The Second Chance To Change Destiny.

The Second Chance To Change Destiny.
Bab 118 Akhir dan pertemuan.



Alfred menghela nafas pelan lalu ia menarik dengan lembut beberapa helai rambut Elena yang terurai, "Kau sangat baik. Hati mu begitu mirip seperti Rani, bagi ku dengan adanya diri mu maka Jolycia tidak penting lagi."


"Apa anda tidak mendengar apa yang saya katakan?" teriak Elena.


Alfred langsung menjambak rambut Elena membuat Elena meringis kesakitan, "Rani tidak pernah berteriak. Diamlah!"


"Kau sangat peduli dengan para  manusia itu kan? apa yang bisa mereka lakukan untuk mu saat mereka sendiri merangkak untuk mendekati ku, dan semua bukti kejahatan ku ini hanya perlu satu kata penyangkalan mereka akan langsung percaya," ucap Alfred. Ia tidak tahu dirinya sedang diawasi.


"Lepaskan Elena, lepaskan Elena, lepaskan Elena." Semua orang yang melihat rekaman itu bersorak untuk Elena.


Ignatius keluar dari dalam lingkaran pemanggil, ia memegang tangan Alfred dan membakarnya. Seiringan dengan itu semua kontraktor Elena keluar.


"Jangan sentuh nona kami," teriak Ignatius.


"Kekuatan Elemen, api keabadian." Ignatius melempar kobaran api yang besar sangat ke arah Alfred. Kesatria kegelapan juga mengayunkan pedang mereka secara bersamaan, menerobos api Ignatius yang panas.


"Peluru batu." Admon dengan peluru batunya untuk membantu penyerangan tersebut.


Elena diam-diam menggunakan kekuatan gelap, lubang pemusnah itu muncul dibawah kaki Alfred dan menahan kakinya agar tidak bisa bergerak.


"Membosankan. Hancurkan semuanya." Alfred hanya sekali mengayunkan tangannya, api Ignatius padam, para kesatria terhempas, dan peluru batu Admon malah berbalik padanya. Salah satu peluru batu itu melukai wajah Elena.


"Siapa yang menyentuh ku dengan kekuatan kotor." Alfred dengan mudah keluar dari lubang buatan Elena.


"Elena, wajahmu." Alfred cemas melihat darah di wajah Elena.


"Penyembuhan ringan." Alfred menyembuhkan luka pada wajah Elena, "Aku baik kan? aku peduli pada mu, tidak mau kau tersakiti.  Apa kurangnya aku?"


"Gawat! bahkan kekuatan ku tidak cukup untuk menyakitinya," batin Elena, semua berjalan tidak sesuai rencana.


"Kekang." Alfred menggunakan kekuatannya untuk merantai Elena, Elena tidak bisa berbuat apa-apa kali ini.


"Mereka akan aku kirim pulang untuk mu." Alfred menginjak Admon, Ignatius, dan para kesatria sampai hancur. Mereka tidak akan bisa kembali walau pun Elena memanggil sampai kekuatan mereka pulih.


"Baiklah, sekarang hanya ada kita berdua. Elena ku sa …." Alfred menggantung ucapannya saat melihat cincin dijari manis Elena. Ia meraih tangan Elena dengan kasar, "Apa ini? kau sudah menikah? atau bertunangan? dengan siapa? pria mana yang berani melirik wanita ku?"


"Wanita mu? jangan besar kepala dulu, Alfred." Elena kehilangan semua rasa hormatnya pada Alfred, "Aku adalah wanita pemilik pasangan cincin ini, aku hanya mencintai dia seumur hidup ku. Kau tahu kenapa? karena dia bukan pria sakit jiwa seperti mu."


Amarah Alfred memuncak, ia menarik tangan Elena dan melepaskan cincin itu secara paksa. Namun usahanya sia-sia, cincin itu tidak bisa lepas karena sudah disematkan selama bertahun-tahun.


"Ini akan sedikit sakit. Bertahanlah." Alfred memotong jari manis Elena, seketika teriakan kesakitan keluar dari mulut Elena.


"Jangan lihat." Arthur menyembunyikan wajah Sonia dalam pelukannya, ekspresi kesal dan kecewa karena tidak bisa membantu Elena tersirat dari wajah semua orang termasuk Arthur.


Alfred tersenyum senang saat melepaskan cincin pertunangan Elena dari jari itu, ia melempar cincin itu ke dalam perapian.


"Kau menangis Elena? maafkan aku." Alfred memeluk Elena lalu dalam sekejab jarinya yang tadi hilang kini pulih kembali. Alfred menunjukan jarinya pada Elena, "Lihat sudah pulih, sayang."


"Alfred. Matilah kau," gumam Elena. Elena mengalami kebangkitan kekuatan gelap. Ia sepenuhnya menjadi orang yang berbeda.


Elena melepaskan kristal rekaman pada pakaiannya dan membuang itu sampai hancur, rekaman untuk di lihat orang lain sudah hilang sampai tidak ada yang bisa diperlihatkan lagi. Kekuatan Elena menjadi berlipat ganda, ia menggila saat menyerang Alfred. Kuku panjangnya dijadikan sebagai senjata.


"Tenanglah, sayang." Alfred tidak bisa menangani serangan Elena.


"Hahahahah, ini menyenangkan. Lagi lagi lagi, serang lagi. Hahahaha." Elena sangat menikmati setiap serangan yang ia luncurkan.


Jleb!


"Ini berdarah." Elena mencabut tangannya lalu menjilati darah Alfred yang mengalir pada kukunya.


"Sialan!" Alfred kesal karena lukanya beregenerasi sangat lambat, karena kekuatan serangan Elena.


"Aku mau lagi. Ini enak." Elena menusuk Alfred lagi, lalu membakar tubuh Alfred dengan api kegelapan.


"Kau ternyata adalah putri Alden yang asli, pantas saja kau mirip Rani. Beraninya kau menipu ku." Alfred memotong tangan Elena. Tapi tidak sepertinya, regenerasi Elena berjalan dengan cepat.


"Ini buruk. Kekuatan keturunan Alden dan Rani, sangat buruk. Cari akal atau kau akan mati di sini," batin Alfred. Ia telah mendapatkan luka sangat parah.


"Kegelapan tidak berujung, datanglah. Aku memanggil mu." Elena mendatangkan kekuatan terbesar penguasa dunia bawah, kekuatan yang tidak bisa dikendalikan oleh salah satu penguasa dunia bawah selama ini.


Sebuah pintu besar berwarna hitam yang dijaga oleh 2 Simaniar, Simaniar adalah pelayan paling setia dewi kegelapan. Jika pintu dibuka oleh orang yang memanggilnya maka dia akan menelan siapa saja atau apa saja yang orang itu inginkan.


"Penggunaan hanya bisa sekali. Jadi anda harus …."


"Terimalah hadiah untuk mu dewi kegelapan, ingat untuk memakannya secara perlahan jangan sampai tersendak." Elena mendorong Alfred masuk ke dalam pintu itu, ia tidak mendengarkan apa yang para Simaniar katakan.


"Tolong aku," teriak Alfred. Elena hanya melambaikan tangan padanya. Tidak lama kemudian pintu tersebut menghilang.


"Nah sekarang, siapa lagi yang harus ku bunuh. Kesenangan ini masih belum cukup," ucap Elena. Kegilaan Elena ini tidak akan berakhir sampai hatinya puas.


"Elena." Alden memeluk Elena dari belakang seraya menutup kedua matanya, "Ingatlah siapa diri mu, kendalikan diri mu, sadarlah jika semuanya sudah berakhir. Elena, kembalilah."


"Siapa itu?" batin Elena, perlahan hatinya kembali tenang dan tertidur.


*****


Saat matanya terbuka Elena melihat Alden duduk di dekatnya, sementara ia terbaring dipangkuan Rani yang menyanyikan lagu tidur.


"Ibu," gumam Elena terdengar oleh keduanya.


Plak


Rani memukul paha Elena dengan keras, "Ya ampun, putri kecil ku sudah bangun. Bagaimana? apa tidur mu nyenyak?"


"Nyenyak apanya." Elena bangun kemudian duduk di dekat Alden, "Itu sangat sakit, apa tangan ibu terbuat dari besi? sakitnya."


"Astaga, kau manja sekali. Tangan selembut ini mana mungkin bisa menyakiti seseorang," ucap Alden membela Rani.


"Sayang, jangan begitu. Aku malu." Rani tersipu malu dan memukul punggung Alden sampai Alden berteriak kesakitan.


"Tangan lembut yah, lembut sekali. Walau di pukul 1000 kali seharusnya tidak masalah kan, lagi pula tidak berasa." ejek Elena.


"Lupakan tentang itu. Setelah ini kau akan bagaimana?" tanya Alden.


"Tentu saja memberikan Jolycia keluarganya kembali, meninggalkan dunia manusia, dan merawasi tahta ayah. Selama ini aku tidak mengenal kedua orang tua ku, jika saja tidak bertemu Damian hari itu di akademik mungkin selamanya aku tidak akan mengenal kalian. Sejak hari itu semuanya berubah, tidak seperti dulu lagi. Aku ha …."


"Kau tidak bahagia bukan?" potong Rani, "Kami mungkin orang tua mu, kau sekarang mengenal kami, lalu apa? setelah ini kami tidak bisa bertemu kau lagi, pada akhirnya jiwa yang mengembara akan kembali ke tempatnya."


******


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘