
Walau pun melarikan diri dari ruang kerja Light, Lucky tetap di hukum oleh Dominic karena tidak becus dalam mengurus anggotanya hingga menimbulkan masalah. Para tetua lain tidak mengeluh karena mereka memang tidak suka orang-orang dari Daratan Agung, namun sebagai tetua utama dan demi menjaga nama baik penguasa menara serta leluhur mereka, Dominic tetap harus bertindak tegas pada Lucky.
"Kakak, sebenarnya kakak kenapa? aku tahu kakak bukan orang yang sangat perhatian sampai rela menghukum orang demi aku, aku tahu ada alasan lain di balik tindakan kakak," ucap Lucky pada Light yang berlutut di sampingnya.
"Tentu saja, untuk apa aku membela anak haram seperti mu. Aku hanya memanggil mu untuk memperlihatkan pada mu bagaimana aku menghancurkan wanita sampah itu, sesuatu yang tidak bisa anak haram seperti mu lakukan seumur hidup," jawab Light.
"Tapi kenapa harus Elena? apa alasan kakak membenci wanita yang bahkan perlu pernah kakak temui?"
"Alasannya sudah jelas kan. Kita adalah keluarga Maverick, ayah kita adalah keturunan sekaligus asisten pribadi dewa perang. Tapi, kenapa kita sebagai keturunan ayah tidak mendapatkan kepercayaan dari para Valkyrie? mereka malah mengakui Elena dan menjadi rekannya. Aku mungkin memiliki kekuatan dari keturunan ibu ku, walau pun begitu aku juga adalah keturunan dewa perang dan aku juga ingin mendapatkan kekuatan ganda dewa perang sama seperti Kak Dominic, dan untuk itu aku harus membuat salah satu Valkyrie menjadi rekan ku."
"Tapi seperti yang kakak lihat, 1 dari 10 Valkyrie telah memihak Elena."
"Salah. Bukan hanya satu. Tapi 2, Valkyrie tertua juga ada di pihak Elena tersisa 8 lagi. Aku harus membuat mereka tertarik pada ku dengan mengalahkan orang yang saudari mereka akui."
"Setelah itu apa yang akan kakak lakukan?"
"Diamlah. Anak haram dan pria sampah tanpa kekuatan seperti mu tidak berhak tau lebih banyak, karena itu percuma," ejek Light menyeringai.
"Elena sudah membuat 2 Valkyrie berada di pihaknya, apa mungkin Elena itu sebenarnya memang kuat? jika iya maka 8 Valkyrie yang tersisa mungkin saja akan berpihak padanya juga," batin Lucky yang tidak mengetahui kenyataan jika Elena telah mengikat kontrak dengan semua Valkyrie.
*****
Elena duduk di ranjang setelah kembali ke dalam kamarnya, baru sehari di Daratan Pertapa ia sudah diserang sebanyak 2 kali.
"Selamat siang nona," sapa Hydra seraya keluar dari lingkaran pemanggil.
"Kau? kenapa kau datang saat aku tidak memanggil mu?" tanya Elena terkejut.
"Ya ampun, nona lupa lagi? nona meminta ku membawa seorang wanita pergi, lalu nona tidak pernah mengunjungi ku setelah hari itu. Ini sudah cukup lama nona," keluh Hydra. Elena pun teringat soal Jolycia.
"Ah! maafkan aku, ada banyak masalah akhir-akhir ini yang membuat ku lupa akan banyak hal. Ayo kita pergi menemui Jolycia."
"Sudah terlambat. Wanita itu sudah pergi, dia ternyata adalah putri raja para monster yang sudah hilang selama 30 tahun. Aku sendiri yang mengantarnya dan mendengar pangkuan itu darinya, sayangnya aku tidak bisa mendengar lebih banyak karena diminta untuk pulang. Mereka memberi ku hadiah 100 koin emas."
"Sulit dipercaya. Tapi kenapa dia ada di kediaman raja dewa?"
"Sebenarnya ini cerita lama. 200 tahun lalu ibu ku suka bercerita tentang sejarah, karena kami rakyat raja monster jadi ibu selalu membahas tentang beliau. Dalam cerita ibu, raja monster menikahi seorang manusia yang dicintai oleh raja dewa, raja dewa berusaha mencuri hati wanita itu. Tapi dia gagal karena wanita itu sudah mencintai raja monster, lalu tidak lama kemudian ratu monster hamil. Hal itu membuat raja dewa kesal sampai memulai perang dengan dunia bawah, ratu monster meninggal dalam perang dan anaknya tidak tahu ada di mana. Tidak lama setelah itu ada kabar jika dewa angin berhasil menemukan putri raja monster dan memenjarkaannya. Sebenarnya aku tidak terlalu percaya cerita itu."
"Kisah cinta manusia dengan monster, aku pikir itu tidak nyata. Mana ada manusia mencintai monster."
"Itu mungkin nona, monster itu sangat tampan buktinya adalah diriku ini." Hydra berpose gagah untuk memamerkan ketampanannya.
"Lepaskan! aku punya urusan penting dengan nona, keluarkan aku. Hei batu busuk!" teriak Hydra berusaha keras menahan tubuhnya agar tidak terdorong masuk.
"Tapi, nona …." Kara juga muncul dihadapan Elena, "Itu bukan hanya sekedar cerita lama saja, karena raja para dewa pernah melakukan permurnian dengan sumpah tidak akan mengulangi perang dengan dunia bawah tanpa alasan yang jelas. Entah sumpah itu benar atau tidak."
"Sumpah itu ku rasa tidak benar." Brunhilde menyela pembicaraan, "Dalam sumpahnya tidak akan pernah terlibat dengan raja, ratu, atau keluarga serta penghuni dunia bawah. Lalu dia malah menyekap putri raja monster di kediamannya, itu sama saja dengan bohong kan?"
"Hhhmmm, tapi siapa nama raja dan ratu monster?" tanya Elena.
"Itu aku tahu," jawab Hydra mengangkat tangannya.
"Benarkah? kau mungkin saja bohong," balas Kara.
"Apa kata mu?" Hydra berhasil mendorong tangan Admon yang berusaha menekannya masuk ke dalam lingkaran, "Aku tahu karena aku ini monster. Raja kami adalah Raja Alden, dan ratu kami adalah Ratu Rani. Apa salah?"
"Mana aku tahu, memangnya aku monster? Hydra bodoh." Kara keluar dari lingkaran pemanggil kemudian berjalan mendekati lingkaran Hydra, ia lalu menekan pundak Hydra agar masuk ke dalam lingkarannya.
"Biar ku bantu." Admon membantu Kara untuk menekan Hydra.
"Kalian curang! hentikan!" protes Hydra menghilang bersama lingkarannya.
"Rani? nama itu kan …." Elena menatap Brunhilde.
"Ya, itu nama wanita yang dewi ramuan pikir adalah ibu anda. Seharusnya dewi ramuan sudah tahu jika Nona Jolycia adalah putri dari Rani, apa perlu saya sampaikan ini pada beliau?" tanya Brunhilde.
"Ya, dia pasti masih mencari putri dari Rani. Semoga saja mereka cepat di pertemukan," jawab Elena. Brunhilde mengangguk, ia menarik Kara untuk kembali bersamanya ke dunia atas, setelah itu Admon juga kembali ke Kota Roh Elemen.
"Jangan memikirkan apa pun lagi, Elena. Kau tidak harus peduli," batin Elena memukul pelan kepalanya.
Untuk menghindari pemikiran buruk muncul dikepalanya, Elena pun keluar dari kamarnya. Ia ingin menemui Elios karena anak itu tidak terlihat sejak kemarin.
Baru saja Elena memegang pintu kamar Elios, terdengar suara perdebatan dari dalam kamar.
"Jangan memaksa ku! aku memang dekat dengan Elena. Tapi untuk mengatakan kebenaran tentang dirinya itu sulit, jika mudah bagi kalian maka kalian saja yang melakukan itu. Aku tidak mau ikut campur," teriak Elios.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘