
Hari sudah gelap angin yang berhembus membuat Elena kedinginan, ia mengajak Roan dan Aric kembali ke Lembah. Saat dalam perjalanan pulang mendadak cahaya biru muncul, cahaya itu menarik Elena masuk ke dalamnya. Roan dan Aric berteriak berusaha menggapai tangan Elena sayang sekali tangan mereka terlalu pendek, hingga tidak bisa menjangkau Elena.
*****
Liliana terkulai lemas di atas sofa saat Carlos kembali bersama Liana. Namun, tanpa Elena, sementara itu hari sudah semakin gelap.
"Tenanglah, sayang. Elena adalah anak yang kuat kita tau itu, dia pasti akan baik-baik saja," ucap Austin seraya mengusap punggung Liliana.
"Mau sekuat apa dia, sepintar apa dia, dan setangguh apa pun dia. Itu tidak mengubah kenyataan jika putri kita tetaplah seorang wanita, dia pernah menjadi wanita lemah yang dijadikan boneka oleh orang lain. Dia pernah hampir tiada, apa kau lupa itu hanya karena sekarang dia sudah melangkah maju? ayah macam apa kau ini?" emosi Liliana menjadi tidak stabil, ia terkena serangan panik karena Elena.
"Kenapa kau masih di sini? cari putri mu sana. Apa kau tidak cemas putri mu menghilang? cepatlah!" Liliana mendorong Austin menjauh lalu ia beralih pada Carlos, "Mau melihat apa? cepat pergi! jika kalian tidak membawa putri ku kembali malam ini maka jangan berharap bisa menginjak kaki di kediaman ku."
"Ibu, tenanglah. Kita akan mencari adik ke mana?" tanya Carlos karena dia sudah mengelilingi hutan itu.
"Aku tidak mau tahu. Ikut aku!" Liliana menarik tangan Austin dan Carlos lalu ia mendorong keduanya keluar dari rumah, "Cari ke mana saja aku tidak peduli."
Brak!
Liliana membanting pintu kediamannya di hadapan mereka, kedua pria itu hanya bisa menghela nafas dan pasrah pada keadaan. Liliana jika sudah khawatir berlebihan akan terjadi hal seperti ini, dan ini bukan yang pertama kalinya.
"Ibu." Liana perlahan mendekati Liliana, ia takut jika nanti Liliana juga marah padanya.
Liliana yang berlinang air mata berbalik menghadap Liana, lalu ia menarik Liana ke dalam pelukannya dan menangis sejadi-jadinya.
Setelah Liliana tenang Liana menuntunnya untuk duduk, ia duduk bersandar pada pundak Liana.
"Elena tidak pernah bahagia bahkan sekali saja untuk dirinya sendiri. Dia selalu bahagia karena orang lain bahagia, anak nakal itu menyimpan banyak kesedihan di hatinya. Bukan hanya sekali aku melihat dia duduk dengan tatapan kosong, lalu saat aku memanggilnya dia akan berbalik dengan wajah tersenyum ceria. Entah kenapa saat dulu dia menghilang rasanya hati ku tidak seperti ini, seolah ada yang akan merebut Elena dari ku dan membawanya pergi jauh ke tempat yang tidak bisa aku gapai. Elena putri ku dan aku tidak akan pernah kehilangan dia," tutur Liliana membuat Liana merasa sangat sedih.
"Elena sangat berarti untuk semua orang yang ada di dekatnya. Jika ada orang yang tidak mengerti kebaikan Elena dia akan sangat rugi," batin Liana.
*****
Vivian tersadar ia sudah berada di dunia bawah, kekuatannya berkurang sangat banyak karena ulah Grace membuat hati Vivian terbakar amarah kala mengingat hal itu.
"Parsetan dengan kalian para dewa. Kalian telah mengkhianati aku, maka aku akan membuat kalian menderita. Sekarang aku paham dengan perasaan Elios saat itu. Cih! para dewa sampah." Vivian meludahi mereka.
Saat ini Vivian tidak tahu harus pergi ke mana. Namun berkat dewa angin ia tahu ke mana tempat yang harus ia tuju lebih dulu, walau pun tempatnya sangat menakutkan ia harus memberanikan diri ke sana, bahkan jika di beri kesempatan ia akan bersumpah setia kepada pemilik tempat itu.
"Aku harus bertemu dengan Tuan Damian, katakan saja Vivian datang membawa kabar tentang putri raja monster," ucap Vivian. Salah satu kesatria gelap masuk untuk melampor, lalu ia kembali dan menuntun Vivian memasuki wilayah mereka.
Rakyat raja monster menatap Vivian dengan tatapan tajam membuatnya tertekan, dia lebih tertekan lagi sampai sulit untuk bergerak saat memasuki gerbang kerajaan raja monster.
"Sampai di sini kau masuklah sendiri. Tuan Damian telah menunggu mu di balai istana," ucap kesatria itu. Vivian mengangguk lalu ia melangkah pergi.
Saat ia sampai di balai istana, banyak para tetua Kerajaan Monster duduk di pinggiran balai sedangkan Yoluta berdiri di bawah singasana bersama Damian serta Casey di sampingnya kiri dan kanan.
"Salam untuk kalian semua." Vivian membungkuk di depan ketiganya, "Aku adalah Vivian. Sebenarnya aku telah di khianati oleh para dewa sampai di usir oleh mereka ke dunia bawah, mereka menuduh ku telah membangkitkan kekuatan dalam tubuh putri raja kalian. Tapi apa ini masuk akal? kekuatannya yang bangkit bukan kekuatan gelap melainkan kekuatan suci, ia termasuk adalah gadis yang di cintai oleh angin. Aku tahu mereka pasti telah bekerja sama membuat putri raja kalian menjadi bagian dari mereka, karena mereka tahu sekuat apa kekuatan raja kalian."
"Hahahaha, para dewa memiliki kekuatan suci. Tapi berhati busuk, seharusnya dunia atas itu menjadi milik para rakyat dunia bawah yang berhati lebih mulia dari mereka," jawab Casey.
"Walau pun demikian kita harus melakukan sesuatu. Jika tidak, akan datang suatu saat di mana reinkarnasi penguasa kita melawan putrinya sendiri. Ini tidak bisa di biarkan," ucap salah satu ketua.
"Diamlah! jangan ikut campur." bentak Casey membuat para tetua bungkam.
"Jaga ucapan mu," tegur Yoluta pada Casey.
"Kita tidak melakukan apa pun karena saat ini siapa saja yang berasal dari dunia bawah akan tertolak jika ke dunia atas. Kita harus mencari tahu apa rencana mereka yang berani menggunakan kekuatan tuan putri kita," timpal Damian.
"Aku merasa raja dewa membuat rencana ini tanpa sepengetahuan dewa lain. Para dewa mendukungnya, sekali pun kenyataan telah aku katakan. Tapi, tidak akan ada di antara mereka yang percaya. Maksud kedatangan ku juga bukan hanya itu saja, aku ingin mengambil sumpah setia untuk raja monster. Tolong izinkan aku." Vivian berlutut di depan mereka bertiga.
Para tetua langsung berdiri dan menentang sumpah setia dari Vivian, walau pun dia telah di buang ke dunia bawah mereka tetap takut jika hal itu juga merupakan rencana dari raja dewa. Bisa saja Vivian di gunakan untuk menyerang mereka dari dalam, pikir para tetua.
Vivian berusaha membuat mereka semua mengerti jika dia benar-benar telah di usir. Namun Yoluta sependapat dengan para tetua, para dewa bagi mereka sangatlah licik mereka bisa merencanakan apa saja untuk membuat raja dunia bawah kalah.
Untuk menghormati pendapat Yoluta, Damian menyegel semua kekuatan Vivian barulah ia bisa berkeliaran sesuka hatinya di dunia bawah tanpa perlu di awasi. Demi mendapatkan pijakan Vivian tidak masalah menjadi lumpuh selama hidupnya aman, setelah mereka percaya padanya maka dia akan melawan para dewa bersama mereka. Sampai saat itu tiba Vivian akan terus berlatih mengembalikan kekuatannya yang telah hilang, walau kekuatan itu jika kembali akan tersegel dia tidak khawatir karena atas nama kekuatannya ini ia bersumpah akan membunuh Grace.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berartiš