The Second Chance To Change Destiny.

The Second Chance To Change Destiny.
Bab 109 Sosok asli Alfred.



Sebelum Alfred turun dari kapalnya, Elios menarik Elena diam-diam turun dari atas arena dan membawanya ke tengah keramaian agar Alfred tidak sadar jika ada yang pergi.


"Cepatlah kakak." Elios berjalan semakin cepat, Elena sampai kewalahan mengikutinya.


"Bintang utama hari ini mau ke mana?" batin tetua agung melihat Elios membawa Elena pergi.


"Salam hormat untuk anda Raja Dewa Alfred, semoga anda selalu bahagia," ucap semua orang yang ada di sana kecuali tetua agung.


"Salam kalian diterima. Tapi aku sedang buru-buru, jadi aku perlu bantuan kalian untuk menemukan seseorang," jawab Alfred.


"Kami bersedia mencari orang itu untuk anda," jawab semuanya serentak.


"Bawa seorang murid bernama Elena Abraham ke hadapan ku," perintah Alfred.


Semua orang dari menara agung memasang raut wajah tidak senang saat mendengar nama Elena, berbeda dengan orang-orang bintang pertapa.


"Anda tidak perlu cemas, murid itu ada di …." penguasa menara pertapa terkejut saat melihat hanya ada Ahza diatas arena, "Di mana Elena?"


"Oh! dia menghilang rupanya," ucap Alfred menyeringai.


"Anda jangan cemas raja ku, kami akan mencari murid itu untuk anda. Itu sua …."


"Kata siapa kau bisa membawa murid tanpa izin dari gurunya?" tanya tetua agung membuat suasana menjadi hening.


"Apa yang anda katakan, tetua agung? anda harus merasa terhormat karena raja dewa kita mau menemui murid mu, beliau bahkan datang secara langsung," jawab tetua besar di setujui oleh tetua menara pertapa yang lain.


"Terhormat hanya karena dia? sayang sekali aku bukan orang-orang bodoh seperti kalian," balas tetua agung.


"Itu benar. Murid menara kami bukan murid sembarangan yang bisa dibawa dan dikembalikan sesuka hati siapa saja," tambah penguasa menara agung. Ia menyimpan dendam kepada para dewa yang mengabaikan surat darinya.


Alfred merasa terhibur karena setelah sekian lama akhirnya ada juga orang yang berani menentang perintahnya, walau pun itu adalah orang yang dulu pernah membencinya.


Alfred pun memutuskan untuk turun agar bisa bertatap muka dengan tetua agung.


"Lama tidak bertemu, Simon. Sikap kasar mu masih saja sama seperti 200 tahun lalu, sayangnya kau mulai keriput dan beruban," ejek Alfred.


"Mau bagaimana lagi? aku adalah pria sejati yang menghargai setiap inci dari tubuh ku, aku tidak seperti seseorang yang mengubah dirinya setiap tahun agar tetap terlihat tampan walau hidup sudah hampir 600 tahun. Buat apa kalau wajah tampan. Tapi otaknya bermasalah," balas tetua agung.


"Hahahaha, siapa orang itu?"


"Orang yang sedang aku tatap saat ini."


"Ah! aku mulai kesal dengan mu. Lupakan tentang itu! bawa murid mu ke mari dulu, setidaknya aku harus melihat seperti apa murid dari Simon."


"Bertemu murid ku yang luar biasa hebat, apa kau pantas?"


"Hahahahah, menarik. Kau adalah pria yang tergila-gila dengan ilusi, akan mengajarkan apa pada seorang pemanggil? bukankah kalian guru dan murid yang aneh."


"Kenyataannya memang begitu, tapi kau tidak harus peduli."


"Simon adalah pria yang hebat dan hampir menjadi seorang dewa, apa kata orang nanti jika murid dari orang itu hanyalah perempuan di level dasar? memalukan. Tapi aku tidak akan mengejeknya lagi, kau lebih baik jangan mengacau dan biarkan aku membawa Elena pergi karena dia adalah reinkarnasi penguasa monster," ungkap Alfred membuat semua orang terkejut. 


Suasana mulai menjadi ribut, orang-orang menara pertapa menatap tetua agung dengan tatapan aneh.


Boom!


Ledakan besar di iringi dengan bau tidak sedap, Alfred tau betul ini adalah bau dari kematian.


"Bergerak ke dunia bawah sekarang!" perintan Alfred kepada pengikutnya yang ada di kapal terbang.


"Aku harus pergi, sampai nanti Simon." Alfred merobek kertas teleportasi yang membawanya pergi ke dunia bawah.


*****


Vivian diam-diam telah memasang kekuatan teleportasi di halaman dekat asrama putri, ini semua demi kelancaran rencana mereka. Mereka sudah tahu kebenaran tentang Alfred yang menyelidiki Elena dari Rafael dan Euros, kini ayah dan anak itu telah menjadi bagian dari dunia bawah sampai bersumpah setia dengan nyawa mereka sebagai jaminan jika mereka benar-benar telah meninggalkan Alfred dan menjadi pengikut Hans.


Elena saat itu ditarik oleh Elios pergi ke asramanya untuk bersembunyi dari Alfred, di tengah perjalanan Elena tidak sengaja menginjak jebakan Vivian dan menghilang. Sayang sekali Elios tidak bisa ikut karena kekuatan teleportasi itu hanya bisa membawa satu orang, khusus untuk Elena.


Tidak lama setelah itu Hans sengaja datang ke menara pertapa dan menyebarkan kekuatannya untuk mengelabui Alfred, dengan begitu Alfred tidak akan mencari Elena ke kerajaan monster melainkan ke kerajaannya.


Beruntung semua yang terjadi berjalan sesuai rencana mereka semua.


"Apa kau membawa Elena pergi?" tanya Alfred pada Hans. Ia datang menemui Hans, akan tetapi ia tidak bisa masuk ke dalam kerajaan atas perintah dari Hans hingga keduanya harus bicara digerbang.


Hans memainkan jari tangannya dan menjawab, "Memangnya kenapa? apa ada masalah dengan mu?"


"Tentu saja karena dia adalah reinkarnasi Alden. Aku harus melenyapkan dia agar Alden tidak bisa mengambil alih tubuhnya, kau tau kan Alden itu berniat buruk pada ku."


"Kau yakin begitu? bukan sebaliknya?"


"Astaga. Sejak kapan kau mulai meragukan aku? kita adalah sahabat, kau harus percaya pada ku."


"Paman," panggil Jolycia. Ia datang bersama para pelayan pribadinya untuk menemui Hans, "Mau di sini sampai kapan? makan siang sudah terhidang, ayo makan bersama."


Bola mata Alfred membulat sempurna melihat Jolycia ada di kerajaan Hans, "Apa artinya ini?"


"Jolycia adalah putri Rani, Rani adalah sahabat ku jadi dia sudah menjadi keponakan ku. Aku mengajak keponakan ku tinggal bersama ku, itu tidak salah kan," jawab Hans tidak mempedulikan amarah Alfred.


"Kau masuklah, dan ajak calon suami serta calon mertua mu makan lebih dulu. Paman akan makan setelah tamu kita pergi," ucap Hans pada Jolycia, Jolycia mengangguk.


Sebenarnya Rafael sudah membuat pangkuan jika semua yang dia lakukan adalah semata-mata karena dia mencintai Jolycia, maka dari itu dia rela menentang raja para dewa setelah ia melihat bagaimana kehidupan Jolycia di kediaman raja dewa waktu dia berkunjung dulu. Jolycia menerima lamaran itu tanpa berpikir panjang, sebab Rafael selalu bersikap baik padanya walau pun terkadang ia juga suka berteriak padanya selama ia masih menjadi tahanan Euros.


Euros yang sudah lama mengekang Rafael akhirnya melepaskan putranya untuk menentukan jalan hidupnya sendiri, ia sudah menyesal untuk semua yang terjadi karena kebodohan serta keeogisannya.


"Hahahaha." Alfred tertawa keras dengan mata melotot pada Hans, "Pengkhianat. Kau sudah mengkhianati teman pertama mu, kau sungguh tidak tau diri. Kau pikir siapa dirimu jika di masa lalu aku tidak menjadikan anak menyedihkan seperti mu teman, hah? beraninya kau, anak kotor menggunakan nama yang agung. Kau sudah lupa diri ternyata."


Jauh di dalam hatinya, Hans merasa sangat sedih karena ia melihat sosok asli Alfred secara langsung.


******


Bersambung


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘