The Second Chance To Change Destiny.

The Second Chance To Change Destiny.
Bab 92 Sampai jumpa.



Kavana terlambat karena saat ini Louis telah berdiri di depan Elena, suasana terlihat canggung diantara mereka.


"Aku tau kau sedang pergi begitu juga Liana karena kami menemukan surat dari mu pada saat yang bersamaan," jawab Louis yang sedari tadi menundukan kepalanya.


"Kalau kau sudah tahu lalu untuk apa bertanya? apa kau baik-baik saja?" tanya Elena mendekati Louis agar dapat melihat wajah pria itu lebih jelas.


Louis melangkah mundur saat jarak diantara mereka menipis dan menjawab, "Ya, aku baik. Tapi kenapa kau bertanya begitu? apa aku terlihat aneh?"


"Tentu saja aneh, kau sudah tahu lalu masih bertanya lagi, untuk apa? kau nampak linglung, bagaimana jika kita bicara sambil duduk?"


"Tidak usah, aku baik hanya kurang tidur saja. Aku tahu kau pergi keluar menara. Tapi aku kan tidak tahu kau pergi ke mana apalagi 10 hari lamanya."


"Aku kembali ke kediaman ku. 10 hari lalu ada yang mengganggu pikiran ku, jadi aku memutuskan untuk pulang menenangkan diri. Tapi kau jangan cemas, semuanya sudah berakhir saat ini. Mau apa pun yang terjadi aku tidak ingin meragukan hubungan apa pun lagi dan memutuskan untuk mengakhirinya," jelas Elena. Seketika Louis merasa sangat terpukul, ia meremas dadanya yang terasa sesak. Saat itu juga Louis merasa tidak punya sisa tenaga untuk sekedar menatap Elena.


"Apa kau sebegitunya tidak percaya pada ku hingga mengambil tindakan sendiri, padahal kau bisa membicarakan semuanya dengan ku terlebih dulu sebelum mengambil keputusan dan pergi. Setidaknya biarkan aku menemani mu kembali ke kediaman Abraham lalu menjelaskan segalanya pada keluarga mu," ucap Louis dengan suara meninggi secara tidak sadar ia terlarut dalam kesedihannya.


"Gawat! karena terlalu takut akan kehilangan dia lagi, aku malah lepas kendali di depannya. Aku harus bagaimana? Elena sudah salah paham pada ku sampai ia ingin mengakhiri hubungan kami, dengan berbicara seperti itu aku malah memperburuk segalanya," batin Louis.


"Aku bukan tidak mau mengatakan apa pun pada mu, hanya saja aku tidak bisa mengatakannya karena ini adalah masalah pemikiran ku. Aku tidak bisa menerima penjelasan serta nasehat siapa pun, aku yakin Liana sudah mengatakan segalanya pada mu. Terima kasih karena sudah peduli pada ku, dan juga berpergian sendiri adalah keinginan ku," balas Elena.


"Jangan begitu, Elena. Kau sungguh hanya salah paham, aku tidak berniat mengabaikan mu hari itu. Sungguh, percayalah pada ku. Sumpah demi apa pun aku hanya mencintai mu, tidak peduli sampai kapan perasaan ini akan tetap sama," ungkap Louis membuat Elena tersentuh.


"Dia malah mengutarakan isi hatinya disaat seperti ini, dasar pria licik," batin Kavana yang memperhatikan mereka.


"Apa arti dari mengabaikan ku di hari itu? Louis, sedang membicarakan apa? pada  bagian yang mana? tidak ada dalam ingatan ku jika aku pernah diabaikan oleh Louis, apa mungkin dia salah paham dengan salah satu tindakannya. Tapi kapan? sudahlah. Aku pura-pura ingat saja, bagaimana pun juga kondisi Louis saat ini agak memprihatinkan jika aku bertanya apa maksud dari ucapannya tadi maka kami akan berdiri di sini untuk waktu yang lama sedangkan dia harus segera istirahat," batin Elena memikirkan banyak cara agar pembicaraan berhenti sampai di sini saja.


"Elena, kenapa diam? sudah ku duga, kau pasti marah pada ku karena hal itu. Aku sungguh minta maaf." Raut wajah sedih Louis membuat Elena kehabisan kata-kata.


Elena memalingkan pandangannya ke berbagai tempat, ia tidak tahu harus mengatakan apa lagi saat topik pembicaraan tidak tahu sudah melenceng ke mana. Disela-sela kebingungan itu Kavana muncul bagaikan pahlawan untuk Elena.


"Aku beruntung bisa menemukan mu di sini," ucap Kavana berjalan mendekati Elena dan Louis. Ia mengatakan aku tidak akan memberikan kau kesempatan menjelaskan apa pun dari raut wajahnya saat menatap Louis.


"Baguslah kau datang." Elena memegang tangan Kavana karena pria itu muncul disaat yang tepat, "Aku memang ingin menemui mu setelah ini."


"Benarkah? sungguh kebetulan yang indah, ah! dari pada kebetulan ini sudah seperti takdir saja. Kita berpikir untuk saling menemui satu sama lain pada saat yang sama," jawab Kavana tersenyum penuh kemenangan pada Louis.


"Tapi sepertinya kau sibuk, mungkin aku harus menemui mu lagi nanti. Kalau begi …."


"Jangan pergi," potong Elena sambil menggelengkan kepalanya, bola mata Louis membulat sempurna karena ia mendengar kalimat tidak terduga dari mulut Elena.


"Ya ampun, jika kau sudah berkata demikian apa boleh buat. Aku mencari mu karena tetua agung ingin bertemu dengan kita berdua, hanya kita." Kavana sengaja menekan dua kata terakhir untuk memancing amarah Louis yang semakin membesar.


Raut wajah Louis saat menatap Kavana seolah menyiratkan ucapan, aku akan membunuh mu jika kau berani menggoda Elena. Kali ini Kavana dibuat bergidik ngeri oleh Louis.


"Sepertinya aku sudah berlebihan karena memprovokasinya, matilah aku. Aku harus membawa Elena pergi dari sini secepatnya," batin Kavana menghindari kontak mata dengan Louis.


"E-Elena." Kavana melepaskan genggaman tangan Elena dari lengannya, "Kita harus pergi sekarang, tidak baik membuat tetua agung menunggu."


Elena pun berbalik melihat Louis di belakangnya, raut wajah Louis seketika langsung berberubah menjadi sedih.


"Woah! raut wajahnya berubah seketika. Kekuatan cinta memang dashyat, sekaligus menyeramkan," batin Kavana.


"Maafkan aku, aku harus pergi. Aku akan meluangkan waktu untuk menemui mu lagi nanti. Kau …."


"Pergi saja, untuk apa berpamitan lagi setelah kau memutuskan untuk ingin pergi. Siapalah aku ini sampai harus menahan mu, padahal kita bicara lebih dulu sebelumnya. Tapi kau … lupakan saja! aku sudah menunggu dari pagi sampai malam bahkan tidur di sini, beranjak dari sini hanya untuk makan dan mandi karena ingin sekali menemui mu," tutur Louis meneteskan airmata.


"Jangan berkata seperti itu." Elena menghapus airmata Louis dengan tangannya sendiri, "Aku akan menemui mu setelah ini, kau itu penting bagi ku entah sekarang atau pun dulu. Jangan terluka karena ucapan ku, sungguh aku tidak bermaksud menyakiti mu. Aku mungkin tidak mencintai mu dan tidak mengerti perasaan mu pada ku, sampai kau ingin menjelaskan sesuatu agar aku tidak meninggalkan mu, ketahuilah walau pun begitu aku sedang berusaha mencintai mu karena aku ingin merasakan hal yang sama dengan mu."


"Ini bukan bagian dari rencana ku, kenapa malah jadi begini? ini pasti pembalasan darinya. Dasar Louis," batin Kavana.


"Aku pergi. Sampai jumpa nanti malam," bisik Elena yang sukses mengukir senyuman di bibir Louis. Setelah itu Elena pergi lebih dulu menuju tempat tetua agung, ia meninggalkan dua pria yang saling melempar tatapan buruk di belakangnya.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘