The Second Chance To Change Destiny.

The Second Chance To Change Destiny.
Bab 110 Ruang potret.



Kekuatan teleportasi itu melempar Elena ke ruang potret keluarga kerajaan monster, di sana sangat gelap sampai Elena tidak bisa melihat tangannya sendiri.


"Di mana kau letakan tujuan kekuatan teleportasi itu?" tanya Casey pada Vivian. Keduanya sedang berlari membuka satu per satu ruangan di sekitar mereka setelah merasakan adanya kehadiran Elena.


"Aku tidak tahu. Aku masih baru di kerajaan ini jadi aku tidak ingat semua ruangannya," jawab Vivian dengan santai.


Casey berhenti secara mendadak mendengar jawaban Vivian, "Apa kau gila? bagaimana jika dia jatuh di penjara bawah tanah? aku bisa mati nanti."


"Memangnya kenapa?" Vivian balik bertanya dengan ekspresi polos.


"Karena itu tempat yang tidak layak, banyak alat berbahaya di sana dan kalau dia sampai jatuh di halaman luar istana maka itu juga berbahaya karena jebakan di luar sana bisa merenggut nyawa," jelas Casey.


"Gawat! kalau begitu mari berpencar, minta para kesatria juga mencari Elena. Sampai bertemu nanti!" Vivian mengambil jalan menuju ke luar istana.


"Kau sendiri tidak tau letak jebakan itu, jangan salahkan aku kalau kau kena nanti," batin Casey seraya berlari menuju ruang bawah tanah.


Sementara di sisi lain Elena berjalan sambil meraba dinding, bukan hanya sekali ia menabrak bingkai foto yang terpasang di dinding.


"Seseorang … tolong aku!" teriak Elena, ia tidak berdaya didalam kegelapan.


"Hahahaha, apa ini? putri pengguna kekuatan gelap menjadi lemah dalam kegelapan, lucu sekali. Rani pasti akan menertawakan mu," ucap Alden.


"Biar ayah membantu mu." Alden menjentikan jarinya, seketika lentera dalam ruangan itu langsung menyala.


"Syukurlah. Tapi siapa yang menyalakan lentera?" batin Elena melihat sekeliling.


"Lupakan saja, mari cari pintu keluar dulu," batin Elena berjalan menyelusuri ruangan tersebut.


Banyak sekali foto yang membuat Elena terpesona, sampai pada sebuah foto pernikahan Alden dan Rani.


"Mirip sekali dengan ku," batin Elena. Ia pun berpindah pada foto-foto lain.


"Apa ini?" Rani mendekati foto itu dan membaca tulisan yang ada pada ujung fotonya.


"Selamat atas kehamilan pertama mu, Rani. Dengan penuh cinta dari Yoluta." Elena membaca tulisan pada foto itu.


"Yoluta? ada hubungan apa dia dengan Rani? jika ini bukan ruang bawah tanah menara pertapa, di mana ini?" batin Elena.


Elena pun membaca semua tulisan yang ada di bawah foto pada gambar Rani di dalamnya, ada beberapa dari foto itu di kirim dengan nama Damian, Casey, serta Yoluta dan beberapa nama orang asing.


"Ini foto terakhir …."


Deg!


Jantung Elena berdetak kencang saat melihat dalam foto itu, foto yang diambil di depan sebuah rumah kecil. Rani berdiri sambil tersenyum, lalu di sampingnya ada Alden yang memegang kepala Elios.


"Elios? kenapa ada di sini?" batin Elena menyentuh foto tersebut. 


Karena berada dalam tubuh Elena, Alden bisa merasa apa perasaan Elena saat ini. Hingga tanpa sadar Alden membawa Elena ke dalam ruang dimensinya.


"Sebentar, ini di mana lagi?" Elena terkejut karena mendadak ia sudah berada di tempat yang sepenuhnya berwarna putih.


"Ah itu …." Alden menjadi bingung harus berkata apa setelah tatapannya dan Elena bertemu.


"Siapa?" tanya Elena dengan nada ketus, "Kau kan … wah pengatin pria Rani."


"Hahahaha, kau benar. Selamat datang dalam dimensi ku, maaf karena menarik mu ke dalam sini. Kau untuk sementara akan tetap di sini sampai waktu ruangan ini habis," ucap Alden. Elena mengangguk kemudian ia duduk begitu saja di lantai.


"Apa hubungan mu dengan Elios?" tanya Elena tanpa menatap Alden.


"Daripada itu, kenapa kau selalu saja mundur ke belakang? apa badan ku bau sampai kau tidak mau mendekat?" tanya Elena setelah memperhatikan Alden.


"Elena tidak tau jika aku dan dia berada dalam jarak yang dekat maka tanda darah kami akan terhubung, aku tidak mau Elena sampai tahu jika kami ada hubungan darah dalam keadaan seperti ini," batin Alden.


"Kau ini …" Elena berdiri kemudian berjalan mendekati Alden, sedangkan Alden semakin menjauh darinya.


"Kemari kau, dasar pria menyebalkan." Elena berlari mendekat Alden, sampai terjadi kejar-kejaran diantara mereka.


"Hentikan. Aku ini adalah jiwa yang mengembara, kau seharusnya tidak mendekati pada ku," teriak Alden.


"Hah? kenapa? apa kau pikir aku takut dengan hantu?" tanya Elena.


Sontak Alden berhenti begitu pun dengan Elena. Alden kemudian menatap Elena dengan ekspresi jelek, "Kau bilang aku hantu? jangan sama aku dengan mahluk rendahan seperti mereka."


"Kena kau." Elena menerjang Alden.


"Kyaaa." Alden tidak sempat menghindar saat tubuh  Elena jatuh di dekatnya.


"Hahahah." Elena lekas bangkit dengan dahi memar, "Aku tahu kau itu penguasa monster, harga diri mu pasti tinggi jadi aku tidak akan mau jika kau di samakan dengan hantu. Jangan meremehkan Elena hantu tua."


Seiringan dengan itu cahaya merah muncul dari pundak Elena, cahaya itu berasal dari tanda lahirnya yang berbentuk ular. Cahaya merah kecil setipis benang keluar dari tanda lahir itu, dan masuk ke dalam dada Alden di mana tanda lahirnya berada.


"Ini kan benang darah," ucap Elena memegang benang bercahaya merah tersebut.


"Kata ibu jika benang darah bercahaya merah maka itu artinya …." Elena mulai mengingat apa yang pernah Liliana katakan padanya, "Jika biru tanda ikatan nenek dan cucu, kuning ikatan persaudaraan, hijau ikatan sedarah dengan keluarga jauh dan jika merah tanda dari ikatan … mana mungkin, ini tanda orang tua dengan anaknya."


Elena terkejut kemudian dia menatap Alden, "Mana mungkin. Aku bukan anak mu, anak mu adalah Jolycia. Lalu kenapa ini?"


Alden meremas dadanya dengan raut wajah sedih, ia sampai mengigir bibirnya untuk menahan apa yang dia rasakan.


"Apa artinya ini?" tanya Elena menarik kerah baju Alden, "Jawab aku!"


"Menjawab apa? aku kan sudah bilang jangan mendekat. Kenapa kau mendekat?" tanya Alden dengan nada meninggi.


"Tapi apa hubungannya dengan ini? kau bukan ayah ku, aku bukan putri mu lalu apa ini?"


"Jika kau berpikir demikian maka jangan bertanya lagi, anggap saja ini tidak pernah terjadi. Semua salah ku, ini salah ku. Kenapa aku masih di sini padahal kau tidak butuh aku sebagai apa pun."


"Apa ini?" batin Elena. 


Perlahan ruang dimensi itu mulai memudar, waktu Alden sudah tidak banyak lagi. 


"Aku pun tidak ingin menjadi ayah yang seperti ini," gumam Alden seraya menghilang bersama dengan ruang dimensinya. Suaranya sangat kecil saat itu, namun terdengar jelas oleh Elena.


Elena terkulai lemas di lantai, ia tidak sanggup berdiri lagi setelah melihat yang terjadi. Ia berharap semua hanya mimpi dan semua akan membaik setelah ia bangun dari mimpi itu.


Bugh!


Elena pingsan sesaat kemudian Elios muncul dari lingkaran teleportasi, ia bisa merasakan ada sisa kekuatan Alden dalam ruangan itu. Sayangnya ini bukan saat yang tepat untuk memikirkan hal tentang Alden, karena ia harus membawa Elena pergi dari kerajaan monster secepat mungkin.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘