The Second Chance To Change Destiny.

The Second Chance To Change Destiny.
Bab 21 Aku tidak butuh bantuan siapa pun.



Keesokan harinya semua murid Akademik Bulan Sabit bersama dengan para guru akhirnya meninggalkan Akademik Kekaisaran dan kembali ke akademik mereka, para keluarga murid terpaksa harus membiarkan anak-anak mereka pergi.


Setelah hari itu semua berjalan lancar, Elena memulai pelatihan sama seperti biasanya begitu juga yang lain. Setelah itu waktu berlalu dengan cepat sampai tidak terasa 4 tahun telah berlalu.


Upacara pelepasan murid di lakukan dengan sangat meriah, Carlos datang secara khusus untuk menjemput Elena. Dia datang bersama Qinthia dan Aaron.


Setahun yang lalu saat Qinthia menyelesaikan pelatihan, Aaron juga mengundurkan diri sebagai guru di akademik. Ia ingin berada di satu tempat kerja dengan Qinthia.


"Apa upacara pertunangannya berjalan lancar?" tanya Elena pada Aaron dan Qinthia.


"Tidak. Itu sangat buruk, aku hampir saja membatalkan niat ku untuk bertunangan saat itu. Beruntung ibu datang tepat waktu," jawab Qinthia mengingat kembali hari buruk itu.


"Coba ceritakan pada ku," pinta Elena.


Beberapa bulan yang lalu keluarga dari pihak Aaron bertugas membagikan undangan untuk upacara pertunangan mereka, sementara keluarga Qinthia mempersiapkan acaranya semegah mungkin di Kediaman Arsena.


Lalu saat acara di mulai Keluarga Abraham datang bersama dengan Aaron, banyak nona bangsawan yang patah hati karena pria idaman mereka akan bertunangan dengan wanita lain.


"Selamat malam, sayang. Kau terlihat sangat cantik," bisik Aaron saat ia telah berdiri di samping Qinthia.


Wajah Qinthia langsung memerah. Ia memukul pelan lengan Aaron dan berbisik, "Jangan merayu ku."


"Apa merayu tunangan sendiri itu dosa?" tanya Aaron yang berhasil mendapatkan cubitan dari Qinthia membuat Aaron meringis kesakitan, "Itu sakit. Ah! aku baru ingat. Ibu minta maaf karena dia akan datang terlambat, dan Elena tidak bisa minta izin karena ia harus mempersiapkan ujian naik tingkatnya."


"Tidak masalah, aku mengerti. Lagi pula kakak dan ayah ada di sini. Itu sudah cukup bagi ku," balas Qinthia tersenyum pada Aaron.


Acara pun di mulai dengan pesta dansa selama satu jam setelah itu baru lah acara di utama di mulai, pengucapan janji setia sampai hari pernikahan dan tukar cincin.


Namun sebelum tukar cincin di mulai Malvia datang membuat keributan, ia langsung maju ke depan lalu menggandeng tangan Aaron.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Qinthia pada Malvia.


"Seharusnya aku yang bertanya demikian. Hanya karena kau bangsawan kelas atas, bukan berarti kau bisa merebut calon tunangan ku. Seharusnya kau itu malu karena yang harus berdiri di samping Aaron adalah aku," jawab Malvia membuat Qinthia tersentak.


"Menjauh kau." Aaron mendorong Malvia sampai wanita itu terjatuh ke lantai, "Apa kau sudah tidak waras? sejak awal aku tidak mengenal mu. Tapi kau selalu saja mendekati ku seperti bayangan, sebenarnya apa masalah mu dengan ku?"


"Apa masalah ku dengan mu? jangan konyol. Apa kau ingat alasan kau masuk ke akademik sebagai guru? itu karena Marchioness Abraham ingin kita menjadi dekat, sebenarnya ibu kita sudah merencakan pertunangan kita berdua. Tapi, wanita penggoda itu." Malvia menunjuk Qinthia, "Dia telah merusak segalanya. Dia berusaha menggoda mu."


Qinthia mendadak pusing, dia hampir saja jatuh jika saja ibunya tidak menahanya.


"Apa itu benar Marquess Abraham?" tanya Lydia pada Austin. Tapi Austin diam saja, karena ia sendiri tidak tau apa pun.


"Kalian keluarga Abraham sudah keterlaluan. Aku mengizinkan putri ku memulai hubungan ini dengan Aaron, karena aku tau keluarga Abraham memiliki reputasi yang baik. Ternyata itu semua hanyalah sampul saja, kenyataannya kalian sangat rendah sampai berani menghina putri ku," bentak Lydia.


"Ini bukan salah keluarga Aaron, ini semua salah putri mu yang penggoda itu. Marchioness Abraham tidak setuju dengan pertunangan ini, lihatlah beliau tidak hadir kan? itu semua jelas karena dia tidak suka putri mu. Lagi pula ibu mana yang mau anaknya bersama wanita yang suka menggoda pria," hina Malvia pada Lydia.


"Pergilah! karena aku yang akan bertunangan dengan Aaron," ucap Malvia.


"Diam kau!" Aaron mengangkat tangannya hendak menampar Malvia.


"Berhenti!" teriakan Liliana dari depan pintu masuk, membuat tangan Aaron terpaksa harus turun.


Liliana berjalan masuk lalu ia mendekati Malvia dan menampar wajahnya, Malvia seketika tumbang sambil memegang pipinya.


"Ibu mu sudah ditahan di penjara kekaisaran dengan tuduhan penipuan terhadap keluarga Abraham, dan kau akan ditahan karena telah mencemarkan nama baik keluarga kami. Buktinya ada di pengadilan," ucap Liliana. Tidak lama kemudian masuklah kesatria pengadilan, mereka mengikat tangan Malvia lalu menyeretnya keluar aula kediaman Arsena.


Setelah itu Liliana menarik Aaron menghadap pada Qinthia dan Lydia. Liliana memegang kepala Aaron kemudian keduanya membungkuk seraya berkata, "Kami minta maaf."


Melihat itu Austin dan Carlos juga ikut membungkuk dari tempat mereka, mereka telah membuat keributan jadi mereka tidak malu jika harus membungkuk karena itu.


Qinthia melepaskan pelukannya dari Lydia. Ia mendekati Liliana bahkan menuntun Liliana untuk berdiri tegak, "Hentikan ini, ibu. Ini bukan salah kalian jadi jangan membuat aku malu dengan meminta maaf. Aku tidak tau jika ibu Malvia melakukan penipuan sampai pada Malvia juga."


"Thia benar. Kalian tidak salah, maafkan aku karena menghina kalian juga. Aku tidak tahu apa terjadi sampai aku lepas kendali. Maafkan aku." Lydia membungkuk selama beberapa saat kemudian ia berdiri kembali.


"Apa acara ini bisa di lanjutkan?" tanya Qinthia kepada semua tamu. Mereka semua mengangguk, dan akhirnya acara kembali di mulai sampai akhir acara tidak hambatan lagi.


*****


Mendengar cerita itu Elena tertawa terbahak-bahak, ia tidak menyangka kakaknya akan terpojok karena seorang wanita tidak waras. Aaron menutup mulut Elena karena tidak bisa menahan rasa malunya.


"Nona Elena," panggil Louis membuat Elena berhenti tertawa dan menatapnya, "Bisakah kita bicara?"


Elena menatap kedua kakaknya untuk meminta persetujuan, Carlos serta Aaron mengangguk membiarkan Elena mendekati Louis.


"Ada apa?" tanya Elena pada Louis.


"Bahkan sampai akhir kau tidak menemui ku dan selalu menghindar dari ku. Apa kauĀ  tidak bisa membiarkan aku berdiri di samping mu? Duchess Ransom tidak akan diam saja setelah kau tiba di ibukota, dia bersama putranya punya banyak cara untuk mengikat mu lagi. Apa sampai saat itu kau tetap tidak ingin menggunakan aku?"


"Aku tidak tahu apa yang membuat mu ingin sekali dekat dengan ku. Tapi aku tidak butuh bantuan siapa pun, aku bisa menangani masalah ku sendiri. Lagi pula aku tidak mau menjalin hubungan lewat dari teman dengan siapa pun, apalagi itu seorang putra mahkota. Jadi jangan mendekati aku lagi, kita tidak punya hubungan apa pun," pungkas Elena.


Elena kemudian kembali pada yang lainnya dan mereka pergi bersama menuju kereta kuda keluarga Abraham, Louis hanya bisa menatap punggung Elena sampai menghilang dari pandangannya.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘