The Second Chance To Change Destiny.

The Second Chance To Change Destiny.
Bab 94 Mulut untuk bergosip.



Louis memegang leher bagian belakangnya dan diam-diam melirik Elena yang sekarang sudah duduk di ranjangnya, "Apa kau dengar semuanya?"


"Ya, sedikit," jawab Elena dengan suara kecil, ia sendiri malu karena tertangkap basah bersembunyi di bawah ranjang.


"Itu hanya pembicaraan antar pria, tolong jangan masukan ke hati. Aku akan menegurnya nanti agar tidak berprasangka buruk pada mu, dia bukan orang jahat hanya sedikit …."


"Aku mengerti. Siapa saja bebas berpikir, aku tidak masalah. Lagi pula aku memang sudah kejam pada mu, aku beruntung memiliki pria sebaik diri mu yang mencintai ku," ucap Elena membuat hati Louis berdebar, sedikit pujian saja bisa membuatnya merasa akan terbang ke langit.


"Mau cari tempat lebih nyaman untuk bicara?" tanya Louis. Elena mengangguk, ia ingin sekali duduk di atap.


Karena ini keinginan Elena jadi Louis setuju saja duduk di atas atap kamarnya, walau pun ini bukan tempat yang bagus baginya. Ia berniat mengajak Elena ke tempat yang jauh lebih romantis dari ini.


"Bau mu enak," ucap Elena tersenyum pada Louis.


"Eh! apa ini? apa itu kode untuk ku? tidak tidak tidak, Elena bukan wanita yang seperti itu. Ya, jangan salah paham. Dasar aku ini," batin Louis memukul kepalanya.


"Dasar tidak peka. Kau tidak mengerti itu kode dari ku?" tanya Elena dengan wajah cemberut.


"Ko-kode? tapi ini terlalu mendadak, aku belum menyiapkan hati ku untuk adegan seperti ini," batin Louis memegang dadanya yang semakin berdebar.


"Ka-kalau ka-kau mau. Lakukan sa-saja, aku tidak keberatan,"jawab Louis terlalu gugup.


"Benarkah? kau baik sekali." Elena perlahan mulai mendekati Louis, Louis pun memejamkan matanya menantikan kiss dari wanita pujaan hatinya.


"Kenapa lama?" batin Louis semakin tidak sabar.


"Terima kasih Louis," ucap Elena menimbulkan banyak pertanyaan dalam hati Louis, bagaimana tidak? saat ini ia bahkan tidak merasakan apa pun.


Louis pun membuka mata melihat Elena memegang sabun di tangannya dan sesekali mencium aroma yang keluar dari sabun itu, saat itu juga Louis tertawa terbahak-bahak.


"Elena memang bukan wanita yang seperti itu," batin Louis.


Mereka duduk diatap selama berjam-jam untuk membicarakan kesalah pahaman diantara mereka, kedua tertawa karena tidak mengerti maksud masing-masing sampai menimbulkan kecemasan tersendiri. Mereka juga memarahi Liana karena ia adalah dalang dibalik kesalah pahaman Louis.


Karena duduk keduanya diatap sampai larut Elena terserang flu dan Louis demam, ia tidak bisa bangun dari ranjang padahal ia sangat ingin mengantar Elena pergi.


"Hachiu." Kondisi Elena semakin memburuk sejak tadi, ia menimbulkan kecemasan di hati para bintang agung.


"Kau yakin bisa pergi dengan kondisi ini?" tanya Sean memberikan Elena sapu tangan, Elena hanya menjawab dengan anggukan.


"Kau ini benar-benar membuat kami cemas." Liora memberikan Elena penyembuhan tingkat tinggi.


"Minumlah dulu." Aditya memberikan Elena teh hangat.


"Terima kasih, maaf sudah merepotkan kalian." Elena menerima cangkir teh dari Aditya.


"Apa mungkin kau menghabiskan malam dengan Louis sampai larut?" tanya Aditya memicu rasa curiga yang lainnya.


"Jawablah Elena," desak Liora dengan mata melotot.


"Sedikit," jawab Elena yang sukses mendapatkan pukulan keras dari Liora.


"Wanita macam apa yang menghabiskan malam dengan pria bukan suaminya, bagaimana orang akan memandang wanita yang seperti itu," cemooh Astrid.


"Hentikan," lerai Liora.


"Aku hanya mengatakan sebuah kenyataan. Dia suka menghabiskan malam dengan pria lalu sakit untuk mendapatkan perhatian dari pria lain, apa kalian buta sampai tidak melihat kebenarannya." Astrid memandang rendah Elena.


"Kau itu tunangan ku, berani sekali kau pada ku hanya karena wanita itu. Jangan-jangan selain Louis dan Kavana, kau juga punya perasaan pada Elena? sudah ku duga Elena memang penggoda," hina Astrid.


Plak!


Alara secara tidak terduga menampar Astrid, ia tidak menunjukan rasa segan pada Astrid yang merupakan bintang agung.


"Jangan kau pikir aku takut pada mu karena identitas mu, berani sekali kau menghina nona ku. Nona ku adalah wanita yang sempurna sampai semua pria mencintainya, dia bukan wanita rendahan seperti mu yang membuat semua pria menjauh," ejek Alara.


Tidak lama kemudian Kavana datang menjemput Elena karena portal sudah di buka, Elena pun pergi setelah berpamitan kepada yang lainnya.


"Astrid, ingat ini baik-baik. Sekali lagi kau bertingkah aneh hanya karena rasa iri mu itu, maka kau akan kehilangan posisi mu," ancam Liora. Yang lain tidak mengatakan apa pun. Namun tatapan tajam mereka pada Astrid telah menyiratkan segalanya, wanita beracun itu tidak bisa apa-apa selain berdecak kesal.


*****


Lagi-lagi kemenangan dapat diraih oleh Elios setelah bertanding sebanyak 10 kali, ia tidak memberikan lawannya kesempatan untuk sekedar mendekatinya.


"Lelahnya." Elios mengambil tempat duduk di samping Leon.


"Kau lumayan juga. Tapi tehnik mu masih sedikit kasar, kau unggul pada kekuatan saja." Leon memberi koreksi pada Elios setelah menyaksikan pertandingannya.


"Aku tidak mau mendengarkan itu dari mu. Aku benci anak genius," balas Elios.


"Cih! wanita itu sangat lemah. Levelnya juga masih rendah, lalu bagaiamana dia bisa mendapatkan tempat pada posisi kedua sebagai bintang agung? berita hari ini telah menunjukan semua kelemahannya. Benar-benar aib para bintang agung," ucap anak pertama.


"Benar. Untuk apa mereka menerbitkan berita tenrang orang lemah di surat kabar, apa mereka sudah kehabisan berita?" tambah anak kedua.


"Jangan-jangan kabar tentangnya yang mengalahkan pasukan Ogre, menjalin kontrak dengan penguasa elemen, dan mendapatkan hubungan baik dengan valkyrie, itu bohong semua. Lalu sekarang kebohongannya mulai tercium."


"Ya, aku yakin begitu. Dia bisa saja membayar para tetua menara untuk memberikan dia posisi."


"Elena Abraham itu bangsawan yang buruk. Cih!"


Mendengar mereka bergosip tentang sang kakak memancing amarah Leon, ia berdiri lalu menendang salah satu anak yang duduk dalam lingkaran gosip itu.


"Apa yang kau lakukan? menyerang teman itu tidak dibenarkan dalam akademik," ucap salah satu anak.


"Teman?" tanya Elios melingkarkan tangannya dipundak Leon, "Kata siapa kalian teman kami? anak selemah kalian apa pantas berteman dengan kami? aku sih tidak mau, menyusahkan saja."


"Lalu apa kalian pikir aku juga mau? aku tidak mau, pria lemah yang hanya tau bergosip seperti nyonya sosialita itu sama saja dengan sampah dan siapa pun tidak akan mau berteman dengan sampah," tambah Leon.


"Hanya karena kalian anak unggulan bukan berarti kalian bisa menghina kami, kesombongan hanya akan membawa kalian ke dalam kehancuran," ucap anak yang lain.


"Lalu bagaimana dengan kalian sendiri, kalian menghina orang yang tidak kalian kenal, jika kalian bukan sampah lalu apa? bagi kami anak genius, yang penting bukan level kekuatan melainkan kekuatan tenaga dalam. Lalu bagi kalian apa yang penting? mulut untuk bergosip?" tanya Leon.


"Yang kalian hina itu adalah orang teladan kami. Dia genius, di level dasar saja kekuatan tenaga dalamnya sangat besar dan jika levelnya naik maka bayangkan akan sehebat apa dia nanti. Kami saja yang mengaguminya jangankan melawan kalian, bahkan hanya dengan melirik kalian saja sudah cukup untuk mengalahkan kalian. Itulah perbedaan orang genius seperti kami dengan orang biasa seperti kalian," lanjut Elios.


Anak-anak yang bergosip itu menjadi sangat marah mendengar penghinaan sebesar itu dari mereka, apalagi itu keluar dari mulut orang yang tidak bisa mereka jadikan saingan.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘