka.
"Kakak." Elsa yang paling tenang, kini menangis memeluk Brunhilde, "Tidak, aku tidak mau. Ayo kembali pada nona, ku mohon."
Melihat Elsa menangis para Valkyrie lain tidak bisa menahan diri mereka untuk menangis, mereka berpelukan satu sama lain agar kesedihan mereka mampu tertahan.
"Aku juga tidak mau ini. Aku harus apa? bagaimana? kita dan nona berada di dunia yang berbeda, kakak tertua kita tidak akan setuju dengan ini. Aku tidak mau mengkhianati siapa pun," teriak Brunhilde dalam isak tangisnya.
Dewa perang yang sedang bekerja tiba-tiba merasakan sesak yang amat dalam dihatinya, "Apa ini? kenapa saudari ku bersedih sampai seperti ini? Ada yang aneh."
******
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘