The Second Chance To Change Destiny.

The Second Chance To Change Destiny.
Bab 57 Ancaman Liana.



Keesokan harinya Jovanka kembali ke kediaman Ransom, ada pelayan yang mengirim surat padanya jika Sonia hamil anak Ernest. Kabar ini sangat mendadak sampai sulit untuk dipercaya. Namun saat dia sampai di rumah, Jovanka melihat Ernest bermesraan dengan Sonia.


"Ernest." Teriak Jovanka membuat dua pasangan itu terkejut, bagaimana tidak? Jovanka pulang tanpa memberi kabar.


Ernest beranjak neninggalkan Sonia dan menghampiri sang ibu, "Ada apa bu? kenapa berteriak?"


"Sejak kapan? sejak kapan kalian berhubungan? apa kau tidak bisa menunggu sampai malam pertama pernikahan tiba. Aku tidak percaya ini dari mu." Amarah Jovanka tidak bisa ia kendalikan hal itu membuat Sonia sangat senang.


"Bu, ini terjadi saat kami tidak sadar karena mabuk. Lalu apa masalahnya? kita bisa langsung menikah sekarang kan? lebih cepat lebih baik."


"Tidak bisa. Wanita itu bisa menjadi tunangan mu bukan istri mu, jika kau sangat ingin menikahinya maka baiklah. Tapi sebagai selir, jika kau menolak maka jangan menikah dan lupakanlah anak haram itu."


"Ibu, kenapa ibu tega menghina cucu ibu sendiri?"


"Sadarlah Ernest. Keluarga kita adalah keluarga terhormat, dari waktu nenek buyut mu sampai ayah mu tidak ada kata hamil diluar nikah. Kalau pun memang ada karena terjadi secara tidak sengaja maka dalam aturan keluarga kita, tidak ada tempat untuk anak haram sampai kapan pun."


Ernest menjadi ragu lagi, ia menatap Sonia dengan perasaan sedih. Melihat itu Sonia merasakan firasat buruk.


"Jangan marah bibi." Kali ini Sonia angkat bicara, "Dia sudah bersumpah atas nama bibi untuk menikah dengan ku, lalu bersumpah atas nama anak kita untuk memberikan aku posisi duchess."


"Beraninya kau." Jovanka menampar Ernest karena menggunakan namanya untuk melakukan sumpah.


"Dasar anak tidak berguna." Jovanka beranjak pergi dari hadapan Ernest, Sonia kembali duduk pada tempatnya. Tidak ada yang peduli pada Ernest yang terluka karena keduanya sedang merasa kesal.


*****


"Sonia." Chika datang berkunjung ke kediaman Ransom, entah sejak kapan dia menjadi teman Sonia.


"Aku sudah bilang padamu, kau bisa datang jika aku undang. Kenapa kau datang sekarang?" tanya Sonia. Baru beberapa saat lalu Jovanka membuat keributan dan Sonia ingin istirahat sambil menunggu waktu makan siang tiba. Tapi, itu harus ia batalkan karena Chika.


"Kau pasti tidak akan percaya jika aku bilang. Aku bertemu Elena."


"Apa? El-Elena? kau serius?"


"Ya. Dia sedang berkeliling bersama seorang wanita asing, mereka terlihat sangat dekat bahkan berkali-kali keluar masuk toko barang-barang mahal. Entah apa yang mereka beli, bawaan mereka banyak sekali."


"Bawa aku ke sana, cepat!" perintah Sonia. Chika mengangguk lalu mengajak Sonia pergi naik kereta kudanya, ia sangat menantikan akan seperti apa reaksi Sonia melihat Elena.


Kereta kuda berhenti di depan butik paling mahal di ibukota, tanpa menunggu lama Sonia langsung turun lalu masuk ke dalam butik. Dulu saat masih menjadi teman Elena, Sonia ingin sekali ke butik ini. Namun Elena menolak membawanya berbelanja karena akses masuk Sonia tidak ada, dan itu membuat Sonia semakin kesal jika mengingatnya.


"Desain gaunnya bagus, El. Tapi warnya terlalu mencolok, kau tidak cocok pakai ini. Kau harus pakai gaun warna merah yang mengeluarkan aura seksi, semua mata akan terpikat pada mu. Percaya atau tidak kau harus mencobanya," ucap Liana. Namun diabaikan oleh Elena, karena ia tidak suka warna merah.


"Bagaimana dengan warna biru?" tanya Elena membuat Liana kesal.


"Jangan abaikan aku," jawab Liana. Ia menarik Elena pergi ke tempat gaun yang lain.


Prok prok prok


"Hebat sekali, Elena. Kau memilih gaun indah yang seksi untuk apa? apa kau ingin mengunjungi kediaman Ernest dengan gaun itu?" tanya Sonia membuat semua orang semakin mendekat, mereka mencium bau akan ada berita panas.


"Maaf. Tapi kau siapa?" Elena balik bertanya, hampir saja butik itu dipenuhi gelak tawa jika para penghuninya tidak menahan diri.


"Akting yang bagus. Baru pergi selama 3 tahun, kau lupa wajah ku? hebat sekali. Aku adalah Sonia mantan sahabat mu sekaligus tunangan Duke Ernest Ransom."


"Maaf. Selama 3 tahun terakhir aku selalu dikelilingi bau harum, jadi aku sedikit terkejut karena mencium bau yang asing. Bau kotoran kuda."


"Berani sekali kau menghina ku. Kau hanya putri marquess biasa, di depan Keluarga Ransom kau seharusnya menjaga sopan santun atau diri mu yang akan rugi."


"Sonia, dulu saat aku masih menjadi tunangan Ernest, aku tidak pernah sesombong diri mu. Kau baru menyandang gelar sebagai tunangan saja dan itu belum berarti kau sudah menjadi bagian dari keluarga mereka."


"Kenapa? kau mengatakan itu sampai membahas masa lalu, karena kau iri kan? aku tahu kau menyesal telah memutuskan semua hubungan mu dengan Ernest, dan aku yakin kau kembali karena kau sudah mendengar kabar kami akan menikah. Apakah kau ingin merusak acara pernikahan kami?"


"Aku sebenarnya tidak tahu kalian akan menikah atau tidak. Tapi aku tahu apa alasan kalian akan menikah, bahkan aku merasa jika kau tidak hamil maka Ernest tidak akan menikah dengan mu."


"Ba-bagaimana kau bisa tahu?" Sonia terkejut saat Elena mengatakan hal itu, begitu juga para penghuni butik.


"Aku tahu dari mana atau bagaimana itu tidak penting. Karena kau besok akan masuk surat kabar mungkin mendapatkan tempat di berita utama," jawab Elena tersenyum.


"Kesatria," panggil Sonia tidak lama 10 kesatria masuk ke dalam butik, "Tangkap dua wanita ini, mereka sudah menghina aku."


"Baiklah." Para kesatria itu langsung mendekati Elena karena ini perintah dari Sonia, mereka tidak mau terlibat masalah dengan menolak tuangan Duke Ransom.


"Tunggu!" Liana mencegah para kesatria itu saat mengeluarkan rantai tahanan.


Liana mengeluarkan tanda pengenal yang terbuat dari emas murni, tanda itu mereka gunakan untuk melewati portal tanpa membayar.


"Aku Liana Manley murid bagian dalam Menara Agung, dari pavilliun Elemen tanah. Dan dia Elena Abraham murid bagian dalam Menara Agung, dari pavilliun pemanggil. Apa kalian mau menangkap kami?" tanya Liana. Para kesatria itu langsung mundur, karena murid dari menara tidak bisa diganggu. Terdapat aturan jika mereka terlibat masalah akan langsung ke pengadilan, dan kaisar yang akan menjadi hakimnya. Namun jika terbukti mereka tidak bersalah hukuman berat karena telah menyinggung mereka adalah mati, itu sebabnya mereka sangat disegani jika berada di luar menara.


"Lalu untuk kau." Liana beralih menatap Sonia, "Kami tidak membuat masalah dengan mu, kau sendiri yang datang dan mencari masalah. Jika aku membawa kau bersama masalah mu sampai ke pengadilan maka nama mu akan terukir di batu nisan. Cobalah jika kau tidak kenal takut."


Sonia tidak mengatakan apa pun lagi, ia langsung berlalu dari butik itu dan kembali ke Kediaman Ransom. Para wanita penggosip langsung membentuk kelompok membicarakan masalah tadi, Elena tidak peduli karena memang itu yang dia mau.


"Kakak ku sangat hebat." Elena memeluk Liana yang gemetar dari belakang.


"Aku hampir pingsan tadi saat melihat rantai tahanan itu. Kelak aku tidak mau terlibat dalam masalah," jawab Liana membuat Elena tertawa. Liana tegas dari luar. Tapi, takut setengah mati dari dalam.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘