
Keesokan harinya Ernest lega karena akhirnya ia bisa membujuk Sonia untuk tetap bersamanya, walau pun demikian ia masih merasa sedih karena kehilangan bayi yang sudah ia nantikan kelahirannya.
"Woah. Gila, ini benar-benar gila."
"Inilah akibat yang akan mereka rasakan jika berani pada pangeran kita, cih! mereka pikir mereka siapa."
"Aku semakin kagum pada pangeran, demi wanitanya ia rela mengambil risiko besar."
Mendengar percakapan para ahli ramuan yang membaca surat kabar Ernest jadi penasaran, ia pun mengambil surat kabar lain dan membaca berita di sana.
"Menghina tunangan pangeran, pangeran dan putri timur di kirim pulang dalam keadaan kacau. Tunangan pangeran yang mana?" batin Ernest kebingungan.
Kring!
"Selamat datang," sapa penerima tamu saat pintu rumah sakit terbuka, dan masuklah Liana.
"Aku ingin membeli beberapa salep yang sering di gunakan dalam berburu, agar tidak terkena gigitan nyamuk sekaligus salep penghilang bekas luka. Apa ada?" tanya Liana.
"Liana," panggil Louis ia berjalan masuk dengan Elena, "Ramuan pemulihan juga."
"E-Elena." Ernest terkejut melihat Elena masuk bersama dengan Louis, ketiganya memakai pakaian khusus untuk berburu dan Elena terlihat sangat cantik dengan pakaian itu serta rambut yang di kuncir.
Beberapa saat yang lalu
Sekembalinya dari gerbang ibu kota Louis duduk diam di ruang kerjanya, Fil tidak mengajaknya bicara karena setelah kejadian itu Louis masih butuh waktu sendiri. Luca juga berniat menghibur sang kakak. Namun ia tidak bisa karena pekerjaannya sebagai putra mahkota sangat banyak, ia harus menangani keluhan dari para pendukungnya tentang banyak hal.
Satu-satunya orang yang bisa meluangkan waktu untuk Louis hanyalah Vanessa, Vanessa sudah menyiapkan rencana bagus agar Louis tidak terus menerus duduk diam di dalam ruang kerjanya.
"Mau teh?" tanya Vanessa sekedar basa-basi. Begitu Louis melihat Vanessa ia tersenyum, dan mempersilakan sang ibu duduk di dekatnya.
"Maafkan aku karena tidak sadar ibu datang. Hari ini pekerjaan ku tidak terlalu banyak, jadi aku bersantai. Apa ibu mau minum teh bersama?"
"Minum teh bersama itu bukan gaya mu. Lagi pula ini masih terlalu pagi udara juga masih sedikit dingin, jadi kita bicara saja. Apa yang sedang kau pikirkan?"
"Tidak ada, aku tidak memikirkan apa pun. Mungkin."
"Kenapa? apa kau merasa bersalah?"
"Fil mengatakan itu pada ibu lagi?"
"Ibu yang bertanya padanya. Apa yang terjadi semalam itu bukan salah mu, kau tidak harus menghukum diri mu untuk itu. Ibu merasa Elena juga akan semakin benci pada mu jika kau merasa demikian."
"Mau bagaimana lagi. Aku tertekan karena mendengar Elena mencintai 2 pria sekaligus, rasanya aku tidak punya tenaga untuk melakukan apa pun. Jika saja aku tidak tertekan dan datang ke perjamuan itu jauh lebih awal maka apa yang terjadi tidak akan terjadi."
"Lupakan saja. Semua yang terjadi adalah kehendak dari yang kuasa. Dari pada kau menghela nafas di sini, pergilah ke Kediaman Abraham hari ini ada acara berburu. Elena mengirimkan undangan untuk mu, mau kan?" tanya Vanessa dengan tatapan memelas. Louis tersenyum dan langsung memeluk sang ibu.
*****
"Er … eh!" Sonia mengerutkan keningnya saat melihat tatapan terkejut dari Ernest, ia pun mengikut arah pandang Ernest yang tertuju pada Elena.
"Ke-kenapa bisa?" batin Sonia menatap keduanya secara bergantian.
Mendadak Ernest langsung berdiri dan mendekati Elena bersama yang lain, sebelum itu terjadi Sonia sengaja menjatuhkan diri sampai berteriak kesakitan. Teriakan itu membuat perhatian Ernest teralihkan, dia pun spontan berlari ke arah Sonia.
Ernest membantu Sonia berdiri, raut wajahnya terlihat sangat khawatir saat itu. Sonia tidak sadar jika teriakan itu membuat Elena ikut mendekatinya.
"Ah! ternyata benar, itu suara mu rupanya," ucap Elena. Sonia menatapnya dengan tatapan tajam, sedangkan Ernest membeku di tempatnya.
"Sial! kenapa dia malah ke mari, seharusnya dia pergi dari sini. Sia-sia saja rencana ku," batin Sonia meremas pakaiannya.
"Lama tidak bertemu, Ernest. Apa kabar?" tanya Elena beralih pada Ernest. Ernest diam selama beberapa saat dan ketika dia ingin bicara Louis datang mengajak Elena pergi. Elena pun pamit kepada keduanya kemudian pergi bersama Louis serta Liana.
"Aku akan pergi mengambil ramuan," ucap Ernest beranjak meninggalkan Sonia.
"Sial! dengan susah payah aku berhasil membuat dia tunduk pada ku, lalu sekarang semua kacau saat dia muncul. Jika hati Ernest berpaling pada Elena lagi maka aku harus menggunakan rencana awal. Tapi aku tidak bisa buru-buru, kita akan lihat situasinya dulu sebelum memilih rencana mana yang harus aku ambil," batin Sonia frustasi.
"Kau membuat rencana untuk menjauhkan aku dari kediaman ku sendiri." Jovanka muncul dari tempat persembunyiannya, "Sekarang aku gunakan rencana terbesar ku untuk menjauhkan kau dari Ernest."
"Sayang sekali, bibi. Ernest tidak akan semudah itu jauh dari ku, aku akan perlihatkan pada mu siapa Sonia sebenarnya," tegas Sonia. Ia tidak mau kecemasannya terlihat oleh Jovanka.
"Tidak tahu malu," ejek Sarah keluar dari tempat yang sama dengan Jovanka, "Kau ingin sekali berada di sisi Ernest bukan karena cinta rupanya. Tapi karena kau terobsesi dengan kekuasan, kau sampai tega membuat seorang anak dan ibu terpisah."
"Lalu kau sendiri kenapa kau ada di sini? ah! aku tahu. Wanita tua ini sengaja membawa mu ke mari untuk menentang ku, berapa banhak dia membayar jasa mu untuk itu?" tanya Sonia membuat Sarah merasa tidak nyaman dengan ucapan buruk dari Sonia, padahal dulu Sonia tidak seburuk ini.
"Setelah sembuh kau akan ikut pulang dengan ku. Sudah cukup kau tinggal bersama orang lain dan menghancurkan keluarga mereka, jika kau berani menolak maka aku akan mengatakan pada Ernest jika kau sengaja menjebak nyonya besar karena ingin dia di usir oleh putranya," ancam Sarah yang mendapatkan tawa dari Sonia.
"Lucu sekali kau berani mengancam ku. Kakak kau itu sadarlah, mau kau jungkir balik menjelaskan segalanya pada Ernest dia tidak akan percaya. Karena dia kenal betul seperti apa ibunya itu, dia bahkan tidak akan tertarik pada Elena lagi. Tadi itu dia hanya terkejut saja, jadi berhentilah bermimpi memisahkan kami. Kakak pulang saja dan bibi sebaiknya kau pergi berkemas," ucap Sonia seraya berlalu dari hadapan mereka.
Jovanka yakin Sonia sebenarnya merasa tidak aman setelah melihat Elena. Namun Jovankan kenal baik sonia itu wanita yang seperti apa, dia sangat baik dalam menyembunyikan banyak hal. Untuk saat ini Jovanka akan menggunakan Sarah sebagai alat menekan Sonia, Jovanka tahu keberadaan Sarah akan sangat membantu.
Jovanka sudah membuat rencana akan membuat Ernest dekat lagi dengan Elena, agar Ernest jauh dari Sonia untuk selamanya.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘