The Second Chance To Change Destiny.

The Second Chance To Change Destiny.
Bab 111 Membuatnya terlalu sakit.



Elena yang tidak sadarkan diri di bawah oleh Elios ke tempat yang telah tetua agung siapkan, di sana Elena akan tinggal untuk sementara demi menghindari raja para dewa.


Setelah Elena sadar ia sempat keheranan. Namun Liana menjelaskan segalanya pada Elena, dengan semua ucapan Liana membuat keyakinan Elena semakin kuat jika ada hubungan tersembunyi antara dia dan Alden.


"Aku tidak akan murung atau terguncang kali ini. Aku pasti bisa menemukan kebenaran tentang diri ku sendiri, pertama aku mulai dari Elios lalu melakukan tes darah dengan ibu atau ayah. Jika memang aku bukan putri mereka maka aku akan … berpikir jauh ke depan," batin Elena.


"Kakak, aku bawakan bubur." Elios masuk bersama dengan Leon membawa mangkuk berisi bubur.


"Maaf yah merepotkan kalian," ucap Elena bersikap seperti biasa.


"Kakak ini bicara apa? mana pernah kakak merepotkan kami," jawab Elios. "Mau aku suapi?"


"Tolong yah," jawab Elena. Elios pun duduk di tepi ranjang dan menyuapi Elena.


"Kak, apa kakak tidak ingat kakak berada di mana tadi? dan apa yang terjadi pada kakak selama di sana?" tanya Leon.


"Ada hal yang aneh di sini. Pertanyaan itu seharusnya keluar dari mulut Elios bukan Leon," batin Elena diam-diam melirik Elios yang tetap tenang menyuapinya.


"Kakak tidak ingat apa-apa. Ruangan itu gelap dan pengap, kakak pingsan setelah beberapa saat di dalam ruangan itu," jawab Elena berbohong.


"Bagaiamana kakak tau jika kakak berada di dalam sebuah ruangan padahal saat itu gelap dan pengap?" tanya Leon lagi.


Elena tersenyum kecil, "Ya ampun, Leon kami menjadi sangat teliti setelah dewasa. Saat itu kakak sempat menemukan sebuah pintu, awalnya kakak tidak yakin itu pintu masuk atau pintu keluar. kemudian kakak berpikir, jika itu pintu masuk ke sebuah ruang maka pasti ada sedikit cahaya yang menyinari tempat kakak, sayangnya saat itu tidak ada setitik cahaya pun jadi kakak yakin itu pintu keluar ruangan yang tidak berventilasi atau mendapatkan cahaya."


Elios menatap Leon selama beberapa saat, Leon yang mengerti kembali bicara dan mengubah topik secara perlahan setelah Elena menghabiskan makanannya kedua pria kecil itu langsung keluar dengan alasan mereka punya banyak pekerjaan.


"Memanggil Auretta, Admon." Elena memanggil kedua spiritnya.


"Auretta kau awasi Elios mulai dari sekarang, laporkan apa saja serta apa dia lakukan. Lalu Admon, awasi Leon karena aku merasa ada yang aneh dari mereka berdua," perintah Elena.


"Nona, sedang meragukan adik nona?" tanya Auretta dengan raut wajah cemas.


"Tidak sama sekali. Kau hanya ingin tau apa yang mereka sembunyikan dan untuk apa," jawab Elena.


Auretta tidak berani bertanya lebih jauh karena Elena selalu melakukan sesuatu dengan alasan yang tepat, begitu juga dengan Admon. Setelah mereka pergi Elena menulis surat untuk Fil, ia meminta Alara mengirim surat itu secepatnya.


Tidak lama kemudian kristal komunikasi Elena menyala, Elena menyalurkan tenaga dalamnya ke kristal itu untuk melihat pesan masuk.


Ternyata itu bukanlah pesan melainkan rekaman dari Auretta, saat ini ia sedang mengawasi Elios yang datang ke dunia bawah.


Plak!


"Kenapa? kenapa kalian sangat egois?" teriak Elios dengan suara serak.


"Kau jangan menyalahkan mereka, ini semua ide ku," jawab Hans. Ia juga ada di sana bersama Jolycia, Rafael, dan Euros.


"Aku tidak peduli ini ide siapa. Aku hanya peduli pada keponakan ku, pada Elena. Kenapa kalian tidak mau mengerti?" Elios menumpahkan amarahnya di depan mereka semua, "Kebenaran ini belum bisa kita tunjukan sekarang."


"Kau sudah mengatakan itu lagi dan lagi, mau kau katakan sampai kapan? tahta kerajaan ini sudah lama tidak ada pemilik setelah Alden meninggal, harus ada yang mengisinya," sela Teodora.


"Dia benar," tambah Euros.


"Diam kau!" Elios melempar meja ke arah Euros, beruntung pria itu bisa menghindar. "Kau berusaha menjauhkan Elena dari kami, lalu sekarang kau malah berbalik membantu kami. Kau mengkhianati Alfred karena kau sudah lihat wajah aslinya, dan tanpa rasa malu kau langsung berpihak pada kami semata-mata untuk mencari perlindungan."


"Itu tidak benar. Aku sudah bersumpah," jawab Euros.


"Cih! siapa yang tau sumpah itu benar atau tidak, sama seperti teman seseorang." Elios menatap Hans.


"Aku tahu itu salah ku. Tapi aku juga sahabat Rani, Elena keponakan ku juga," ucap Hans.


"Hah? benarkah? lalu di mana kau saat Rani paling membutuhkan mu? dia yang sedang hamil Elena saat berlari menemui mu untuk meminta bantuan karena Alden kekurangan pasukan saat itu, bagaimana jawaban mu? kau hanya diam dan langsung berbalik pergi begitu saja." Elios mengingatkan Hans akan kejadian pahit di masa lalu.


"Kalian mengatakan ini demi Elena, itu untuk Elena. Tapi apa kalian pernah berpikir perasaan Elena? perasaan Alden? Alden menemui ku di hari pertama aku menyadari siapa Elena, dia berniat menyembunyikan rahasia tentang Elena sampai waktu yang tidak menentu. Kenapa? karena dia tidak mau Elena membencinya sebagai ayah yang gagal. Jika Elena tahu siapa dia sebenarnya maka hal pertama yang akan dia katakan. Hal itu tidak benar, mereka bukan orang tua ku, dan aku bukan anak mereka. Bayangkan sehancur apa Alden saat itu? sesakit apa Rani? dan pada akhirnya hanya ada kebencian yang tersisa dihati Elena untuk kita. Dia pasti akan berpikir mereka membuangnya," jelas Elios kemudian terkulai lemas dilantai.


Elena meremas selimutnya dan mulai terisak, kenyataan ini bagaikan batu besar yang menimpa dada Elena. Ia merasa sangat sesak.


"Maafkan kami." Mereka serempak berlutut di depan Elios dengan wajah tertunduk.


"Bagi ku, tinggal bersama kalian tidak masalah maka dari itu mari kita biarkan Elena tetap pada kehidupannya. Aku sudah menganggap kalian sebagai keluarga ku, tidak masalah jika keluarga kami tertukar." Jolycia berlutut di depan Elios lalu memeluknya, "Di mana ada kasih sayang dan cinta maka di sana ada keluarga."


Elena melepaskan tangannya dari kristal itu. Ia tidak ingin menyalahkan kedua orang tuanya sebab yang menderita di sini bukan dia, ia memiliki keluarga yang baik tidak seperti Jolycia karena dia menderita selama 30 tahun. Namun, dia tetap bersikap dewasa. Oleh karena itu, Elena bertekad akan memberikan Jolycia haknya kembali dan ia pun akan kembali ke orang tua yang paling mencintainya.


"Aku mungkin tidak tahu kedua orang tua kandung ku itu seperti apa. Tapi aku akan mengetahui itu nanti, lalu belajar mencintai mereka. Aku yakin mereka adalah orang yang baik hanya dengan melihat orang-orang disekeliling mereka. Ini sangat berbeda dengan kehidupan sebelumnya, banyak rahasia yang tidak pernah aku ketahui secara mendadak terbongkar satu persatu," batin Elena.


Walau pu nidentitasnya sudah dipastikan bukan putri asli keluarga Abraham, ia tetap ingin melakukan pengunjian dengan kristal darah. Setidaknya mengetahui kebenaran itu sebelum hasil tes keluar tidak akan membuatnya terlalu sakit.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘