
Hari-hari yang Sonia lalui kini semua terasa sama saja, sudah menjadi tunangan Ernest tidak cukup membuatnya puas. Apalagi Jovanka kembali membodohi Ernest seperti dulu.
Pagi ini Sonia sarapan sendiri di meja makan karena Ernest selalu sibuk dari pagi sampai petang, tidak ada waktu sedetik saja Ernest luangkan untuknya. Jika seperti ini terus maka semuanya akan hancur.
Yang lebih membuat Sonia geram sebulan yang lalu Jovanka telah resmi menjadi avatar dari dewi racun, pemikiran serta kekuatannya selalu 10 langkah di depan Sonia.
"Kemas semua pakaian ku. Aku akan meninggalkan kediaman ini," perintah Sonia pada pelayan. Pelayan itu mengangguk, lalu ia pergi mengemas semua barang-barang Sonia sebelum Sonia selesai sarapan.
Tanpa sepengetahuan Sonia salah satu pelayan diam-diam keluar dari ruang maka dan pergi melapor jika Sonia berniat meninggalkan kediaman pada Ernest, tanpa menunggu lama Ernest tinggalkan semua pekerjaannya dan pergi menemui Sonia.
"Sonia," panggil Ernest saat Sonia baru saja keluar dari ruang makan.
Ernest menyentuh pipi Sonia dan bertanya "Kenapa kau mau pergi? kau sudah janji akan tetap di sisi ku. Apa kau akan melakukan hal yang sama seperti Elena?"
"Singkirkan tangan mu." Sonia menepis tangan Ernest, "Aku sudah cukup bersabar dan menderita Ernest. Semua terjadi di luar pengetahuan mu, aku menderita bersama mu dan tidak sanggup lagi. Kita sudah gagal bertunangan 3 kali, dan saat pertunangan kita berhasil 5 bulan lalu kau langsung berubah dari tunangan ku menjadi boneka ibu mu."
"Sonia. Jika kau marah pada ku maka marahlah sesuka hati mu. Tapi jangan menghina ibu ku, salah ku yang mengabaikan mu, kenapa kau bawa nama ibu ke dalam masalah kita?"
"Pertunangan pertama kau pergi karena ibu memberikan berita bohong tentang kembalinya Elena, lalu kau menurut. Kedua dia pura-pura sakit, ketiga dia sengaja mengatakan tanggal upacara pewarisan gelar dimajukan ke hari pertunangan kita. Setelah itu kau mengakui kau telah jatuh cinta pada ku dan kita berhasil bertunangan. Tapi karena marah akan perasaan mu pada ku, dia membuat mu sibuk dengan tugas mu sebagai duke, agar kau mengabaikan aku. Jika kau sangat patuh pada ibu mu maka jadi saja putranya, tidak perlu jadi tunangan ku. Aku muak dengan semua drama karena …."
"Anda tidak bisa pergi ke mana pun calon duchess." Dokter pribadi Sonia memotong ucapannya.
"Kau juga mau menghalangi aku? enyahlah kau!" teriak Sonia, Ernest semakin cemas karena itu.
"Marah tidak baik untuk anak dalam kandungan anda, tenanglah. Anda harus tetap di sini sebagai duchess, karena duke harus menikahi anda sebelum terlambat," jawab dokter.
"An-anak? maksudmu aku akan menjadi ayah? benarkah?" tanya Ernest dengan tatapan berbinar.
"Ya. Anda berdua akan segera menjadi orang tua," jawab dokter.
"Kau dengar itu?" tanya Ernest pada Sonia, ia terlihat sangat senang.
"Tidak, anak ini tidak akan lahir. Ernest akan menikahi ku sebagai selir, karena di hatinya hanya ada Elena dan posisi duchess selalu untuk wanita itu. Aku tidak mau melahirkan anak apalagi sampai terikat dengan Ernest, kesenangannya ada cuma hari ini setelah itu dia akan mengabaikan aku. Kalau pun bayi ini lahir dia hanya akan ditelantarkan, jadi lupakan saja tentang anak ini anggap dia tidak pernah ada," tegas Sonia membuat Ernest terguncang.
"Jangan bersikap kejam Sonia. Aku sangat sayang pada mu, hal itu tidak akan terjadi pada mu sampai kapan pun. Kau dan anak kita akan bahagia bersama ku, aku bersumpah atas nama ibu ku," ucap Ernest membuat Sonia senang karena janji itu terikat dengan nama ibunya, jika dia melanggar janji maka Jovanka akan menderita.
"Bersumpahlah atas nama anak kita juga, posisi duchess akan menjadi milik ku. Apa kau berani?" tantang Sonia. Ernest mengangguk dan bersumpah lagi, barulah kini Sonia bisa merasa tenang. Ia tidak peduli jika Ernest melanggar janji itu, karena yang akan menderita adalah anaknya sendiri bagi Sonia jika dia harus menggunakan anaknya untuk mencapai apa yang dia mau maka dia tidak ragu sama sekali.
"Wanita yang licik. Aku suka dia," ucap dewi racun melihat Sonia dari cermin jarak jauh.
*****
Liana berapa kali mengucek matanya saat mereka berada di depan kediaman Abraham. Ia masih tidak percaya ternyata Elena adalah bangsawan, Liana bahkan tidak mengerti bagaimana bisa Elena makan makanan rakyat biasa seolah sedang makan makanan kelas atas.
Saat Elena menginjak kakinya di halaman kediaman Abraham, para kesatria serta pelayan terkejut setelah sekian lama mereka bisa melihat wajah Elena lagi.
"Mana?" Aaron berlari ke balkon melihat apa benar itu adalah Elena. Saat melihat Elena Aaron merasa senang bercampur marah, "Dasar adik nakal, akhirnya kau ingat jalan pulang ke rumah mu."
Elena hanya melambaikan tangan saja pada mereka, sementara Liana masih berpikir kenapa nama Elena yang tahu adalah Irene malah di panggil dengan nama lain. Seketika Liana teringat siapa Elena dari keluarga Abraham itu.
"Nama mu Elena Abraham? gadis yang dicintai oleh angin? yang memutuskan hubungan dengan kekasihnya pada pesata dengan tamu pesta sebagai saksinya?" tanya Liana, Elena hanya tersenyum memperlihatkan deretan giginya, "Awas kau yah. Berani kau tidak mengatakannya pada ku."
"Kau tidak bertanya jadi aku diam saja," jawab Elena. Lagi-lagi dia mendapatkan pukulan keras pada kepalanya, hadiah penuh cinta dari Liana.
"Semuanya, Elena pulang …." Teriak Elena begitu sampai di dalam kediaman.
"Pu-putriku." Liliana menangis dan berlari memeluk Elena, tidak lupa ia meninggalkan banyak kecupan di wajah Elena, "Darimana saja kau? kenapa pergi tanpa pamit?"
"Maafkan aku, ibu. Karena jika aku pamit kalian pasti tidak akan mengizinkan aku pergi, jadi maafkan aku karena melarikan diri," ucap Elena memegang telinganya, Liliana tersenyum lalu menatap Liana.
"Salam bibi, saya …."
"Dia kakak ku, Liana. Ibu tidak tahu selama di luar sana, Liana merawat ku dengan sangat baik. Ibu jangan jahat padanya atau dia akan pergi. Mulai sekarang dia keluarga ku," potong Elena mengedipkan sebelah matanya pada Liana.
"Dia mulai nakal lagi," batin Liana.
"Selamat datang Liana." Liliana menggenggam tangan Liana, "Nama kita hampir mirip, aku ucapakan terima kasih sudah menjaga anak nakal ini. Kelak jangan sungkan pada ku, jika kau adalah kakak Elena kami maka itu artinya kau adalah anak ku."
"Ta-tapi saya bukan bangsawan. Saya tidak pantas," jawab Liana sungkan dengan keramahan Liliana.
"Apanya yang tidak pantas?" tanya Austin berjalan mendekati mereka, "Yang sudah dianggap keluarga oleh Elena maka sudah menjadi bagian dari kami, status bukanlah masalah."
"Selamat datang untuk kalian." Austin mengecup kening Elena dan Liana, Liana menjadi malu karenanya.
"Dasar Elena," teriak Qinthia berjalan menuruni anak tangga, "Kau tidak hadir dalam pernikahan kami, kejam sekali kau."
"Oh. Jadi sekarang kau sudah ganti gelar dari Putri Qinthia menjadi Nyonya Aaron, sudah berapa bulan keponakan ku dalam perut mu?" goda Elena.
"Dasar payah. Itu belum ada." Qinthia tersipu malu sampai mencubit lengan Elena.
Setelah itu Liliana mengajak yang lainnya keruang keluarga di laintai dua, di sana mereka ingin mendengar semua cerita tentang Elena selama berada di dunia luar.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘