The Second Chance To Change Destiny.

The Second Chance To Change Destiny.
Bab 84 Kau memang putri kami, Elena.



Para peri mengantar Elena menuju portal keluar dari desa peri, walau pun hanya sebentar di desa ini Elena merasa sangat bahagia. Ia berterima kasih kepada semua peri untuk keramahan mereka.


Begitu Elena keluar dari portal, kristal di akademik menampilkan rekaman Elena. Tetua agung akhirnya bisa bernafas lega begitu juga para ahli formasi, mereka berhasil melacak keberadaan Elena yang saat ini berada di Kota Hujan Biru kota yang jauhnya 3 hari perjalanan dari daratan agung.


"Ya ampun, dia ini membuat banyak orang khawatir. Aku tadinya berpikir dia ada di tempat yang sangat luar biasa, ternyata hanya ada di kota itu, cih!"


"Apa boleh dikata kekuatannya mungkin besar. Tapi dia tetap di level dasar, tidak mungkin orang dengan serendah itu bisa pergi ke tempat yang luar biasa."


"Tetua agung begitu cemas padanya itu semua sia-sia saja, para ahli formasi juga harus membuang tenaga untuk melacak orang yang tidak berguna."


"Sudah ku duga, dia tidak cocok menjadi anggota bintang agung."


Para murid mulai bergosip tentang Elena, mendengar itu para teman Elena ingin sekali memberi mereka pelajaran. Namun mereka tidak bisa membuat masalah, apalagi ada tetua agung di sini.


Tetua agung sendiri berpikir Elena dari awal tidak berada di kota itu, ia tidak tahu kenapa bisa Elena berada di kota itu. Namun yang jelas telah terjadi sesuatu, saat ini tetua agung tidak berniat melepaskan pandangannya dari Elena.


"Tunggu." Ada sesuatu yang menarik perhatian tetua agung dari Elena, "Batu permata di cincin anak itu, kenapa mirip safir malam?"


"Apa jangan-jangan … begitu yah. Kau memang anak yang menarik," batin tetua agung tersenyum.


Walau pun tidak terlihat Elena ternyata masih dihantui oleh ucapan Teodora, Brunhilde telah kembali ke tempatnya sejak Elena akan keluar dari desa peri. Oleh karena itu, Elena sendirian dan pikirannya melayang ke banyak tempat.


"Apa mungkin aku ini memang benar bukan anak ibu dan ayah?" batin Elena.


Ia duduk di pinggir jalan tanpa menghiraukan orang-orang yang menatapnya. Elena terlihat sangat murung, hal itu juga membuat tetua agung penasaran.


"Memikirkannya saja membuat ku sangat sedih. Aku tidak harus memikirkan ucapan wanita itu. Tapi tidak bisa, aku yakin aku anak ibu dan ayah hanya saja kenapa aku merasa ragu?" gumam Elena.


Jiwa Alden yang telah tertidur cukup lama akhirnya bangun, ia keluar dari tubuh Elena dan melihat putrinya itu duduk dengan wajah murung sendirian.


"Tapi siapa Rani itu? apa benar wajah kami mirip?" tanya Elena pada dirinya sendiri.


"Eh! ba-bagaimana bisa Elena mengenal Rani? si-siapa yang memberi tahu dia tentang Rani?" batin Alden.


"Bagaimana jika Rani itu memang benar ibu ku?" Elena menggelengkan kepalanya sekuat tenaga, "Tidak mungkin. Aku anak ibu dan ayah, semua yang terjadi itu hanya kebetulan saja."


"Tidak, Elena. Kau memang putri kami … aku ayah mu dan Rani adalah ibu mu. Kalian memang sangat mirip karena hubungan kalian lebih erat dari apa pun, itu bukan kebetulan. Seandainya bisa aku katakan pada mu," ucap Alden duduk di samping Rani.


"Apa itu?" tetua agung terkejut sampai berdiri dari tempat duduknya karena ia merasakan kehadiran seseorang di samping Rani.


"Anak ini bukan hanya menarik, dia sedikit menakutkan. Ada sesuatu yang tidak terlihat di sampingnya, ini semakin menarik saja. Tunjukan segalanya pada ku Elena," batin tetua agung tersenyum tipis.


"E-Elena. Kau Elena kan?" tanya Kenzi. Ia kebetulan sedang dalam perjalanan pulang dan melihat seseorang mirip Elena, jadi ia mendekatinya.


"Kenzi, kau tau nama asli ku?" tanya Elena seraya berdiri.


"Ya. Ceritanya panjang. Kau mau mampir ke tempat Galen?" 


"Tidak usah. Aku akan duduk di sini sebentar sebelum pulang."


"Kau ada masalah kan? duduk diam sendirian membuat pikiran kita tidak tenang, lebih baik ikutlah dengan ku. Ayo." Kenzi memegang tangan Elena.


"Apa yang mereka bicarakan? aku harus memperbaiki kualitas kristal ini. Aku penasaran dengan percakapan mereka, dasar! kenapa tidak terdengar," batin tetua agung. Para tetua akademik serta para murid merinding karena ekspresi kesal di wajah tetua agung.


"Baiklah, aku ikut.," ucap Elena. Kenzi tersenyum lalu ia menarik tangan Elena menuju kereta kuda milik kediaman Galen.


Dari perjalanan sampai ke kediaman, Kenzi tidak pernah berhenti bersenandung. Ia sangat bahagia karena setelah sekian lama akhirnya ia bisa membawa Elena menemui Galen, selama ini ia orang yang paling tahu sebesar apa penyesalan Galen akan ucapannya terhadap Elena.


"Galen, lihat siapa yang aku bawa untuk mu," teriak Kenzi saat memasuki rumah kaca.


"Ya ampun, Kenzi. Kau itu anak kecil sampai ha …." Ucapan Galen terhenti saat ia melihat Elena.


"Lama tidak bertemu, Galen," sapa Elena yang sukses membuat mata Galen berkaca-kaca.


"Yah, lama tidak bertemu. Apa kabar mu?" tanya Galen berusaha untuk tidak meneteskan air mata.


"A-apa ini? kau sedang melakukan ujian bukan jalan-jalan, kenapa kau pergi ke kediaman duke?" teriak tetua agung membuat suasana semakin tegang.


"Aku baik. Kau sendiri bagaimana? raut wajah mu terlihat lebih segar, kau pasti kau baik."


"Tentu saja, semua berkat mu."


"Hei kalian berdua, berbincanglah sambil duduk. Aku akan pergi membuat teh, aku akan segera kembali." Kenzi pergi membawa belanjaannya ke dapur. 


Galen lalu mengajak Elena duduk bersama di tempat yang memang telah Galen sediakan, ia suka minum teh di dalam rumah kaca biasanya hanya dengan Kenzi.


"Sebenarnya aku sudah lama mencari mu setelah aku tahu semua kebenaran tentang mu, kebenaran jika aku salah paham tentang mu. Aku benar-benar menyesal hari itu dan langsung pulang untuk mencari mu. Tapi pemilik penginapan bilang kalian sudah pergi, aku sangat kesal dengan diri ku sendiri karena telah bersikap kasar pada mu. Tolong maafkan aku," pinta Galen.


"Sudahlah, lagi pula aku tidak marah pada mu. Aku ingin kembali ke ibu kota lalu menjelaskan semua kebenaran tentang ku pada mu, maaf karena tidak datang menemui mu atau mencari mu selama ini," balas Elena.


"Bisakah aku tahu sekarang kau ada di mana? aku ingin mengunjungi mu nanti."


"Daratan menara agung. Aku ada di sana."


"Apa kau murid di sana?"


"Ya. Murid bagian dalam."


"Sungguh? luar biasa, kau memang pantas untuk itu. Elena, ada yang ingin aku katakan. Aku sudah memikirkan dengan baik, aku hidup sampai saat ini berkat diri mu. Aku tahu aku berhutang banyak pada mu dan mungkin hal ini tidak pantas aku katakan, sebenarnya aku …."


"Jangan gugup. Katakan saja aku tidak akan marah."


"Aku ingin menikah dengan mu, ku mohon jadilah pendamping ku. Aku men-mencintai mu sejak lama," ungkap Galen dengan wajah memerah sepenuhnya.


"Memalukan sekali," batin Galen serasa ingin melarikan diri.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘