
Hans tidak akan menduga jika kepercayaannya akan Alfred telah di khianati, seharusnya ia sadar sejak awal Alfred bukanlah pria yang baik.
Masa lalu Hans ….
Dulu saat Hans masih tinggal di dunia atas, ia berteman baik dengan Alfred. Tidak ada yang aneh dalam kepribadian Alfred, dia anak yang sempurna di mata banyak orang.
Datang suatu waktu Hans dan Alfred pergi ke dunia manusia lagi untuk berlatih, mereka berlatih demi merebut hati banyak manusia yang mendapatkan kekuatan mereka dan menjadi keturunan mereka.
Saat itulah Rani muncul dalam kehidupan mereka berdua, Rani adalah gadis yang nakal dan sangat berbeda dengan gadis bangsawan lainnya. Ia bermain dengan para pria hingga di benci banyak gadis seusianya, Hans sendiri tidak suka pada sikap nakal Rani.
Ada suatu ketika Hans kembali dengan raut wajah kesal ke kediaman tempat ia tinggal bersama Alfred, seluruh tubuh Hans kecil itu basah dan penuh dengan lumpur.
"Kau kenapa?" tanya Alfred yang enggan mendekati Hans.
"Rani dan teman-temannya itu menyirami ku dengan air, lalu melempari aku dengan lumpur. Mereka keterlaluan dan tidak bisa di maafkan," jawab Hans.
Raut wajah Alfred menjadi datar saat itu. Namun Hans tidak menyadarinya, ia tidak tahu saat itu Alfred telah memberikan tempat khusus bagi Rani di hatinya.
"Pelayan, bawakan 5 guci air. Bersihkan tubuh Hans sebelum dia melangkah masuk ke dalam kediaman," perintah Alfred kepada para pelayan.
"Tch! kotor sekali," ucap Alfred seraya berlalu dari sana, Hans polos yang mendengar ucapan itu hanya merasa kata kotor maksud Alfred adalah lumpur di tubuhnya.
Alfred kembali ke kamarnya lalu ia mengambil pisau lipat dari dalam laci, diam-diam ia keluar dari kamarnya dan masuk ke dalam kamar Hans.
"Berani sekali dia menghina Rani. Rani adalah gadis yang baik hanya sedikit nakal, salahnya sendiri tidak mau berteman dengan Rani. Dasar anak penyendiri! jika aku tidak mendekati mu lebih dulu saat itu maka kau tidak akan punya teman, anak kematian seperti mu tidak pantas menghina Rani," batin Alfred.
Alfred menikam burung kesayangan Hans, burung itu sudah menjadi teman baginya sejak kecil maka Alfred membunuh burung itu sebagai hukuman karena Hans telah menghina temannya.
Setelah tau burung itu mati Hans menangis sangat kencang, ia menyalahkan para pelayan yang tidak becus menjaga kamarnya. Sementara Alfred tanpa perasaan bersalah, berani menenangkan Hans seolah ini terjadi bukan karena dirinya.
Waktu terus berlalu Alfred menjadi sangat dekat dengan Rani lalu perlahan semua teman Rani mulai menjauh dengan alasan yang tidak jelas, Hans sendiri enggan mendekati Rani jika dia datang ke kediaman atas undangan Alfred.
"Meleset lagi," batin Hans. Ini sudah yang kesekian kalianya dia gagal mengenai sasaran saat berlatih memanah.
Pak!
Satu anak panah melesat dengan cepat mengenai papan sasaran Hans, Hans terkejut dan mulai mencari siapa yang melepaskan panah itu.
"Hei! di sini!" Rani berteriak pada Hans seraya melambaikan busurnya.
"Hah? bagaimana kau bisa memanah dengan jarak 100 meter jauhnya? itu adalah jarak latihan untuk orang dewasa," ucap Hans tidak percaya.
Rani meluncurkan satu anak panah lagi untuk membuktikan jika ia bisa, dan benar saja lagi-lagi dia berhasil. "Bagaimana? hebat tidak? aku ini anak genius."
"Mau aku ajari tidak? ini gratis loh," goda Rani membuat Hans jadi bimbang.
"Kau nakal, aku tidak mau dekat dengan anak nakal seperti mu. Lupakan saja, aku bisa menyewa pemanah hebat untuk melatih ku," tolak Hans.
"Dasar pendendam. Apa kau masih marah karena hal itu? maafkan aku yah, aku pikir kau akan suka. Lagi pula bukan aku yang melempari mu dengan lumpur. Aku sudah minta maaf, mau bermain dengan ku tidak?"
"Percuma. Hanya anak-anak terpilih saja yang bisa bermain dengan ku, kau tidak mungkin tahan."
"Kita tidak akan tahu jika tidak mencobanya, mau coba?"
"Baiklah, asal kau tidak akan nakal."
Karena kejadian itu keduanya menjadi teman, Rani sering mengikuti Hans membaca buku, minum teh, dan berlatih menggunakan senjata. Bagi Rani ini sama sekali tidak membosankan bahkan dia sangat betah.
"Yosh! ini buku terakhir hari ini. Aku harus cari Rani dulu sebelum pulang," batin Hans seraya turun dari atas meja dan mulai menyelusuri perpustakaan untuk mencari Rani.
"Eh! Alfred, kau di sini?" tanya Hans yang tidak sengaja bertemu dengan Alfred.
Bugh!
Alfred memukul Hans sekuat tenaga membuat Hans terjatuh ke lantai, "Kata mu tidak mau berteman dengan Rani, lalu akhir-akhir ini kalian menjadi dekat bahkan kemarin kau pergi bersama keluarganya berburu tanpa mengajak aku. Aku ini adalah teman sejati mu bukan Rani, maka jangan terlalu dekat dengan Rani."
"Yang benar saja kau, untuk apa kau cemburu pada Rani. Rani teman ku karena dia suka apa yang aku sukai, kemarin pergi berburu itu juga karena di undang olehnya. Aku tidak akan meninggalkan mu sendirian jika keadaan tidak memaksa, kau itu teman pertama ku," balas Hans. Dia salah mengira maksud Alfred.
"Kalau begitu kembali lah, jangan cari Rani. Aku yang akan menggantikan mu mencarinya," ucap Alfred. Demi menjaga perasaan Alfred, Hans pun pergi dari perpustakaan dan kembali ke kamar.
Alangkah terkejut Hans mendapati kamarnya berantakan, semua barang-barangnya rusak bahkan pakaian di dalam lemari telah berhamburan di lantai dalam keadaan robek semua.
"Siapa yang melakukan ini?" teriak Hans menggemparkan kediaman Alfred.
Tidak lama kemudian Alfred dan Hans kembali ke dunia atas. Namun saat usia mereka sudah dewasa, Hans dikirim ke dunia bawah karena sudah waktunya dia mewarisi tahta sang ayah sebagai dewa kematian.
Hans menjadi jarang bertemu dengan Alfred mau pun Rani, sampai saat itu Alfred datang sendiri untuk menemuinya.
"Hans." Alfred begitu sampai ia langsung memeluk Hans, pelukannya sangat erat membuat tubuh Hans sakit.
"Lepaskan dulu." Hans melepaskan pelukan Alfred secara paksa, "Apa yang terjadi? kau terlihat sangat kesal."
"Lihat aku. Apa aku tampan?" Alfred balik bertanya tanpa menjawab Hans.
"Ya, kau memang tampan. Kenapa?"
"Lihatlah baik-baik, apa benar tampan?"
"Kau ini kenapa? wajah mu memang tampan bahkan sangat tampan bagi ku."
"Tidak mungkin." Alfred menutupi wajahnya.
Brak.
"Yahooo, Hans. Lama tidak bertemu," teriak Rani yang menerobos masuk ke dalam aula utama Kerajaan Kematian.
"Ra-Rani? kau di sini?" Hans terkejut melihat Rani, ia menatap Rani dan Alfred bergantian.
"Tentu saja, sekarang kita tetangga. Aku akan … eh! Alfred pun ada di sini?" Rani berlari mendekati Alfred, "Ada apa ini? kau mengunjungi Hans rupanya, tanpa mengatakan apa pun pada ku. Curang."
"Hahahaha, maaf. Selepas dari sini aku berniat mengunjungi mu untuk kejutan," jawab Alfred tersenyum pada Rani.
Mereka berdua mungkin terlihat baik-baik saja di mata orang lain. Namun tidak di mata Hans, ia tahu ada yang terjadi diantara mereka dan menjadi penyebab keluarnya pertanyaan aneh dari Alfred tadi.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘