The Second Chance To Change Destiny.

The Second Chance To Change Destiny.
Bab 54 Keluar dari Daratan Agung.



Liliana duduk menyulam nama Elena di gaun yang baru saja ia buat, sudah lama Liliana tidak melihat wajah anak perempuannya dan itu membuat dia sangat merindukan Elena.


Melihat itu Austin merasa sayang karena biasanya Liliana akan bersenda gurau dengan Elena sebelum tidur, kini adegan hangat itu ada tidak lagi. Bahkan kehadiran Qinthia di kediaman mereka sebagai menantu setelah menikah dengan Aaron tetap tidak bisa menggantikan sosok Elena.


"Letakan dulu alat jahitnya, ini sudah waktunya tidur," ucap Austin menyentuh pundak Liliana.


"Sebentar lagi akan selesai, aku selesaikan dulu baru aku akan tidur. Jika kau lelah maka tidurlah lebih dulu," jawab Liliana.


"Kalau aku tidur nanti kau hanya sendirian di sini." Austin berpindah tempat dan duduk di samping Liliana, "Aku akan menemani mu."


"Menurut mu, kapan Elena kita akan pulang?"


"Entahlah aku tidak tahu. Aku hanya tahu di mana pun dia berada dia masih putri kita dan akan kembali pada kita."


"Carlos, kapan dia kembali? kirim saja surat padanya jika dia tidak bisa menemukan Elena atau Louis maka minta dia untuk kembali. Kediaman ini menjadi lebih sepi tanpa dia."


"Ya, akan aku kirimkan."


"Tolong ambilkan benang hitamnya," pinta Liliana menunjuk tempat benang di dekat Austin, Austin dengan senang hati mengambilkannya untuk Liliana.


*****


Dengan bantuan Slyph Elena akhirnya selesai merapikan semua barangnya, ia adalah murid kelas 1 pertama yang tidak naik kelas 2. Tapi langsung menjadi murid bagian dalam menara, banyak anak kelas dua yang iri dengannya. Sayang sekali mereka tidak bisa berbuata atau mengatakan apa-apa setelah melihat kekuatan Elena.


Sebelum masuk semua murid harus membuat kartu nama baru, dan kartu itu harus dijaga dengan baik agar tidak hilang karena jika hilang maka murid bagian dalam tidak bisa lagi keluar masuk area menara tanpa izin ketua pavilliun.


Untuk murid pemanggil mereka berbeda dengan murid lain, jika murid bagian dalam lain dibedakan dengan warna jubah serta simbol pada jubah mereka. Maka murid pemanggil berbeda karena salah satu dari familiar mereka harus berada di sisi mereka setiap saat sebagai tanda pengenal jika mereka adalah murid pemanggil.


"Lihat Slyph. Bagus tidak?" tanya Elena memamerkan kartu identitasnya pada Slyph.


"Nona, lihat!" bukannya menjawab Slyph malah mengalihkan pembicaraan dengan menunjuk Louis. 


"Aku tau saat ini aku tidak bisa bergantung pada siapa pun, aku tidak butuh bantuan siapa pun. Tapi dia adalah Gotu, kebaikan yang selama ini Gotu berikan pada ku tidak pernah dia mintai balasannya. Aku bingung kenapa liotin itu tidak kembali pada ku, sayangnya untuk saat ini itu tidaklah penting karena aku tidak mau kehilangan teman sebaik Gotu. Dan mungkin saja Gotu terlibat dalam insiden kembalinya aku ke masa lalu", batin Elena menatap Louis selama beberapa saat.


Saat Elena melihat Louis baru selesai mendaftar ia berinisiatif mendekatinya, tentu saja kedatangan Elena menjadi kesenangan tersendiri untuk Louis.


"Maaf," ucap Elena tanpa basa-basi.


"Maaf untuk apa? kau kan …."


"Jangan bertindak bodoh seolah kau tidak menghindari ku selama ini," potong Elena.


"Aku bukan menghindari mu, melainkan menjaga jarak dari mu. Kau sendiri yang bilang bukan, kau tidak butuh bantuan siapa pun."


"Ya. Itu memang benar. Tapi aku tidak berkata kau tidak boleh jadi teman ku atau aku tidak butuh teman, dulu itu kau sangat menganggu ku karena kau selalu mengatakan aku harus memanfaatkan mu demi keuntungan ku. Apa aku serendah itu di mata mu? aku hanya tidak suka saja bukan berarti aku membenci mu. Jangankan memanfaatkan seorang pria aku bahkan tidak mau berpikir sampai ingin bergantung pada siapa pun."


"Itu bukan pilihan yang bijak. Jika menjadi bekas kekasih Ernest saja tidak ada pria yang mau melamar ku, maka jika menjadi tunangan bekas seorang pangeran maka pria mana lagi yang mau melirik ku."


"Jadi kau tidak keberatan menjadi tunangan ku?"


"Untuk saat ini mungkin tidak. Suatu saat nanti keputusan ku bisa saja berubah, aku juga tidak mau terlalu lama berada diposisi yang tidak aku inginkan. Seandainya aku menjadi tunangan mu terlalu lama, kau bisa menikah di usia tua nanti."


"Lalu bagaimana dengan mu? usia ku mungkin sudah tua saat itu, sedangkan usia mu tidak muda lagi."


"Maka aku tidak akan menikah, selamanya," jawab Elena dengan santainya seolah dia tidak merasakan apa pun, berbeda dengan Louis yang hidupnya hanya terpaku pada Elena.


"Ayo masuk," ajak Elena pada Louis saat pintu gerbang sudah di buka.


Baru saja melangkahkan kaki di halaman utama menara Elena langsung terpikat dengan keindahan tempat ini, tempat yang sangat berbeda dengan bagian luar. Elena tidak percaya ia akan menginjakan kaki di halaman ini.


"Irene." Liana melambaikan tangan pada Elena dari kejauhan, untuk saat ini ia tidak bisa mendekati Elena karena bisa saja ia terpisah dari rombongannya.


Para murid disambut dengan sangat baik, dan langsung ke pavilliun mereka masing-masing. Sesampainya di sana Elena masih saja terpikat akan keindahan halaman Pavilliun, yang mengalahkan indahnya halaman istana permaisyuri.


Bukan hanya itu saja asrama juga sangat mewah, satu murid mendapatkan satu kamar tanpa harus berbagai dengan siapa pun. Sungguh perlakuan khusus. Sayangnya para murid baru hanya bisa meletakan barang mereka di kamar itu, mereka mendapatkan liburan selama 3 bulan untuk kembali ke kediaman masing-masing karena setelah libur itu semua murid bagian dalam tidak akan mendapatkan izin keluar dari Daratan Agung walau apa pun yang terjadi selama 7 tahun lamanya.


Elena sebenarnya tidak mau pergi. Tapi mengingat Liana mungkin ingin pergi keluar, maka Elena memutuskan untuk pergi dan benar saja Liana telah menunggunya di depan gerbang. Wanita itu sudah sangat merindukan adiknya.


"Elena," panggil Louis sebelum Elena dan Liana pergi.


"Ada apa?" tanya Elena pada Louis.


"Kau mau kembali ke ibukota?" 


"Ya. Tapi tidak sekarang, jika kau akan kembali maka kembalilah lebih dulu. Aku akan menemui mu saat aku di tiba di ibu kota."


"Janji?"


"Aku berjanji. Kita sekarang teman kan?"


"Ya. Sampai jumpa nanti." Louis melambaikan tangan pada Elena dan kembali lagi ke dalam. Dalam perjalanan kembali ke asrama, Louis tidak berhenti tersenyum karena hubungannya dengan Elena sekarang sudah dekat.


Lalu kedua wanita itu juga pergi keluar dari Daratan Agung menuju akademik kesatria, Elena berniat menjemput Leon serta Elios dan membawa mereka ke ibukota. Mereka sekarang adalah keluarga bagi Elena maka ia harus memperkenalkan mereka kepada keluarga yang lain, entah bagaimana reaksi keluarganya nanti Elena tidak peduli karena ia yakin kedua orang tuanya tidak akan menolak keluarga baru Elena setelah tau sepenting apa mereka untuknya.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘