
Galen duduk diam menatap keluar jendela sementara Kenzi sendiri duduk di samping ranjang, mereka tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.
Pertama kali mendengar cerita tentang Elena dari Ernest, entah kenapa Galen menjadi kesal pada Elena karena baginya Elena adalah wanita egois yang tidak tahu menghargai cinta dari temannya. Akan tetapi, setelah ia tahu siapa Elena semua rasa kesal dan kebencian akan Elena itu menghilang dalam sekejab, bagi Galen membenci Elena saat ini bukan hanya sulit melainkan mustahil.
Kenzi tidak terlalu terluka seperti Galen karena ia tidak memiliki kesalahan pada Elena, ia hanya berpikir bagaimana bisa Elena bertahan selama 5 tahun menjadi kekasih pria egois seperti Ernest. Dan sekarang juga ia lebih mengkhawatirkan apa yang Galen pikirkan.
"Sudah ku putuskan," ucap Galen yang berdiri dari sofa, "Kita akan pulang ke Kekaisaran Barat saat ini juga."
"Benarkah?" Kenzi terkejut mendengar hal itu keluar dari mulut Galen, pasalnya yang tidak sabar untuk datang ke mari adalah Galen sendiri.
"Ya. Sekarang aku paham dengan apa yang Elena katakan saat itu. Maafkan aku Kenzi karena aku gelap mata sampai tidak bisa membedakan perhatian kalian, aku hampir saja kehilangan sahabat terbaik seperti diri mu hanya karena pria seperti Ernest. Apa yang Elena katakan memang benar, sahabat itu adalah wujud dari mu Kenzi. Kau sangat khawatir dengan keadaan ku selama ini, dan bodohnya aku sampai tidak menyadari hal itu."
Kenzi terdiam nenatap Galen lalu airmatanya menetes, "Dasar. Kenapa butuh waktu lama bagi mu untuk sadar? kau ini sahabat dan majikan yang lama mengerti. Beruntung saat itu kita bertemu dengan Elena."
"Mari kita berkemas. Aku tidak akan pernah datang ke kediaman ini, apalagi pemiliknya sudah menghina sahabat ku," ucap Galen, di angguki oleh Kenzi.
Galen dan Kenzi dengan cepat merapikan semua barang mereka, saat semuanya sudah selesai mereka keluar dari kamar pergi lalu menemui Sonia.
"Kalian mau ke mana bawa tas?" tanya Sonia kebingungan.
"Pulang. Kami harus pulang karena ada urusan mendadak, tolong sampaikan salam kami pada Ernest," jawab Galen, lalu menatap Kenzi. "Ayo."
Sonia bingung harus apa melihat Galen dan Kenzi pergi begitu saja, padahal tadi semuanya baik lalu mereka mendadak harus pulang membuat Sonia sedih.
"Sial! pasti wanita tua itu akan menyalahkan aku saat tau mereka pergi, apa yang harus katakan? merepotkan sekali," batin Sonia frustasi.
*****
Malam festival panen di mulai, dari halaman belakang Elena bersama yang lain bisa mendengar suara nyanyian dan alat musik yang di mainkan.
Semua suara itu terdengar sangat menyenangkan sampai membuat Elena penasaran ingin melihatnya. Tapi di sini bukan hanya dia saja yang ingin melihat, terlihat dari wajah mereka semua jika mereka juga ingin ikut merayakan festival itu.
"Pasti menyenangkan," ucap Brianna. Ia berbaring sambil menatap langit yang cerah malam itu.
"Apa kalian juga ingin ikut?" tanya Elena langsung mendapatkan anggukan dari semuanya.
"Bagaimana jika kita ikut?" tanya Elena lagi.
"Kau gila yah," jawab mereka semua serempak.
"Tapi itu bukan berarti tidak mungkin, jika kita melihat festival dari atas langit yang gelap maka tidak akan ada yang tahu. Benarkan?" tanya Benton membuat semuanya berpikir keras.
"Kalau begitu tunggu apa lagi? ayo!" ajak Elena.
"Kau ini tidak waras. Bagaimana bisa kita ke atas sana? jangan membual dan duduklah," ketus Brianna. Lalu ia menatap tajam Benton, "Kau juga, jangan memberikan Elena ide konyol."
"Memanggil Slyph." Elena memanggil Slyph keluar.
Begitu keluar Slyph langsung memeluk Elena, "Selamat malam nona, selamat festival panen."
"Apanya yang selamat? kami semua tidak bisa ikut festival, lihatlah mereka semua sedih," balas Elena membuat Slyph merasa bersalah.
"Kau gila yah. Kalau kau kacaukan lalu kami akan melihat apa?"
"Nona ini bagaimana, katanya tadi tidak bisa ikut."
"Ikut tidak bisa. Tapi kalau melihat bisa, dari atas sana." Elena menunjuk ke atas.
"Begitu yah." Slyph akhirnya mengerti alasan dia di panggil, "Ayo kita ke atas."
Slyph menggunakan kekuatannya dan membawa mereka semua terbang ke atas, semua teman-teman Elena merasa senang bisa melihat indahnya festival walau pun tidak bisa ikut.
"Indahnya," gumam Haura melihat pelita yang di bawa oleh para murid menuju ke menara.
"Ini sempurna," tambah Bagas yang ikut terpesona.
Sementara itu tanpa sepengetahuan mereka ada yang datang ke halaman belakang, yaitu Carolina. Dia datang untuk meminta ramuan, sayangnya ia tidak menemukan siapa pun di halaman belakang, karena itu ia kembali untuk melaporkannya pada pengawas yang sedang ikut festival juga.
Setelah Carolina melaporkan akan hal itu, pengawas merasa sangat kesal karena ia tahu jika mereka tidak ada maka mereka ikut festival panen secara diam-diam. Dengan langkah cepat pengawas kembali ke halaman belakang, ia langsung memeriksa asrama para murid.
"Eh! mereka kenapa bisa di sini? tadi mereka tidak ada. Mereka pasti berpura-pura tidur," ucap Carolina.
"Mungkin saja. Ayo bangunkan," jawab pengawas. Mereka berdua pun membangunkan para murid yang tidak mau bangun, mereka semua benar-benar tidur bahkan sangat lelap.
"Mereka benar-benar tidur. Sudahlah. Mereka bekerja tanpa istirahat jadi jangan ganggu, kita ambil saja ramuannya sendiri." Pak pengawas memutuskan untuk pergi, melihat mereka semua terlelap membuat hatinya merasa bersalah karena telah curiga pada murid yang selama ini ia tahu tidak pernah membuat masalah.
Walau pun begitu Carolina masih merasa ada yang aneh, ia tidak tahu bagaimana mereka bisa berada di asrama bahkan terlelap sekali. Karena ia tahu matanya tidak mungkin salah, saat meihat asrama mereka yang kosong beberapa saat lalu.
Beberapa saat lalu.
"Nona, ada yang tidak beres di bawah. Sepertinya kalian semua akan dapat masalah besar," telepati dari Slyph pada Elena.
"Apa? aku tidak punya rencana apa pun. Bagaimana ini?" balas Elena.
"Oh. Ini." Slyph memberikan bubuk tidur pada Elena secara diam-diam, "Lempar ini pada mereka lalu mereka akan tertidur, lalu apa yang akan terjadi saat ini hanyalah mimpi bagi mereka. Mereka juga tidak akan mengingat kalau aku membawa mereka terbang ke atas, akan merepotkan jika anda yang tidak sengaja mengatakan kebenaran kita."
Elena menerima kantong bubuk itu lalu membukanya. Melihat mereka semua terpesona dengan keindahan festival dari ketinggian, Elena pun langsung melemparkan bubuk itu ke arah mereka.
"Apa itu? hoam. Ngatuknya." Mereka semua serempak terbaring tidak sadarkan diri. Lalu Elena dengan bantuan Slyph mengantarkan mereka semua ke ranjang asrama masing-masing, setelah itu ia mengembalikan kantong bubuknya pada Slyph. Sebelum pengawas datang Elena juga ikut berbaring di atas ranjang miliknya.
Mungkin ada yang curiga pada mereka. Tapi tidak ada bukti atau saksi yang melihat mereka menikmati pemandangan festival, berkat indra Slyph yang tajam para murid terbuang bisa melihat festival walau pun hanya sesaat.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘
Maaf yh kalau chapter kali ini banyak kesalahan, soalnya author lagi sakit mikir kelanjutan alurnya susah banget😷😢