
Elena terdiam selama beberapa saat lalu ia berkata, "Aku tahu. Tapi aku tidak bisa bersikap egois lagi, ini semua adalah yang terbaik untuk aku dan Jolycia. Aku sudah merebut keluarganya, bahagia diatas penderitaannya, itu hal yang memalukan bagi ku."
"Yang terbaik belum tentu adalah keinginannya. Beberapa orang akan membuat kesalahan dengan berpikir, ini semua yang terbaik untuk kita padahal orang lain tidak menginginkan itu. Seperti kata Jolycia dulu, walau pun dia anak kandung dan kembali kepada keluarganya, akan kah keluarganya itu menyayangi dia sama seperti mereka sayang pada mu? dia sudah cukup menderita, berikan dia kebahagiaan Elena bukan yang terbaik," jelas Alden.
"Aku ingin kembali menjadi putri kalian, memberikan kalian hak menyebut ku putri. Itu …."
"Elena." Rani menyentuh pipi Elena, "Hak kami menyebut mu sebagai anak sudah terpenuhi saat kau tahu kebenaran tentang identitias mu. Kau putri kami, entah apa kata orang nanti itu tidak akan mengubah kenyataan seumur hidup kau bagian dari diri kami, permata terakhir yang kami tinggalkan. Akan tetapi, kami tidak merawat mu, membesarkan mu, atau mendidik mu. Keluarga Abraham melakukan itu semua untuk kami jadi mereka adalah keluarga mu, kau bisa mengunjungi kami dan kau tidak bisa meninggalkan salah satunya."
"Rani benar. Cobalah kau kembali dulu ke keluarga mu dan putuskan kembali apa kau bisa meninggalkan mereka atau tidak, jika kau putuskan untuk tetap bersama mereka maka minumlah ini" tambah Alden memberikan botol kecil berisi ramuan. Elena hanya mengangguk pelan lalu menerima botol itu.
"Ya ampun, sayang. Waktu kita sudah habis," ucap Rani memperlihatkan tangannya yang mulai memudar.
"Apa kalian akan pergi? kapan kita akan bertemu di sini lagi? aku …." Ucapan Elena terpotong saat Alden dan Rani memeluknya.
"Selamat tinggal Elena, kelak hiduplah dengan baik. Setelah hari ini kita tidak akan bisa bertemu lagi di ruang dimensi, kami harus kembali," bisik Rani.
"Mana mungkin." Elena terkulai lemas. Saat keduanya melepaskan pelukan mereka, mereka mengecup wajah Elena tanpa henti.
Waktu semakin menipis Alden dan Rani duduk dengan baik menatap Elena yang berkaca-kaca.
"Jangan menyusul kami ke atas terlalu cepat yah," goda Rani.
"Kembalilah jika kau sudah punya banyak anak dan cucu," tambah Alden.
"Itu sudah pasti," jawab Elena sambil tersenyum manis.
Saat jiwa Rani dan Alden benar-benar menghilang begitu juga dengan ruang dimensinya, tinggallah Elena duduk termenung sendiri di lantai ruangan Alfred.
Brak!
Ghaisan mendobrak pintu ruangan tersebut. Melihat Elena duduk dilantai ia pun bergegas menghampirinya, "Kau baik-baik saja? tadi pintu itu tersegel, aku bisa tidak masuk."
"Semuanya baik, Alfred menghilang jadi debu karena terbakar api Igntaius. Ayo kita kembali," ajak Elena.
Elena bersama dengan Ghaisan melangkah keluar dari kediaman Alfred, sesampainya di luar Ghaisan mengumumkan kematian Alfred. Para pelayan serta kesatria kediaman terkejut karena itu. Namun mereka tidak bisa melakukan apa pun, rekaman itu sudah di lihat banyak manusia bahkan jika mereka mencoba melakukan pembelaan terhadap majikannya maka mereka bisa di penggal.
"Memanggil Yoluta." Elena mengeluarkan Yoluta dari lingkaran pemanggil.
"Nona, anda baik-baik saja. Syukurlah." Yoluta sangat bahagia karena Elena tidak terluka parah.
"Itu jasad ibu. Makamkan disamping makam ayah, dan tolong sampaikan pada yang lainnya terima kasih dari ku. Aku akan kembali setelah pergi mengunjungi keluarga ku," ucap Elena. Ia pun pergi terlebih dulu dari semuanya untuk menemui keluarga Abraham
"Kau putri ibu kan? kenapa kau melakukan hal berbahaya seperti itu? bagaimana jika kau sampai terluka? ibu lebih baik tiada dari pada melihat semua kejadian tadi, Elena kau sudah janji tidak akan ke mana-mana atau meninggalkan ibu tanpa izin dulu. Kau berbohong, kau sudah berbohong," racau Liliana saat memeluk Elena.
Plak!
Austin memukul pelan pipi Elena, "Anak nakal, kau selalu saja bertindak tanpa berpikir. Kau anggap apa keluarga mu? berani sekali kau membuat istri ku menangis."
"Hentikan! putri ku baru kembali," kesal Liliana pada Austin.
"Syukurlah kau kembali dengan selamat," ucap Austin dengab raut wajah takut. Semua anggota keluarga Abraham merasa sangat bahagia dengan kembalinya Elena.
Saat itu juga terlintas dalam pikiran Elena jika dirinya memang menginginkan keluarga ini selamanya. Keesokan harinya Elena ingin pergi mengunjungi dunia bawah. Namun terlalu banyak tamu yang datang ke kediaman Abraham untuk melihat Elena, ada yang datang membawakan hadiah sambil menangis karena melihat rekaman semalam, tidak ada dari semua orang itu yang menyalahkan Elena.
Tamu jadi menipis yang datang setelah 7 hari, barulah Elena bisa keluar dari kediamannya. Saat dia sampai di dunia bawah, Elena terkejut mendapati semuanya sedang berlutut. mereka termasuk Hans, Blake, Baal, dan Alma harus menghadapi amarah Elios karena membuat rencana tanpa mengatakan apa pun padanya. Elena sendiri tidak terlewatkan oleh amarah Elios, semua amarah itu semata-mata karena Elios mencemaskan mereka semua yang nekad mengambil risiko dalam rencana tersebut.
Saat Elios mulai tenang mereka memberikannya pelayanan untuk mengurangi amarah, Elena sendiri pergi meninggalkan mereka dan mencari Jolycia. Kedua berbicara tentang keinginan hati masing-masing, namun seeprti sebelumnya keinginan Jolycia masih tetap sama, ia tidak mau kembali ke keluarga Abraham karena dia bersama Rafael telah mendapatkan izin dari Hans untuk kembali ke dunia bawah agar mewarisi tahta dewa dan dewi angin.
Pembicaraan itu tidak hanya melibatkan mereka berdua karena yang lainnya mendengar semua itu. Damian, Yoluta, serta Casey sebagai orang paling penting dalam Kerajaan Monster tidak mempermasalahkan Elena jika dia ingin tetap menjadi putri keluarga Abraham, lalu bicara soal tahta raja monster semua tetua serta rakyat kerajaan setuju jika Damian menjadi raja selanjutnya, Damian sendiri terkejut karena berita itu.
Keputusan sudah diambil dan disetujui oleh semua orang, maka yang terakhir adalah meminum ramuan pemberian Alden. Setelah meminum ramuan itu Elena merasa kesakitan selama beberapa menit, begitu rasa sakitnya reda tanda ular pada pundak Elena menghilang.
"Berikan pada ku!" Elios merebut botol ramuan itu dan menghirup bau yang keluar dari botol tersebut, "Astaga, mereka berdua itu memang gila."
"Ada apa? memangnya ramuan apa itu?" tanya Damian. Ia merebut botol dari Elios dan melakukan hal yang sama, "Bau ini … sepertinya tidak asing."
"Yah, itu bau ramuan buatan Alden. Jika ada monster yang ingin melepaskan diri darinya, maka mereka akan minum itu. Selamat Elena sekarang kau bisa hidup sebagai manusia biasa, kau tidak akan bisa menggunakan kekuatan gelap atau berubah menjadi monster. Selamat yah," ucap Alden diringi tepuk tangan meriah dari yang lain.
"Elena." Alma melompat ke dalam pelukan Elena, "Selamat yah, akhirnya kau bisa bahagia. Selamat Elena. Jadi kapan kau akan menginap di kediaman ku?"
Plak!
Elios memukul keras kepala Alma seraya berkata, "Dia sekarang harus banyak istirahat, tidak bisa menginap di dunia bawah terlalu lama atau keluarganya akan khawatir lagi."
"Maafkan aku," jawab Alma dengan wajah cemberut mengundang gelak tawa semua orang.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘