
Louis mampir ke sebuah kedai sebelum berangkat lagi pagi ini, ia tidak punya waktu. Tapi, berangkat dengan perut kosong juga bukan pilihan yang baik.
"Ibu kota terlalu banyak membuat drama. Berita seperti ini saja di terbitkan dalam surat kabar," keluh salah satu pelanggan di samping Louis.
"Seharusnya mereka menerbitkan berita desa-desa yang terkena bencana dan memerlukan bantuan. Setidaknya itu untuk membantu kaisar agar beliau tahu bagian mana saja dari kekaisaran ini yang membutuhkan uluran tangan para bangsawan, para bangsawan itu tidak tahu jika rakyat kecil seperti kita tidak ada maka mereka juga tidak akan ada," keluh yang lainnya.
"Memangnya kabar apa yang di terbitkan?" tanya Louis pada mereka. Salah satu dari mereka memberikan Louis surat kabar.
Louis pun ikut membaca berita yang ada di dalam sana dan memberikan komentarnya, "Cih! berita sampah."
"Benarkan? bangsawan itu selalu melebih-lebihkan sesuatu. Aku juga akan menerbitkan berita pertunangan ku sama seperti Tuan muda Ransom. Sudah menjadi pengkhianat sekarang dia tidak malu mengumumkan pertunangannya dengan selingkuhannya, aku sampai bingung di mana urat malu pasangan itu. Kasihan Nona Abraham," ucap pelanggan itu.
"Jangan kasihan dengan Nona Abraham," ucap Louis berdiri dari tempatnya dan membayar makanannya bersama para pelanggan yang bergosip itu.
"Kalian seharusnya merasa senang, karena Nona Abraham tidak bertunangan dengan pria brengsek itu. Sampai jumpa." Louis tersenyum pada mereka lalu dia pergi dari kedai itu.
"Kau menerbitkan pengumuman pertunangan mu di surat kabar untuk memancing Elena. Dasar bodoh! Elena tidak akan datang, tidak semua surat kabar kekaisaran kita bisa masuk sampai ke Kekaisaran Barat," batin Louis.
*****
Tok tok tok
Casey mengetuk pintu kamar Elena, tidak lama keluarlah Elena mengenakan gaun tidurnya.
"Selamat pagi," sapa Casey dengan wajah ceria.
"Selamat pagi. Dari pada menyapa lebih baik katakan saja apa yang membawa mu ke mari," balas Elena sambil menguap.
"Kebetulan kemarin aku melihat kalian ada di sini jadi aku mau bagikan sedikit sarapan, aku membuat terlalu banyak. Kau tidak akan menolak kan?"
"Puah!" kepala Liana muncul dari balik punggung Elena, "Terima kasih banyak, kebetulan kami baru bangun jadi tidak sempat membuat sarapan."
"Terimalah." Casey memberikan nampannya pada Liana, karena mata Elena mengantuk jadi dia tidak mau mengambil nampannya.
"Aku dan Yoluta tinggal di kamar sebelah. Kebetulan kami petualang juga, jadi …."
Brak!
Elena menutup pintu kamar sebelum ucapan Casey selesai, Elena yang masih kurang sadar akan tindakannya bisa membuat siapa saja kesal.
"Ah! tidak masalah. Asal ramuan itu sudah aku taruh dalam teh, dia pasti akan minum itu," batin Casey memutuskan untuk kembali ke kamarnya.
Kemarin setelah tau jika Elena adalah masternya, Casey mengajak Yoluta untuk pindah agar apa yang menjadi rencana mereka dari awal bisa terwujud lebih cepat.
Baru saja Casey hendak pergi dari sana, terdengar teriakan dari dalam kamar Kenzi. Casey hanya terkejut saja. Namun saat Elena berlari keluar dari kamarnya menuju kamar Kenzi, Casey juga ikut.
"Tuan buka mata mu, ku mohon buka mata mu," teriak Kenzi menepuk pelan wajah Galen.
Wajah Galen yang ada di pangkuan Kenzi terlihat pucat bahkan ada banyak darah di mulutnya, Elena tahu jika penyakit Galen kambuh lagi.
"Nona …." Kenzi menangis menatap Elena.
"Minggir." Elena meminta Kenzi untuk menepi dari tempatnya, pria berhati lembut itu menurut dan menepi.
"Ambilkan air hangat," perintah Elena langsung di turuti oleh Kenzi.
Mereka membaringkan Galen di atas ranjang lalu Elena membersihkan darah di wajah serta tangan Galen, sementara Kenzi masih menangis menatap Galen dari kejauhan.
"Ya." Kenzi menghapus airmatanya kemudian pergi keluar.
Elena di bantu oleh Casey menyiapkan tempat pembuatan ramuan, tidak lama Leon dan Liana datang untuk membantu. Setelah Kenzi kembali mereka memasak herbal sesuai arahan dari Elena, setelah herbal itu menjadi ramuan Elena menyuapi Galen yang kebetulan baru saja sadar.
"Ramuan itu akan bekerja setelah 30 menit setelah kau meminumnya. Jika ada perubahan yang kau rasakan katakan pada Kenzi," ucap Elena diangguki oleh Galen.
Karena urusan mereka sudah selesai maka Elena bersama yang lainnya keluar dari dalam kamar Kenzi, mereka harus melakukan pekerjaan mereka juga.
Dan entah bagaimana ceritanya Elena dan Liana bisa berburu bersama Yoluta dan Casey, untuk sesaat karena memasak herbal bersama mereka berempat menjadi dekat.
"Yuhu." Elena bersorak karena hari ini ia mendapatkan bayaran 10 koin emas dari guild.
"Mereka ternyata sangat kuat yah, kita untung besar karena mereka pergi bersama kita. Aku sempat takut ke hutan itu lagi karena di sana ada Hydra, beruntung dia tidak muncul tadi," ucap Liana merasa lega.
"Aduh!" seorang anak kecil terjatuh di depan Elena.
"Kau baik nak?" tanya Liana menghampiri anak itu.
"Huhuhu, kakak." Anak itu bukannya menangis pada Liana, ia malah berlari mendekati Elena melewati Liana yang ada di depannya.
"Ada apa? kenapa kau menangis?" tanya Elena menyamakan tinggi mereka.
"Aku … huwaaaa." Bukannya menjawab anak itu malah menangis semakin kencang.
"Kenapa dia?" tanya Elena pada Liana, dia tidak tahu harus berbuat apa sementara Liana hanya menggelengkan kepala.
Bugh!
Entah datang dari mana Leon tiba-tiba muncul dan memukul kepala anak itu, Liana dan Elena tidak sempat bereaksi untuk mencegah Leon.
"Dasar cengeng. Kau pikir kakak ku itu tempat mu untuk menangis? aku beri tahu kau yah, kakak ku sekarang sangat lelah mereka harus istirahat jadi katakan saja keluhan mu pada ku. Cepat," perintah Leon mengintimidasi anak itu.
"Aku tidak ada urusan dengan mu bocah, pergi sana atau aku akan membunuhmu," batin anak kecil yang tidak lain adalah Elios.
"Di mana guru sialan itu? dia minta aku untuk mengalihkan perhatian. Tapi dia malah menghilang, sial. Jika saja aku bukan muridnya mana sudi aku berada di sini," batin Elios mencari keberadaan Asya.
"Jangan kasar begitu, Leon. Dia sedang sedih jadi kita harus menghiburnya," nasehat Elena pada Leon.
"Kakak, aku merasa ada niat buruk dari anak ini. Dia pasti punya rencana tidak baik," ucap Leon menatap tajam Elios.
"Sudah sudah sudah." Liana langsung menggendong Leon agar ia berhenti mengatakan hal buruk. "Ajak saja dia ke penginapan dulu, ini sudah waktu makan siang. Kita masih harus memasak."
"Baiklah, kau ikut dengan kakak dulu yah," pinta Elena, karena tidak punya pilihan lain akhirnya Elios setuju. Dalam hati dia mengutuk Asya yang entah berada di mana.
Sesampainya di kamar penginapan mereka, Leon masih saja mengawasi Elios tidak sekali pun ia melepaskan tatapannya dari Elios. Liana berganti pakaian lalu ia pergi lebih dulu ke dapur penginapan, sementara Elena masih merapikan beberapa barang setelah itu barulah dia berganti pakaian juga.
"Tanda itu." Elios terkejut melihat tanda lahir dipunggung Elena berbentuk mawar putih yang dililit oleh ular hitam. Tanda lahir itu mawar putih adalah tanda lahir Rani, sementara ular hitam adalah tanda lahir keturunan penguasa dunia bawah.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘