The Second Chance To Change Destiny.

The Second Chance To Change Destiny.
Bab 27 Bertemu lagi.



Yoluta mendapatkan kabar dari mata-mata yang ia kirim jika Elena telah keluar dari ibu kota, sayangnya lokasi pasti Elena saat ini masih dalam pelacakan.


Karena kabar itu lah Yoluta masuk ke gudang senjata untuk mengambil senjata kesayangan penguasa monster, ia akan memberikan senjata itu pada Elena.


"Apa kau sudah dapat yang kau cari?" tanya Casey dari depan pintu gudang.


"Bantulah aku mencari, kenapa hanya aku saja yang melakukan banyak hal?" teriak Yoluta dari dalam.


"Damian sedang berlatih bersama para pasukannya, dan aku tidak suka tempat kotor. Jadi karena kau luang maka pekerjaan mu paling banyak."


"Aku tidak percaya kalian melakukan ini pada ku. Lagi pula siapa yang membuat senjata berharga ditumpuk bersama barang bekas?"


"Penguasa kita sangat kuat pada masa jayanya, dia tidak butuh lagi semua jenis senjata. Oleh karena itu, semua senjatanya berakhir di dalam sana."


"Sudah 1 jam aku mencari di dalam sini. Tapi kenapa senjata itu tidak bisa aku temukan,  aku mulai kesal sekarang."


"Carilah dengan benar jika kau butuh api maka katakan saja, aku dengan senang hati akan memberikannya," ejek Casey tertawa kecil membuat Yoluta benar-benar kesal.


"Ketemu!" Yoluta berteriak kegirangan saat ia memukan tombak merah dengan ujung pisau yang masih berkilau.


Yoluta pun bergegas keluar dari dalam gudang lalu ia pergi membersihkan tombak tersebut, Casey sendiri ikut terpesona melihat betapa indahnya tombak yang pernah merengut nyawa ribuan orang itu.


"Kalian sedang apa?" tanya Damian yang baru saja selesai latihan. Ia datang ke sana untuk mencuci muka.


"Lihat ini!" Yoluta menunjukan tombak yang membuat ingatan Damian kembali ke ratusan tahun lalu.


"Sudah lama yah." Damian menyentuh ujung tombak itu dengan wajah tersenyum, "Tapi kenapa di keluarkan lagi?"


"Itu lah rencana baru ku. Master sudah keluar dari ibu kota maka aku akan menjalankan misi menjadi teman dekatnya, setelah kita dekat aku akan berikan tombak ini sebagai hadiah dan membuat master minum ramuan mu setiap hari. Hahahahaha." Yoluta tertawa terbahak-bahak membayangkan rencana yang entah akan berhasil atau tidak.


"Rencana yang bagus." Damian mengelus kepala Yoluta.


"Aku akan mengantar mu ke tempat master berada. Kita adalah pedamping master selama ratusan tahun, jika kita sudah melihat master maka aku juga akan melihatnya. Master sebagai seorang wanita pasti sangat anggun," ucap Casey membayangkan wanita cantik yang anggun.


*****


"Berani sekali kau mencoba menyerang ku dari belakang. Makan ini, makan!" Elena menginjak tubuh pria itu tanpa ampun, ia benar-benar marah sampai di luar kendali.


Setelah pria itu kesakitan Elena baru puas. Tapi pria itu tidak mengalah begitu saja, ia mengancam Elena hingga akhirnya ia pergi melarikan diri.


"Terima kasih kakak," ucap anak kecil itu pada Elena.


"Hah? apanya yang terima kasih? kau mencuri kantong uang ku lalu kenapa malah berterima kasih, minta maaflah!" perintah Elena. Karena anak ini ia hampir saja membuatnya mengemis di jalanan.


"Sebenarnya aku sengaja mencuri itu agar kakak mencari ku. Aku ingin meminta tolong pada siapa saja. Tapi tidak ada yang akan peduli pada ku, aku hanya anak dari keluarga miskin dan pria itu selalu menindas aku bersama kakak ku. Maafkan aku kak," jawab anak itu.


"Siapa nama mu?" tanya Elena, ia merasa sayang melihat anak itu.


"Le-Leon. Aku adalah anak yang rajin dan pintar, kakak ku sering memuji aku. Kakak kelihatannya orang kaya, apa kakak mau ambil aku sebagai pekerja di rumah kakak?" tanya Leon membuat Elena tertawa kecil.


"Kenapa harus jadi pekerja? jadi adik ku saja. Anak kecil harus hidup bahagia di masa kecil agar tumbuh dengan baik, jika tumbuh dengan baik maka nanti kau akan menjadi orang besar. Tapi untuk sekarang jadi adik dulu, karena rumah ku jauh nanti aku akan membawa mu ke sana."


"Dasar bodoh. Bukan besar yang seperti itu, sini." Elena menggendong anak itu, "Ayo! Kita pulang ke rumah mu, kakak lelah dan butuh istirahat."


"Ayo!" sorak Leon dengan penuh semangat.


Mereka berjalan cukup jauh dari bangunan tua itu. Leon mengarahkan jalan dengan sangat baik, sampai Elena di buat menyesal telah memarahi anak kecil semanis Leon.


"Sampai." Leon memaksa turun lalu ia berlari ke depan rumahnya, "Ini rumah ku."


Belum juga Elena sampai di sana Liana keluar dari dalam rumah lalu memeluk Leon.


"Dari mana saja kau? apa pria itu menyakiti mu lagi? kan kakak sudah bilang jangan buka pintu jika dia datang, dia akan menyakiti mu. Leon adalah anak baik jadi harus patuh pada kakak. Apa kau mau jadi anak nakal?" Liana melontarkan begitu banyak pertanyaan dengan raut wajah cemas.


"Kakak, aku baik-baik saja" Leon melepaskan pelukan Liana. Lalu ia menunjuk ke arah Elena, "Kakak itu menolong ku."


"Siapa?" Liana menoleh ke arah yang di maksud oleh Leon, dan alangkah dia terkejut melihat Elena berdiri tidak jauh dari mereka, "Kau kan Irene."


"Lama tidak bertemu. Apa aku boleh masuk? aku lelah berdiri sejak tadi," keluh Elena. Liana dengan senang hati langsung mengajaknya masuk.


Liana menyajikan teh hijau seadanya untuk Elena, sementara Leon memberikan beberapa potong roti keras.


Elena menikmati sajian itu bahkan ia makan lahap sekali. Liana senang karena Elena tidak terlihat jijik atau sejenisnya saat makan di rumah tua mereka.


"Kenyang!" Elena lega sambil menepuk perutnya sama dengan Leon, melihat itu Liana  tertawa.


"Kalian benar-benar mirip," ucap Liana. Elena dan Leon saling tatap lalu berpelukan.


"Terima kasih Elena. Maafkan aku karena tadi pergi tanpa mengatakan apa pun, aku teringat pada Leon yang hanya sendirian di rumah jadi aku menerobos gerbang kota untuk masuk. Maafkan aku sampai lupa mengajak mu." Liana tulus meminta maaf dan itu terlihat dari tatapannya.


"Aku tidak akan memaafkan mu semudah itu. Kau harus menebus kesalahan mu dengan ikut bersama ku begitu juga Leon, dia juga sudah melakukan kesalahan," balas Elena membuat Loen dan Liana ketakutan.


"Kelak kalian jangan tinggal di sini lagi. Karena kau adalah petualang Liana maka kau harus ikut berpetualang bersama ku, bawa Leon juga. Jika aku puas maka kita akan pulang ke rumah ku, itu syarat mendapatkan kata maaf dari ku. Masalah pria itu, jika dia menganggu kalian  lagi maka aku yang akan membereskannya," lanjutnya.


"Tapi dia itu adalah bangsawan, orang biasa seperti kita bukanlah …."


"Sssttt." Elena menutup mulut Liana dengan jari telunjuknya, "Itu urusan ku nanti, jadi serahkan saja pada ku."


"Ayo! tim petualang Elena, kita pindah!" teriak Elena mendapatkan sorakan dari Leon.


"Aku tidak tau apa ikut dengan mu adalah pilihan buruk atau tidak, aku akan berusaha percaya pada mu saat ini. Hati ku berkata kau orang yang baik semoga itu tidak salah, lagi pula tempat ini tidak aman lagi bagi kami," batin Liana.


Elena mengajak mereka ke penginapan terdekat, Elena membayar kamar dengan 2 tempat tidur seharga 3 koin emas lengkap dengan pelayanan kelas atas. Mereka menghabiskan waktu dengan bercerita, Elena ingin tahu seperti apa kota ini dan Liana menceritakan semuanya. Karena terlalu fokus tanpa mereka sadari hari sudah gelap. 


Setelah makan malam bersama, Liana pergi membeli beberapa makanan ringan ia tau Elena makannya banyak maka dari itu Liana menyiapkan camilan tengah malam. Sesampainya di kamar Elena sudah tertidur bersama dengan Leon di pangkuannya. Liana tidak tau sudah berapa lama ia tidak melihat Leon sedekat ini dengan orang lain selain dirinya.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘