
"Apa itu kantong uang milik adik mu? karena kami menggunakan uang itu untuk membayar penginapan. Jika itu masih kurang sebagai bukti maka aku punya bukti yang lebih besar, aku jamin saat pengadilan melihat bukti itu maka adik mu akan dihukum seberat-beratnya. Keluarga kami tidak pernah main-main dengan hukum," ucap Elena membuat Odelia mengerti.
"Maafkan aku." Odelia membungkuk di depan Liana dan Leon.
"Hmph! aku benci wanita jahat," jawab Leon memalingkan wajahnya.
"Ayo kita pulang," ajak Elena pada Liana dan Leon, mereka pun langsung berdiri lalu pergi bersama Elena.
Odelia mengepalkan tangannya lalu ia memukul wajah Eros berkali-kali, Hugo yang melihat itu ikut senang karena Eros pantas mendapatkannya.
*****
Amarah Abigail tidak membesar karena Qinthia selalu datang untuk minum teh bersama dengannya, identitas Qinthia sebagai tunangan dari Aaron yang terkenal genit membuat Abigail senang. Kini ia punya Qinthia untuk menjaga cucunya agar tidak bermain hati.
"Apa yang sedang ibu baca?" tanya Qinthia seraya merangkul pundak Liliana dari belakang.
"Lihat." Liliana memberikan surat yang baru saja ia terima pada Qinthia.
"Sungguh? ini luar biasa, ibu. Kita harus pergi kalau perlu ajak nenek juga," usul Qinthia.
"Membawa nenek mu ke pesta teh permaisyuri, apa kau yakin itu keputusan yang tepat?"
"Kenapa tidak? apa ibu takut nenek lepas kendali?"
"Itu salah satunya. Alasan yang lainnya adalah nenek mu itu sudah lama tidak ke pesta teh, apa yang akan dia lakukan di sana? orang-orang yang satu generasi dengannya sudah banyak yang mengasingkan diri."
"Tidak perlu begitu cemas. Lagi pula aku juga tidak akan ikut, kau pergi saja menantu bersama cucu menantu ku," sela Abigail.
"Terima kasih ibu," ucap Liliana dengan canggung karena Abigail mendengar ucapannya.
Qinthia pun bersiap bersama dengan Liliana di Kediaman Abraham, Aaron berniat ingin ikut. Namun Abigail melarangnya karena diwaktu yang sama ia harus pergi ke toko perhiasan, ia butuh Aaron sebagai pengawalnya.
Dengan berat hati Aaron harus melepaskan Qinthia pergi bersama dengan Liliana, padahal ia ingin sekali menjadi kusir kereta kuda mereka.
Sesampainya di istana permaisyuri sudah banyak nyonya bangsawan yang hadir, tidak terkecuali Jovanka. Walau pun banyak nyonya bangsawan tidak suka akan kehadiranya. Namun mereka hanya diam saja karena permaisyuri tidak bisa jika tidak mengundangnya, dia adalah orang yang berpengaruh di kekaisaran.
"Salam bibi." Qinthia memeluk Vanessa sebagai bentuk sapaan.
"Salam permaisyuri." Liliana memberikan hormat layaknya seorang bangsawan.
"Dia ini kan …." Vanessa kembali teringat alasan ia membuat pesta teh ini.
15 jam sebelumnya pesta teh ….
Vanessa memijat kepalanya sendiri karena sejak tadi ia disibukkan oleh sikap keras kepala Louis, Louis lagi-lagi tidak datang saat rapat penting bersama para petinggi kerajaan.
Oleh karena itu, para petinggi marah besar dan mendesak kaisar untuk memberikan Louis hukuman yang pantas. Jika tidak, mereka pasti akan membuat Louis dihapus dari daftar pewaris tahta, kalau sampai itu benar-benar terjadi maka Luca akan menjadi satu-satunya pewaris tahta.
Tok tok tok
"Ibu, ini Luca." Luca mengetuk pintu kamar Vanesaa dari dalam.
"Masuklah!" balas Vanessa dari dalam.
"Apa sakitnya masih terasa?" tanya Luca di jawab dengan anggukan oleh Vanessa.
"Ibu minumlah teh herbal itu, kakak dan aku membuatnya secara khusus untuk ibu. Mau aku tuangkan?" tanya Luca lagi.
"Tidak perlu. Dari pada kalian membuatkan ibu teh herbal, lebih baik kalian jangan keras kepala dan menurutlah pada ibu maka dengan begitu sakit kepala ini tidak akan ada," jawab Vanessa.
"Sebenarnya aku merasa ada yang aneh dengan kakak. Kakak sepertinya jatuh cinta pada seseorang."
"Kakak mu jatuh cinta? yang benar saja kau."
"Ini hanya perasaan ku saja. Sebelumnya kakak selalu patuh kan pada ayah. Tapi akhir-akhir ini kakak mendadak menjadi anak nakal, ia tidak mau menjadi pewaris tahta padahal sebelumnya dia baik-baik saja menjadi putra mahkota. Jadi aku berpikir mungkin kakak jatuh cinta dengan seorang wanita biasa, jika saja itu benar maka ini cinta yang murni ibu buktinya dia rela meninggalkan segalanya demi wanita itu."
"Itu masuk akal. Tapi siapa wanita itu? kakak mu terlihat biasa saja. Dia sibuk dengan latihan setiap hari, lalu di waktu apa dia bertemu dengan wanita itu. Pasangan kekasih harus berkencan kan?"
"Ibu benar juga. Bagaimana jika kita geledah ruang kerja dan kamar kakak? kakak malam ini tidak akan pulang dari kamp," usul Luca yang langsung Vanessa setujui.
Mereka berdua masuk ke kamar Louis lalu menggeledah seisi kamarnya. Namun sayang sekali, mereka tidak menemukan apa pun yang berhubungan dengan wanita. Jangankan barang untuk seorang wanita, mereka tidak menemukan satu pun barang yang bisa di anggap sebagai hadiah dari seseorang.
Begitu juga dengan ruang kerja Louis, tidak ada satu pun yang istimewa dari ruangan itu, selain tumpukan dokumen di atas meja dan rak buku berisi buku-buku tentang politik.
"Jadi kau salah, kakak mu tidak sedang jatuh cinta. Pria jatuh cinta macam apa yang tidak punya barang istimewa, buang-buang waktu saja. Ayo keluar," ajak Vanessa pada Luca.
Luca melangkah dengan perasaan sedih menuju pintu keluar. Sebab tidak fokus saat berjalan Luca malah terpeleset, ia meraih sebuah tali untuk bertahan sayangnya ia tetap saja jatuh ke lantai.
"Sakit sekali." Luca meringis kesakitan sambil memegang pinggulnya.
Sementara itu Vanessa terdiam mematung menatap ke arah dinidng, merasa ada yang aneh dengan sang ibu Luca pun mengikut arah pandangannya.
"Lu-luar biasa." Luca terkagum melihat lukisan potret Elena berukuran besar terpasang di dinding. Louis sengaja menutupnya dengan tirai. Tapi, tirai itu terbuka karena Luca secara tidak sengaja telah menarik tali tirai.
"Aku benar kan. Ibu lihat kakak benar-benar telah jatuh cinta. Hahahahah, perasaan ku memang tidak pernah salah." Luca melompat kegirangan melihat lukisan Elena.
"Apa kau kenal wanita ini?" tanya Vanessa pada Luca.
Luca menatap wajah Elena dan mencoba mengingat di mana ia pernah melihat wajah yang sama, setelah berpikir selama beberapa menit Luca akhirnya ingat.
"Aku ingat! dia adalah Elena Abraham, seorang pemanggil sekaligus gadis angin. Aku pernah melihatnya bersama kakak saat aku menjemput kakak dari akademik," jawab Luca.
Vanessa menutup kembali lukisan itu lalu ia menarik Luca pergi dari sana. Ini pertama kali ia tahu Louis jatuh cinta dengan seseorang, selama ini hubungan mereka tidak terlalu dekat dan baru saja dekat maka dari itu Vanesaa ingin berbuat sesuatu demi Louis.
Vanessa meminta pelayannya untuk menbuatkan undangan pesta teh saat itu juga, undangan itu Vanessa minta di kirim langsung saat matahari terbit.
"Apa pun yang Louis inginkan akan aku wujudkan, dan untuk kalian yang berusaha merebut Elena dari Louis akan aku singkirkan. Elena adalah milik putra ku," batin Vanessa yang sangat menantikan hari esok.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘