The Second Chance To Change Destiny.

The Second Chance To Change Destiny.
Bab 60 Harga dari sebuah persahabatan.



"Kenapa dia belum kembali?" batin Liana yang mulai bosan membaca buku.


Liana menatap keluar jendela, karena perpustakaan ada di lantai 3 jadi Liana bisa melihat taman bangunan ini dari atas, di taman itu ada seorang pria yang sedang menyiram tamanan di sana.


"Aku akan ke sana," batin Liana. Ia nekad keluar dari perpustakaan sendiri, beruntung ia berhasil menemukan jalan menuju ke taman.


"Tanamannya segar semua," ucap Liana tersenyum pada pria yang sedang menyiram bunga, pria itu membalas senyumannya.


"Aku merawatnya sendiri. Kau suka?" tanya pria itu. Liana mengangguk.


"Baguslah. Kau suka bunga apa? ibu ku paling suka tulip, jadi aku memberikan bunga itu perawatan khusus. Lihatlah sesuka hati mu."


"Terima kasih." Liana pun melihat semua bunga di sana dan sesekali mencium aroma manis yang keluar dari setiap bunga.


"Hai Luca! apa kabar mu?" tanya seorang wanita yang mendekati keduanya. Wanita itu memakai rok panjang sampai pada mata kaki, lalu baju ketat sebatas dada berlengan pendek. Wanita berkulit hitam manis, dengan rambut bergelombang panjang membuat Liana terpesona dengan kecantikannya


"Kabarku baik, Naina. kau sudah sampai rupanya, aku senang melihatmu setelah sekian lama." Luca memeluk gadis itu lalu melepaskan pelukannya setelah beberapa saat.


"Tapi aku tidak senang saat melihat mu, apalagi berdua saja dengan seorang wanita. Kau tidak lupa kan kalau kita akan di jodohkan?"


"Naina, dia adalah teman ku. Kami belum kenalan karena baru saja bertemu, dia sangat suka bunga sama seperti ku jadi aku anggap saja dia teman ku."


"Cukup! aku tidak butuh penjelasan mu. Aku sudah berjanji wanita mana pun jika sampai ku lihat bersama dengan mu, akan ku beri pelajaran sampai dia tidak berani berdiri di dekat mu lagi," pungkas Naina.  Lalu ia berjalan mendekati Liana, "Kenapa kau menatap ku seperti itu? apa kau tidak pernah melihat wanita cantik atau pakaian wanita timur?  bagi ku itu hal yang wajar karena tidak semua orang kekaisaran ini punya uang dan bisa pergi ke Kekaisaran timur, kau juga tidak pernah kan? gaun mu cukup mahal dilihat dari bahannya, hanya saja gaun berlengan panjang mu itu seperti pakaian musim dingin. Apa kau tidak gerah memakainya?"


"Banyak omong," timpal Elena yang baru saja datang, ia mendengar semua yang Naina katakan.


"Memangnya apa masalah mu dengan pakaian Ashraf? cuaca di sini memang dingin, hati-hati kau bisa saja masuk angin karena pakaian mu yang terlalu tipis dan terbuka. Angin dingin bisa datang kapan saja, jadi warga Ashraf lebih banyak memakai gaun panjang berlengan panjang, lagi pula gaun kami bahannya bagus jadi tidak akan membuat pemakainya gerah. Dan alasan kenapa saudari ku terkejut dengan pakaian mu, itu bukan karena dia tidak pernah melihat. Akan tetapi pakaian mu itu jika di Ashraf, paling banyak di pakai oleh wanita rumah bunga," lanjut Elena membuat Liana dan Luca harus menahan tawa.


"Apa itu rumah bunga? oh aku tau. Itu pasti rumah bangsawan tingkat tinggi di sini kan? sudah aku tahu. Pakaian kami kualitasnya sangat bagus hanya beberapa orang dari kalangan terhormat saja yang bisa membeli pakaian kami," jawab Naina dengan sangat angkuh.


"Hahahahah." Elena tertawa sangat keras, "Kau dengar itu Liana? hahahaha, rumah bunga katanya orang terhormat. Kau sangat pandai."


"Cih! aku memang pandai lalu apa lucunya itu?"


"Aku tidak percaya ini. Apa di timur tidak ada rumah bunga?"


"Tentu saja ada. Seperti kata mu tadi pakaian ku ini hanya di pakai oleh wanita rumah bunga, hmph! itu pasti wanita terhormat sama seperti ku."


"Ya, sangat terhormat. Ayo!" Elena menarik Liana pergi dari sana, tidak lupa ia berteriak pada Luca, "Jaga tamu terhormat mu, adik ipar."


"Apa dia adik ipar mu? apa dia keluarga kerajaan?" tanya Liana terkejut.


"Apa yang aku lakukan? aku tidak memberikan hormat pada Kelurga Kerajaan. Matilah aku," batin Liana mengalami stresss berat sementara Elena bahagia sekali.


*****


Sonia untuk memastikan Elena tidak bertemu dengan Ernest ia sampai mengantar Ernest keluar gerbang ibukota secara langsung, selama dalam perjalanan ia menutup tirai jendela kereta agar Ernest tidak bisa melihat keluar.


Dan dalam perjalanan kembali ke kediamannnya, Sonia tidak sengaja melihat Elena keluar dari guild. Ia pun meminta kusir menghentikan kereta di depan Elena.


Sonia membuka pintu kereta dari dalam, "Masuklah, kita perlu bicara." 


Elena tidak menolak, ia langsung masuk ke dalam kereta dan diam saja sampai mereka tiba di taman kota. Taman kota adalah tempat keduanya duduk menghabiskan waktu dulu sebagai sahabat, sama seperti saat ini mereka turun dari kereta lalu duduk di taman itu sayangnya bukan sebagai sahabat lagi.


"Aku punya permohonan untuk mu," ucap Sonia membuka percakapan.


"Katakan saja," balas Elena sambil menyantap roti yang ia beli tadi.


"Bisakah kau relakan Ernest untuk ku? aku tidak mau dia sampai melihat mu atau kalian sampai bertemu. Itu semua bukan karena aku cemburu melainkan karena rasa tidak aman, aku tidak mau Ernest direbut oleh siapa saja dari ku."


"Hanya karena kau seorang perebut kekasih orang lain, bukan berarti seluruh wanita di dunia ini sama seperti mu."


"Aku tahu, kau tidak perlu menghina ku. Tapi tetap saja kau wanita yang pernah mencintainya, dan yang selalu di cintai olehnya. Bukan tidak mungkin hatinya akan berubah setelah dia melihat mu."


"Jika dia jatuh cinta pada ku lagi, aku tidak akan peduli karena mencintai itu hak dari hati semua manusia. Siapa yang bisa menghalangi atau merebut hak itu? tidak ada."


"Berapa lama kau akan ada di sini? aku mohon jangan menetap di sini setidaknya sampai kami menikah, aku tidak ingin dicampakan oleh Ernest."


"Sonia, aku akan bertanya pada mu. Kenapa dari semua pria di dunia ini kau harus merebut pria yang aku cintai? kau cantik, banyak yang akan jatuh cinta pada mu."


"Ini masalah hati Elena. Ernest lebih dulu bertemu dengan ku, aku jatuh cinta padanya lebih awal dari mu. Tapi setelah dia bertemu dengan mu, dan kau akui cintai mu padanya semua harapan ku untuk bersama dengannya hilang. Awalnya dia biasa saja menanggapi mu, sampai suatu ketika dia jatuh cinta pada mu. Aku ingin selalu menjadi sahabat mu hanya saja aku tidak bisa, kau sudah merampas hati ku."


"Lalu kenapa tidak kau katakan itu sejak awal? aku adalah wanita yang suka berkorban demi sahabat ku, buktinya aku berikan lukisan Ernest yang paling suka pada mu. Jika kau bilang kau mencintai Ernest maka sebelum dia jatuh cinta pada ku maka aku akan menjauh darinya, kau tidak perlu membuat ku membayar mahal atas harga untuk sebuah persahabatan palsu," jelas Elena. Namun tidak diterima oleh Sonia, ia menoleh ke tempat lain saat Elena menatapnya.


"Bahkan sampai akhir aku tetap berkorban untuk mu. Kau bisa menjadi tunangan Ernest saat ini, itu karena aku melepaskannya dari ku. Jika tidak maka kau akan selalu menjadi wanita yang merangkak untuk mendapatkan cinta," pungkas Elena. Ia mengakhiri pertemuan mereka sampai di situ saja, dia lebih memilih untuk pergi sebelum hinaan paling menyakitkan bisa saja ia lontarkan pada wanita hamil itu.


******


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘