
Sebelum Elena pergi, Jolycia memasukanl beberapa tetes darahnya ke dalam botol kecil dan memberikan itu pada Elena.
"Apa ini? kau tidak ha …."
"Ssttt!" Jolycia menutup mulut Elena, dan meletakan botol itu di dalam saku pakaian Elena, "Saat tes darah gunakan itu, ingat! jangan merasa bersalah atau berpikir aneh. Aku tidak akan mengampuni mu, inagt itu!"
"Terima kasih. Kunjungi aku nanti," balas Elena, Jolycia hanya mengangguk walau pun dia tidak punya niat untuk melakukan itu.
*****
Setelah kejadian itu semua harta Alfred diberikan ke Daratan agung sebagai kompensasi untuk memperbaiki kerusakan di sana, tentu saja atas perintah Ghaisan. Jolycia juga kembali ke dunia atas sebagai dewi angin tanpa mengunjungi Elena terlebih dahulu, Elena sudah menduga Jolycia itu sangat keras kepala.
Tidak berlangsung lama Fil datang ke kediaman Abraham membawa kristal darah, uji darah untuk membuktikan apa hubungan Elena dengan keluarga Abraham menjadi sangat menegangkan. Berkat darah Jolycia hasilnya sesuai dengan keinginan semua orang, hubungan darah orang tua dan anak sudah dipastikan.
Hari-hari Elena di kediaman Abraham berjalan seperti biasa, ia tidak mencari pekerjaan karena sekarang ia bukan lagi seorang pemanggil sejak kekuatan gelapnya hilang. Dia hanyalah Avatar dewi ramuan, serta dewa angin yang kembali berada di level dasar. Walau pun demikian, para penguasa Elemen, kesatria kegelapan, Hydra, serta Valkyrie kembali menjalin kontrak dengan Elena.
"Nona ada surat untuk … akh! apa ini nona? kenapa berantakan sekali?" teriak Miko selaku pelayan pribadi Elena yang baru.
"Ah, Miko. Mohon bantuannya hari ini yah," jawab Elena tanpa perasaan bersalah, Miko hanya bisa pasrah membereskan kamar Elena.
"Aku merindukan Louis, dia sedang apa yah?" tanya Elena pada dirinya sendiri.
Louis mengunjungi Elena beberapa hari lalu, ia meluapkan banyak emosi karena apa yang Alfred lakukan pada Elena. Tapi sejak hari itu satu surat pun tidak ada dari Louis, Elena di buat menunggu olehnya.
"Miko, tadi surat dari siapa?" tanya Elena teringat.
"Tuan muda Elios," jawab Miko menyerahkan surat tersebut.
Sejak menjadi pengelana Elios suka mengirim surat sampai sehari 3 kali, Elena di buat bosan membaca semua suratnya. Namun surat kali ini berbeda, setelah membaca surat itu Elena bergegas mandi, berdandan rapi, kemudian pergi begitu saja.
"Rota, tolong yah," pinta Elena. Rota langsung muncul, ia membawa Elena terbang dengan cepat menuju hutan yang jauh.
"Itu, di sana. Mendarat di sana." Elena menunjuk halaman dari sebuah rumah kecil yang sederhana, di sana sudah menunggu Elios.
"Cepat sekali. Aku pikir bisa memakan waktu seharian untuk sampai," ejek Elios membuat Rota kesal.
"Selamat datang di rumah Rani," ucap Elios, "Ayo masuk."
Rumah kecil yang sederhana itu adalah rumah tempat Rani tinggal sebelum dia menikah dengan Alden, bahkan setelah menikah pun mereka sering berkunjung dan tinggal selama berbulan-bulan di sini. Di rumah ini Elios pernah tinggal, Damian pernah dirawat, dan pertemuan pertama Rani dengan Alden juga terjadi di rumah ini.
Rumahnya mungkin sudah tua, banyak debu, bahkan hampir tertutup oleh tumbuhan liar. Namum semua barang di dalam rumah itu masih bagus bahkan tertata dengan rapi, Elena pergi ke ruang penelitian Rani, kamar tidur Rani, serta beberapa ruangan di bawah tanah.
"Nona, lihat apa yang saya dapat. Kotak kenangan." Rota memberikan sebuah kotak besar pada Elena. Elena menerima kotak itu lalu melihat isinya.
Di dalamnya ada lukisan potret pernikahan, keseharian mereka di rumah ini, bahkan saat-saat Rani mengandung Elena. Elena mengambil kotak itu untuk dibawah pulang, ini akan dijadikan harta karun bagi Elena.
*****
"Elena, menikahlah dengan ku." Louis berlutut dengan satu kaki untuk melamar Elena dihadapan semua orang saat pesta ulang tahunnya yang ke 31.
"Hari ini terjadi satu adegan yang selama 3 kehidupan hanya menjadi khayalan untuk ku, aku sudah menunggu cukup lama jadi tolong berikan aku jawaban untuk mengakhiri penantian ini," batin Louis.
"Apa ini? kenapa mendadak? aku harus jawab? hati ku belum siap untuk ini." Elena seketika menjadi bingung.
"Jawablah cepat kak, calon kakak ipar ku bisa sakit lutut dari nanti. Kasihan dia," ejek Leon tanpa memperdulikan keadaan sekitar.
"Ah iya, berdiri dulu Louis. Ayo." Elena menarik Louis agar berdiri.
"Tidak akan sebelum kau jawab," tolak Louis.
"Elena, cepatlah. Kau memikirkan apa lagi?" tanya Liora.
"Jangan jawab dulu Elena, biarkan kita lihat berapa lama pria itu akan bertahan," tambah Kavana.
"Jahat sekali kau ini, bagaimana jika dia sakit lutut sebelum usia tua?" tambah Sean.
"Dia sudah tua, kepalanya sudah 31. Hahahahah." Aditya juga tidak mau kalah.
"Jawbalah Elena, kau mau membuat kami menunggu berapa lama lagi? dasar," desak Astrid.
"Anu … itu … ak-aku terima," teriak Elena membuat suasana menjadi gaduh.
"Selamat!" Sean, Aditya, Leon, Aaron, dan Carlos menghujani Louis dengan pelukan.
"Nantikanlah buasnya malam pertama," goda Nindy, istri dari Carlos.
"Mana mungkin." Elena menjadi tegang karena mereka berdua.
Plak!
Plak!
Abigail memukul kedua cucu menantunya dengan kipas, "Jangan membual. Urus anak kalian sana, cepat!"
"Baik nenek," jawab keduanya serempak.
Pernikahan Elena dan Louis terjadi sebulan setelah lamaran itu, Damian, Hans, Baal, bersama yang lainnya tidak melewatkan acara bahagia itu. Ghaisan bersama beberapa dewa juga datang tidak lupa dengan menyamar. Mereka bahkan sampai bersiul beberapa kali saat kedua mempelai telah duduk dipelaminan.
"Elena, Alma tunggu janda mu. Ingat Alma akan me… umph!" Blake, dan Baal menutup mulut Alma.
"Maafkan kami." Baal dan Blake terpaksa membungkuk kepada para tamu.
"Setelah ini kita yang akan menikah," goda Hans pada Yoluta, Yoluta hanya bisa memukul tangan Hans untuk menyembunyikan rasa malunya.
"Akhirnya pernikahan Rani Alden generasi kedua bisa aku saksikan," ucap Teodora yang terharu dan menangis sejak tadi.
"Sudah sudah sudah, kendalikan diri mu. Kita sudah menjadi tontonan banyak orang," balas Damian, ia tidak kuasa menahan malu karena para tamu lain menatap mereka berdua sambil berbisik satu sama lain.
"Senangnya, aku kapan yah berdiri dipelaminan itu. Jadi tidak sabar." Vivian menyenggol lengan Casey.
"Aku harus siap mental dulu untuk itu. Berapa anak kita nanti, apa pakaian perniakahan yang harus kita pakai, di mana acaranya akan berlangsung, itu membuat ku pusing," jawab Casey terlalu banyak beban pikiran.
Setelah acara pernikahan berakhir Louis dan Elena dianugerahkan gelar Grand Duke serta Grand Duchess Ashraf oleh kaisar. Louis juga meminta semua hartanya dialihkan atas nama Elena, lalu pada hari itu juga setelah berganti pakaian mereka berdua pergi bulan madu berdua ke Kekaisaran Barat.
"Wah. Daging di sini sangat enak, supnya juga. Luar biasa." Elena merasa sangat bahagia makan siang bersama Louis di kedai terkenal.
"Lama tidak bertemu, Elena." Sonia menghampiri Elena dan Louis. Kejadian tidak terduga itu membuat Elena sangat sangat terkejut, "Bisa bicara sebentar?"
"Tunggu sebentara yah." Elena pamit pada Louis lalu ia pergi bersama Sonia ke luar kedai.
"Selamat untuk pernikahan mu dan tolong maafkan aku." Sonia membungkuk di depan Elena selama beberapa saat, "Kali ini aku sungguh benar-benar menyesal, kenyataan hidup bersama Ernest membuat ku sadar bahkan setelah merebut dia dari mu tidak membuat ku bahagia karena aku tidak pernah mencintai Ernest. Kau benar, aku sangat terobsesi padanya hingga membuat kesalahan. Pada akhirnya pria itu tidak pantas untuk mu atau untuk ku, aku mendapatkan karma besar karena kesalahan ku pada mu."
"Entah kenapa aku percaya pada apa yang kau ucapkan. Tapi mendadak kau berubah kenapa?" tanya Elena penasaran, "Aku kenal kau dengan baik, sangat sulit bagi mu untuk sadar."
"Itu semua karena dia." Sonia menunjuk Arthur yang berada di kedai buah sambil menggendong bayi, "Dia melarikan aku dari kediaman Ernest. Setelah tau aku membenci mu setengah mati, dia merubah jalan pikiran ku. Aku sangat benci padanya karena dia mengenal mu dengan baik. Dan pada akhirnya semua yang dia katakan tentang mu hanya untuk membuat ku sadar jika semua yang terjadi pada ku bukan karena kau, melainkan karena diri ku sendiri. Dia mau menerima ku yang seperti ini, kami juga sudah menikah dan memilki seorang putra."
"Baguslah. Tapi mari hidup seolah tidak mengenal satu sama lain, itu lebih baik untuk kita. Selamat untuk kelahiran mu dan pernikahan mu, Sonia." Elena tersenyum manis membuat Sonia tersentuh.
"Aku pergi dulu," pamit Sonia, ia kemudian kembali pada Arthur yang sedang memilih buah.
"Apa sudah selesai?" tanya Louis, ia keluar setelah melihat Sonia pergi.
"Ya, ayo berkeliling lagi. Aku ingin makan roti," ajak Elena. Ia mendekap lengan kekar Louis dan berjalan kearah yang lain.
Sonia menatap Elena yang berjalan menjauh bersama Louis dengan perasaan Lega, kini ia telah melepaskan masa lalunya dengan sejuta penyesalan dan ia sangat bersyukur karena pernah memiliki sahabat serta musuh seperti Elena. Pada akhirnya bagi Elena balas dendam terbaik untuk Sonia adalah penderitaan dalam pernikahannya dengan Ernest serta rasa tidak aman yang ia rasakan selama bertahun-tahun, bagi Elena itu sudah lebih dari cukup untuk membalas serta mengajari Sonia apa arti kehidupan.
*****
"Ibunda." Seorang gadis kecil berlari ke pelukan sang ibu.
"Ada apa, Hanna?" tanya sang ibu dengan nada lembut.
"Di mana, Nana? aku tidak melihat dia di mana pun."
"Astaga Hanna, panggil nama nenek mu dengan sopan atau kakek tidak akan memberi mu permen."
"Abisnya Nenek Elena bilang sendiri tidak masalah memanggilnya Nana."
"Tetap jaga sopan santun mu. Ya ampun. Coba lihat nenek di taman belakang, dia pasti ada di sana bersama kakek mu."
"Baik ibunda." Hanna pun berlari keluar dari kamar sang ibu menuju taman belakang.
Setelah melepaskan gelar bangsawan mereka di usia 50 tahun, Elena dan Louis sering melakukan banyak hal berdua untuk menikmati masa tua. Keduanya tidak meminum ramuan keabadian karena ingin hidup dengan tenang, tidak hanya sekali keduanya sering menghilang dari pengawasan anak mereka agar waktu bersama mereka tidak terganggu oleh siapa pun.
*****
End.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘