
"Apa?" suara teriak Naina terdengar sampai keluar dari kamarnya.
"Jangan berteriak! itu hal umum, semua manusia tahu," jawab Alvaro bersikap biasa saja.
"Bukan itu intinya kak. Ada wanita yang mengatakan pakaian ku seperti pakaian wanita dari rumah bunga, jadi dia mengatakan secara tidak langsung aku ini sama seperti seorang penghibur. Kakak lakukan sesuatu! aku ini putri dari kaisar timur, penghinaan pada ku sama saja dengan penghinaan pada ayahanda."
"Apa kau yakin? jika benar maka aku tidak akan mengampuni orang itu. Kita datang untuk membahas pertunangan mu, sebagai tamu Keluarga Kerajaan maka tidak ada yang bisa menghina kita. Besok aku akan meminta keadilan dari kaisar."
"Tidak. Kita tidak akan meminta keadilan pada kaisar, karena kita tidak punya buktinya."
"Kalau memang begitu kakak punya ide bagus, malam nanti ada perjamuan untuk menghormati kedatangan kita ke mari. Jadi mari kita balas hinaan wanita itu."
"Apa kakak yakin akan berhasil?"
"Tentu. Kita adalah keluarga kerajaan, sedangkan wanita itu hanya wanita bangsawan biasa. Kau hanya perlu mengatakan yang mana wanita itu sisahnya serahkan pada ku," jawab Alvaro. Ia sudah mempersiapkan rencana yang sempurna.
*****
Sonia mengamuk dalam kamar sekembalinya dia dari bertemu dengan Elena, ia merasa sangat kesal sampai sulit untuk mengontrol amarahnya.
"Apanya yang berkorban untuk ku. Kau melepaskan Ernest harus aku akui itu benar. Tapi kau menghina ku, aku harus menderita selama 4 tahun di bawah penghiaan banyak orang. Aku benci kau Elena," teriak Sonia.
"Aku tidak percaya kau telah merelakan Ernest. Aku tidak akan bisa dibodohi oleh mu, jika sampai Ernest tertarik pada mu maka aku akan merebut Louis dari mu. Percaya atau tidak kita lihat saja nanti, aku adalah Sonia wanita paling berbisa. Selama aku tidak bahagia maka jangan harap aku mengizinkan kalian bahagia," batin Sonia.
"Nona, anda sedang hamil. Tolong kendalikan diri anda, amarah tidak baik untuk kesehatan anda dan bayinya," ucap salah satu pelayan.
"Tidak baik kenapa? ini bayi ku, aku bisa melakukan apa pun padanya sesuka hati ku. Apa peduli mu? kau hanya seorang pelayan. Pelayan itu harus diam, dan mematuhi semua perintah majikannya. Kau belum pantas menasehati ku apa yang baik dan buruk," balas Sonia membuat beberapa pelayan langsung menunduk.
"Maafkan saya, nona. Tapi ini anjuran dari dokter, saya juga pernah hamil jadi saya tahu apa yang baik bagi ibu hamil dan bayinya. Saya tidak berniat menasehati atau mengajari anda."
"Diam!" Sonia menampar pelayan itu, kuku jari manis Sonia sampai patah dan wajah pelayan itu tergores.
Melihat darah mengalir dari luka rekannya, para pelayan merasa kasihan. Namun, mereka juga tidak berdaya di depan Sonia.
"Keluar kalian semua!" perintah Sonia. Tanpa menunggu lama para pelayan langsung keluar dari kamarnya.
"Bayi ini adalah penghalang bagi masa depan ku. Jika aku melahirkan anak ini maka hidup ku hanya akan berputar dalam kediaman ini, Elena sudah terbang bebas seperti burung bahkan mendapatkan kehormatan sebagai seorang murid menara. Aku memang ingin berada di samping Ernest. Tapi bukan berarti aku tidak mau bebas, aku ingin bebas sampai melampaui Elena dengan begitu Ernest hanya akan melihat ku seumur hidupnya," gumam Sonia berpikir keras untuk melampaui Elena.
"Bagaimana caranya? apa aku harus melahirkan anak ini dulu baru pergi ke menara? atau melenyapkan bayi ini sebelum dia lahir? Ernest masih bisa jatuh cinta lagi pada Elena setelah melihatnya, anak ini belum tentu bisa mengikat Ernest sepenuhnya maka aku akan melenyapkannya," batin Sonia.
Sonia berjalan keluar dari kamar sambil berpikir cara untuk menggugurkan kandungannya, ia berjalan di sekitar railling lantai 2.
"Cepatlah," perintah Jovanka pada para pelayan yang sedang mencuci kakinya. Setelah selesai mencuci kaki pelayan memakaikan sepatu berhak tinggi pada Jovanka, dengan sepatu itu penampilan Jovanka menjadi sangat sempurna.
"Selamat jalan nyonya besar." Para pelayan memberikan salam saat Jovanka berjalan menuju anak tangga.
"Ada apa?" tanya Jovanka dengan nada ketus.
"Bibi, mau ke mana? aku ikut. Sebenarnya bukan keinginan ku untuk ikut dengan bibi, hanya saja ini karena bayi ku dan …."
Jovankan memotong ucapan Sonia dengan berkata, "Aku akan pergi menemui Elena. Sekarang dia bukan hanya cantik saja, dia juga memiliki reputasi yang sangat bagus. Surat kabar hari ini menerbitkan jika Elena Abraham telah menjadi murid bagian dalam menara agung, maka aku harus menemuinya dan meminta dia kembali pada Ernest."
"Percuma, bibi. Ernest sudah mencintai ku, dia sudah melupakan Elena sepenuhnya. Semua yang akan bibi lakukan sia-sia saja."
"Tidak. Aku sudah mengirim surat pada Ernest untuk kembali karena Elena ada di ibukota, lengkap dengan bukti gambar hari ini. Jadi dia pasti percaya," ucap Jovanka membuat Sonia melotot padanya.
"Kau yang memaksa ku bibi," ucap Sonia. Ia tersenyum kecil lalu menjatuhkan dirinya, respon Jovanka sangat bagus ia langsung menahan tangan Sonia. Namun Sonia tidak bodoh, ia melepaskan diri dari genggaman Jovanka dan membiarkan dirinya jatuh terguling-guling di anak tangga sampai ke lantai dasar.
Para pelayan berteriak histeris dan berlari menghampiri Sonia, Sonia yang tidak sadarkan diri mengalami pendarahan hebat.
"Sial! aku terlalu meremehkan wanita ini," batin Jovanka yang pucat pasi.
*****
Elena jadi tidak bersemangat saat menemani Liana jalan-jalan, itu karena perdebatan antara dia dan Sonia barusan serta surat kabar yang menerbitkan kejadian di butik.
Liana tahu satu-satunya orang yang bersemangat pagi ini hanya dia, dia tidak tahu apa yang terjadi sampai Elena dari tadi bertindak seperti mayat hidup.
"Aku rasanya ingin kembali ke Daratan Agung. Aku benci berada di sini, sejak baru sampai hingga saat ini masalah dari masa lalu selalu saja datang. Kapan mereka akan berhenti mengincar ku?" gumam Elena. Namun, terdengar jelas oleh Liana.
"Jalan-jalannya sampai di sini saja, kita cari makanan enak lalu pulang. Bagaimana?" usul Liana, Elena hanya menatapnya lalu tertunduk lesu.
"Jalan-jalannya menjadi tidak seru karena aku hanya sendirian," ucap Liana membuat Elena mendongkak.
"Apa maksud mu? kau anggap apa aku ini?" tanya Elena yang jengkel.
"Ah! ada sudah manusia rupanya? ku kira tadi mayat hidup, habisnya kau diam saja sejak tadi."
"Maafkan aku. Begitu banyak masalah yang datang pada ku setiap hari, aku lelah Liana. Aku ingin memeluk Leon atau Elios, mereka itu penyemangat ku. Aku mencintai mereka berdua," gerutu Elena dengan wajah cemberut. Liana tersenyum karena baru kali ini Elena bersikap manis di hadapannya, biasanya dia selalu tegas atau bersemangat.
"Dia mencintai pria lain? tapi kapan? siapa dua pria yang dia sebutkan tadi lalu bagaimana mereka bisa merebut hati Elena? Ya tuhan, apa aku benar-benar tidak punya harapan lagi?" batin Louis kalang kabut. Tadinya dia datang ke tempat istirahat itu untuk melepas lelah. Tapi saat melihat Liana dan Elena mendekat ke tempat itu, ia dengan cepat menutupi dirinya karena masih malu bertemu dengan Elena. Siapa sangka dia malah salah paham dengan percakapan kedua wanita itu.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘