The Second Chance To Change Destiny.

The Second Chance To Change Destiny.
Bab 48 Surat pertama dari Leon dan Elios.



"Kau mau tau aku bawa apa?" tanya Liana membuat Elena penasaran.


"Apa memangnya yang kau bawa?" tanya Elena.


"Jeng jeng jeng jeng." Liana menunjukan 2 surat dengan stempel Akademik Kesatria.


"Surat dari mereka?" Elena tersenyum bahagia bahkan ia menjadi sangat antusias. 


Karena keduanya tidak sabar jadi Liana dengan cepat membuka amplop suratnya, pertama ia membacakan surat dari Leon yang di penuhi banyak cinta lalu ia membaca surat Elios yang terlalu banyak keluhan tentang Leon.


"Mereka manis sekali." Elena merasa sangat terharu mendapatkan surat dari keduanya.


"Semua ini berkat mu. Selama ini aku hanya bisa melihat orang bahagia menerima surat, aku bingung kenapa mereka sangat bahagia hanya karena sepucuk surat. Dan sekarang aku sadar jika seseorang yang kita sayangi berada jauh dari kita, maka menerima surat dari mereka adalah hal terindah. Aku merasa baik aku, Leon, atau Elios beruntung punya kau sebagai keluarga kami. Terima kasih Elena kau adik dan kakak yang baik," tutur Liana memeluk Elena.


"Tunggu!" Brianna menyela pembicaraan mereka, "Apa kalian bersaudara?"


Liana menatap Elena dan tersenyum, "Kami tidak bersaudara. Kami adalah keluarga, dia adalah adik ku dan seorang kakak."


"Apa seperti itu juga bisa?"


"Saudara mungkin sedarah. Tapi tidak dengan keluarga, siapa pun bisa menjadi keluarga termasuk kami berdua," jawab Liana.


Brianna menatap Liana untuk memahami apa yang ia katakan. Namun Benton menariknya menjauh karena bukan hanya Brianna, Benton juga tidak mengerti apa yang Liana katakan. Karena sepengetahuan mereka siapa saja juga bisa menjadi saudara.


"Ah! satu lagi ini tentang festival panen, apa kau mau pergi bersama ku?" tanya Liana pada Elena, Elena hanya menjawab dengan gelengan kepala.


"Tapi kenapa?" tanya Liana lagi.


"Kau pergilah dan nikmati waktu mu. jika aku akan pergi maka kita akan bertemu jika tidak yah jangan menunggu aku," jawab Elena ia berdiri lalu menarik Liana ke depan pintu masuk halaman belakang.


"Sampai jumpa lagi. Kau harus pergi karena pekerjaan ku sangat banyak." Elena mendorong pelan Liana keluar dan menutup pintu dari dalam.


"Dia pasti akan mendapatkan teman baru," batin Elena, ia kembali pada rekannya lalu melajutkan pekerjaan yang sempat tertunda 2 kali.


*****


Kabar adanya reinkarnasi penguasa monster akhirnya sampai ke telinga Raja Iblis, 4 pilar Raja Iblis mengatakan semua itu langsung padanya.


"Hahahaha. Reinkarnasi katanya? lucu sekali. Bagaimana menurut mu Blake apa kau ingin ayah jodohkan dengan reinkarnasi itu? katanya dia perempuan yang cantik," ucap Baal, dia adalah Raja Iblis sekaligus ayah dari Blake.


"Jangan memandang remeh kabar konyol ayahanda. Kita pernah hampir jatuh karena meremehkan kabar yang sama, aku sendiri ingin melihat reinkarnasi itu. Bukan di jodohkan, aku tertarik dengan orang yang kuat," jawab Blake, Ia pria yang terkenal dingin.


"Benarkah?" Alma putri Raja Iblis masuk sambil membawa payungnya, "Apa dia lebih cantik dari Alma? jika iya maka kita harus menyingkirkannya."


"Tapi sekarang reinkarnasi itu ada di daratan suci, bagaimana kita bisa melihatnya? bahkan keempat pilar ku saja hanya bisa mendengar tentangnya. Keberadaan kita sulit di tutupi di dunia manusia. Lupakan saja tentang bertemu dengannya," ucap Baal mendapatkan tatapan tajam dari Blake.


"Jika dia benar-benar reinkarnasi penguasa monster, atau raja para monster. Ayahanda harus menjalin hubungan baik dengannya, 3 raja dunia bawah tidak bisa memiliki hubungan buruk," jawab Blake.


"Lalu apa menurut mu dewa kematian yang merupakan salah satu dari raja dunia bawah, mau berpihak pada kita? dia adalah dewa, hatinya ada di dunia atas walau pun dia tinggal di dunia bawah. Apalagi para familiarnya suka sekali mencari masalah dengan kita. Sialnya pertarungan ku dengan serigala neraka malah seri kemarin."


"Jangan pikirkan itu. Pikirkanlah masa depan kita, dewa kematian tidak bisa naik ke dunia atas jadi dia akan selamanya di dunia bawah. Perang ratusan tahun lalu, apa dia berada di pihak para dewa? tidak kan? jadi apa salahnya menjalin hubungan baik. Terutama dengan penguasa monster, lupakan tentang familiar dewa kematian. Karena familiar itu pernah tunduk di hadapan raja para monster."


"Pembicaraan politik lagi. Alma tidak tertarik, Alma jauh lebih tertarik pada wanitanya. Dia tidak bisa lebih cantik dari Alma kalau pun iya maka Alma akan menguliti kulit wajahnya lalu akan Alma pakai sebagai wajah baru Alma. Alma memang cerdas," batin Alma yang sibuk dengan dunianya sendiri. Sementara perdebatan antara ayah dan putranya terus berlanjut selama berjam-jam.


*****


Keesokan harinya saat sonia datang Ernest langsung memperkenalkan Sonia pada Galen. Melihat wajah tampan Galen dan Kenzi membuat Sonia lupa pada Ernest, ketampanan keduanya memang sangat memikat. Setelah memperkenalkan Sonia pada mereka, Ernest pamit karena dia harus menyelesaikan banyak pekerjaan sebelum hari pertunangan tiba.


"Nona Sonia sudah berapa lama mengenal Nona Elena?" tanya Galen memulai topik pembicaraan.


"Sudah cukup lama. Elena adalah gadis yang baik, aku pikir sebagai teman aku sudah mengerti semua tentangnya. Tapi entah kenapa malam itu dia sangat kesal, biasanya kemana pun dia akan pergi dengan Ernest dia selalu membawa ku lalu malam itu dia cemburu tanpa sebab. Buruknya lagi dia malah mengabaikan Ernest selama 4 tahun, sampai melarikan diri entah ke mana lalu bertunangan dengan pria lain," jawab Sonia dengan raut wajah sedih.


"Melarikan dirinya apanya, jelas tertulis dalam surat kabar langsung dari istana permaysuri jika Nona Elena pergi menenangkan diri. Lalu di hari pertunangan itu dia bahkan tidak hadir, Galen tau itu semoga saja dia tidak berpikir sempit," batin Kenzi yang menahan diri untuk tidak bicara.


"Benarkah? sedekat apa kalian? saya tidak bermaksud lain, karena pada umumnya sahabat memiliki kalung persahabatan atau sejenisnya," ucap Galen penasaran.


"Ini. Kami punya sepasang liotin berisi foto bersama, silakan lihat." Sonia memberikan liontin itu pada Galen, Galen menerima liotin Kenzi juga ikut melihat.


"Di-dia kan …." Galen terkejut sampai bola matanya membulat sempurna melihat siapa wanita dalam foto itu.


Ingatan mereka tentang Irene yang pemarah pada pertemuan pertama dengannya, lrene yang sibuk membuatkan ramuan untuk Galen saat penyakit Galen kambuh, Irene yang menasehati Galen tentang persahabatan, dan Irene yang menatap mereka berdua dengan tatapan tajam saat itu kembali muncul dalam pikiran keduanya. 


"Apa Nona Elena punya nama samaran atau sejenisnya?" tanya Kenzi pada Sonia. Ia memastikan semuanya agar lebih jelas.


"Ya. Dia pernah menyamar dalam akademik dengan nama Irene Castiello," jawab Sonia yang membuat keduanya sangat terguncang.


Galen merasa malu karena ia telah membicarakan hal buruk tentang Elena tepat di depan orangnya sendiri, sedangkan Kenzi menyesal karena tidak mengenali Elena dengan baik bahkan setelah ia melihat wajah Elena dalam surat kabar.


Setelah terdiam selama beberapa saat Galen mengembalikan liotin itu pada Sonia lalu ia pergi begitu saja tanpa mengatakan apa pun, sedangkan Kenzi setia mengikutinya dari belakang.


******


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘