
"Kau …." Amarah Casey kembali memuncak melihat wajah Elena.
"Oh! pria daging segar yang kemarin yah." Elena menanggapi amarah Casey dengan sikap santai.
"Wah." Tatapan Leon menjadi berbinar setelah tau siapa Casey, ia pun langsung turun dari kursi lalu mendekatinya.
"Jadi kakak keren kemarin itu adalah kakak yang ini. Wah ini sungguh kebetulan yang indah, kemarin Kak Irene bilang kakak adalah pria berhati lembut. Jika kakak tidak membelikan aku daging segar itu maka semalam aku tidak bisa makan makanan enak, terima kasih kakak." Leon memeluk kaki Casey.
"Terima kasih karena sudah berbaik hati membayarkan daging itu untuk kami, semoga anda mendapatkan balasan yang setimpal," tambah Liana membuat amarah Casey mereda.
Casey hanya tersenyum lalu ia memberikan Yoluta isyarat untuk pergi dari sana, Yoluta tidak ingin pergi. Tapi dia sudah selesai makan, lagi pula saat ini ka masih tidak ada alasan untuk tetap ada di sana.
"Aku tidak tau apa yang terjadi. Tapi kenapa kau tidak langsung kembali? aku jadi lambat membuat makan siang karena mu, lagi pula jangan terlalu dekat dengan manusia," ucap Casey pada Yoluta dalam perjalanan pulang.
"Kau berkata begitu karena wanita yang membuat mu marah kemarin ada di sana kan?" tanya Yoluta yang sudah mengetahui segalanya.
"Kalau pun iya lalu kenapa? itu sudah berlalu jadi lupakan saja."
"Saat ini biarlah semua masih menjadi rahasia dulu dari Casey. Dia punya dendam pada manusia, apalagi setelah kejadian kemarin di kedai daging itu mungkin dia tidak akan percaya dengan ucapan ku. Apa yang harus aku lakukan nanti?" batin Yoluta memikirkan rencana yang bagus.
*****
Satu bulan kemudian.
Istana putra mahkota merayakan ulang tahun Louis, mereka membuat perjamuan yang sangat meriah dan di hadiri oleh siapa saja dari berbagai kalangan.
Bangsawan dan rakyat biasa di campur menjadi satu dalam aula istana, ada banyak bangsawan tidak nyaman. Tapi mereka sudah biasa karena ini bukan pertama kalinya perjamuan gabungan di lakukan oleh Louis, para bangsawan tidak bisa menolak undangan karena itu adalah wujud penghinaan pada Louis.
Dalam perjamuan ini ada sesuatu yang sangat istimewa terjadi yaitu, proses peresmian pengajuan pertunangan antara Louis dan Elena.
Walau pun Elena tidak hadir. Namun kaisar sudah mengumumkan jika Elena adalah tunangan Louis, Louis senang akan hal itu sebab Ernest yang hadir dalam perjamuannya mendengar pengumuman tersebut. Hanya saja pendapat Elena akan membuat dia takut.
Sebelum perjamuan selesai Louis kembali ke kamarnya untuk menenangkan pikiran, ia ingin menolak pertunangan itu karena Elena. Tapi ia tidak bisa karena sekarang hubungannya selangkah di depan Ernest, dengan cara ini rencananya akan berjalan lancar.
"Ternyata di sini rupanya." Luca menggelengkan kepala saat menemukan Louis yang sedang berbaring di atas sofa.
"Keluarlah! jangan ganggu aku," perintah Louis pada sang adik.
"Ini perjamuan mu jadi kau harus di sana sampai perjamuan selesai. Aku tau kau tidak mau jadi pewaris tahta. Tapi malam ini adalah malam pengumuman jika kau akan menjadi pewaris tunggal, jadi tolong keluar dari kamar sekarang. Kita telah mengikuti keinginan untuk bertunangan dengan Nona Abraham jadi saat ini kau juga harus mengikuti keinginan kami. Ku mohon jangan rusak acara mu sendiri," pinta Luca.
"Ayahanda mengumumkan Elena sebagai tunangan ku bukan putri mahkota? benarkan?" tanya Louis mendapatkan ide bagus.
"Ya, kenapa memangnya? apa kurang puas?"
"Tunggu! apa maksud mu mengatakan semua ini?" tanya Luca, ia merasakan firasat buruk.
"Alasan aku mau menuruti ayah dengan hadir pada pengumuman pewaris tunggal malam ini, itu semua karena aku ingin bertunangan dengan Elena. Dan sekarang keinginan ku sudah terwujud, jadi aku tidak perlu tetap di sini kan." Louis menyeringai pada Luca.
"Tidak tidak tidak, kakak." Luca perlahan melangkah ke belakang karena ia tau betul apa yang Louis pikirkan.
"Salah ayah sendiri yang tidak tahu membuat strategi. Jika ayahanda mengumumkan pewaris tunggalnya lebih dulu aku tidak bisa lari, atau jika ayahanda mengatakan Elena akan menjadi putri mahkota bukan tunangan ku maka aku tidak akan meninggalkan gelar putra mahkota," ucap Louis mendekati Luca selangkah demi selangkah sampai pria itu terpojok di tembok.
"Kakak, ku mohon jangan lakukan ini. Aku akan memanggil mu kakak seumur hidup jadi jangan nekad, aku mohon. Aku mau jadi kaisar dengan cara yang adil bukan seperti ini. Ku mohon kak dengarkan aku dulu," pinta Luca. Namun Louis tidak mendengarkannya, dia langsung menjalankan rencananya.
Beberapa saat kemudian Louis keluar dari dalam kamarnya dengan pakaian Luca, tidak lupa dia memakai topeng.
"Hei, kesatria ke sinilah!" panggil Louis pada pengawalnya sendiri.
"Bawa kakak ku secara paksa ke aula. Ingat! jangan lepaskan jubahnya karena aku mengikat tangannya, jangan lepas topengnya karena wajahnya bengkak setelah bertarung dengan ku. Sampai di aula pastikan dia tidak melarikan diri, dia sulit untuk di atur sampai bertingkah bodoh. Aku akan istirahat di kamar ku, Ini perintah ayahanda kalian harus berhati-hati," perintah Louis.
"Baik," tegas 3 kesatria tersebut.
"Maafkan aku adik," batin Louis beranjak pergi dari sana.
Luca di bawa dengan paksa tanpa memiliki kesempatan untuk memberontak, di aula yang sama di depan banyak orang kaisar mengumumakan pewaris tunggal tahta kekaisaran.
"Sebagai kaisar yang selalu kalian cintai, dan kalian hormati. Aku Kaisar Cedric van Ashraf mengumumkan pewaris tunggal tahta kekaisaran, diberikan kepada putraku." Cedric menunjuk Luca yang di pegang oleh para kesatria, "Dia akan menjadi pewaris tunggal tahta kekaisaran, dan itu tidak akan tergantikan. Dengan ini aku meresmikan titah ku."
Kaisar meletakan stempel kekaisaran dalam dekritnya diringi tepuk tangan yang meriah, Louis yang saat itu bersembunyi di antara rakyat biasa tersenyum karena dia sudah memberikan apa yang sudah seharusnya tidak dia miliki.
Setelah perjamuan selesai dan para tamu kembali mengosongkan aula Cedric menepuk pundak Luca, ia senang karena dengan begini akhirnya Luca yang di kira Louis tidak bisa melepaskan gelarnya.
"Sini, lepaskan saja topeng mu." Cedric melepaskan topeng itu dan saat itulah dia terkejut setengah mati melihat Luca yang mulutnya di bungkam dengan kain.
"Ya ampun, Luca." Vanessa langsung melepaskan kain itu, dan juga tangan Luca yang terikat.
Luca pun menceritakan semua yang terjadi membuat Cedric sakit kepala, dia tidak akan menduga jika dirinya terlalu lengah sampai tertipu oleh anaknya sendiri.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘