The Second Chance To Change Destiny.

The Second Chance To Change Destiny.
Bab 58 Louis dan masalah dapurnya.



Akhirnya  Louis sampai juga di ibukota, ia tidak sabar untuk pergi menemui Elena sayangnya tidak bisa karena Elena tidak mengizinkannya. Elena berkata akan menemuinya. Tapi Louis berpikir bagaimana caranya Elena tau dia sudah kembali atau belum, bagaimana pun itu Louis hanya bisa menunggu.


Pertama-tama Louis akan pergi ke kerajaan. Kedatangan Louis mengejutkan banyak orang karena ia sudah 3 tahun tidak terlihat, para pelayan langsung memberikan kabar ini pada keluarga kerajaan. Orang yang paling pertama bergegas menemui Louis adalah kaisar sendiri.


Ia menemukan Louis berada di bawah pohon apel yang letak ada di samping istana Louis, Louis mampir sejenak untuk melihat pohon yang ia tanam sendiri.


"Kau sudah besar rupanya. Bahkan sudah berbuah, apa kau tau aku akan segera pulang jadi kau berbuah dengan cepat?" tanya Louis pada pohon itu, lalu ia tertawa karena bersikap konyol.


"Dia tidak pernah tertawa bahagia sejak ibunya meninggal. Kali ini dia tertawa setelah pergi sekian lama, apa yang membuat tawa itu merekah?" batin kaisar melihat Louis dari kejauhan.


"Ah! Elena akan datang nanti, aku tidak tahu kapan waktu pastinya. Tapi saat waktu itu tiba, aku akan meminta sedikit buah mu, kau jangan pelit pada ku karena Elena ini orang istimewa bagi ku," ucap Louis lagi.


"Paman, apa kabar?" sapa Louis kepada tukang kebun, pria berusia 50 tahun itu tersenyum mendekati Louis sampai memeluknya.


"Selamat datang, pangeran. Kabar saya baik, saya menjaga kebun istana dengan baik," jawab pria itu setelah melepaskan pelukannya.


"Jika ada paman, aku bisa meninggalkan kebun dengan hati senang karena aku tau sebaik apa paman merawat tanaman ku. Terima kasih paman."


"Anda membuat saya malu lagi."


"Baiklah. Paman jangan bekerja terlalu keras, aku akan masuk dulu," pamit Louis, ia pergi meninggalkan tukang kebun itu.


"Lama tidak bertemu," sapa kaisar saat Louis lewat di dekatnya.


"Lama tidak bertemu, ayahanda," balas Louis dengan sikap yang dingin.


"Kau tidak bertanya kabar ayahanda mu ini?"


"Aku tau, ayahanda pasti baik-baik saja karena ada ibunda bersama ayahanda. Dan aku tidak akan meminta maaf dengan apa yang aku lakukan, aku rasa semua adil dalam cinta dan perang."


"Kita tidak bertemu untuk waktu yang lama. Setidaknya peluklah aku, aku memang marah pada mu. Tapi itu tidak akan mengubah kenyataan, jiwa ku sebagai seorang ayah merindukan putranya. Kemari."


Louis berjalan mendekati kaisar. Tersisa 3 langkah dari Louis, kaisar langsung menarik Louis ke dalam pelukannya.


"Lakukan apa yang kau mau, ibu mu sudah membuat kau menderita selama beberapa tahun hanya karena dia mau kau jadi kaisar. Sekarang kau tidak perlu melakukan itu, ayah juga telah mendapatkan gelar Grand Duke Ashraf untuk mu," bisik kaisar membuat Louis merasa bersalah.


"Maaf, sudah mengambil pilihan yang buruk dengan pergi tanpa pamit. Aku hanya ingin menghindari perdebatan dengan kalian," jawab Louis. Kaisar tertawa mendengar pangkuan itu, padahal sebelumnya dia tegas sekali.


"Kakak, Louis." Teriakan serempak Vanessa dan Luca. Keduanya berlari mendekat lalu memeluk Louis.


"Anak nakal. Ibu berpikir kau lupa jalan pulang," ucap Vanessa.


"Kakak kejam. Aku membenci mu," tambah Luca memeluk Louis semakin erat. 


"Maaf." Hanya itu yang bisa Louis katakan untuk saat ini kepada mereka, ia bukan pria yang pintar merangkai kata-kata.


*****


Carlos kembali ke rumah saat mendengar kabar jika adiknya sudah kembali, ia meninggalkan pekerjaannya di istana dan datang ke rumah. Sesampainya di rumah Elena langsung dimarahi habis-habisan, Elena yang sudah menduga adegan ini akan terjadi maka dia menutup telinganya menggunakan kekuatan Undine.


Elena mengajak Liana pergi bersamanya dan Carlos, Liana menurut saja tanpa mengetahui maksud di balik ajakan itu. Begitu kereta kuda memasuki gerbang kerajaan, Carlos meminta kusir ke istana Louis terlebih dahulu.


Sesampainya di istana Louis, Elena pun turun dari kereta kuda dan Liana juga ingin turun. Namun Elena mencegahnya, "Mau ke mana?"


"Tentu saja ikut dengan mu," jawab Liana.


Elena menggelengkan kepalanya, "Kau tidak akan ikut dengan ku, pergilah bersama Kak Carlos ke bagian administrasi kerajaan. Aku akan pergi berkencan jadi tidak akan membawa mu."


"Kenapa tidak kau katakan sejak tadi? tau begitu aku tidak ikut."


"Hei! apa yang kau katakan? aku akan membuat mu mengelilingi ibu kota, salah satu tempat di ibu kota adalah kerajaan. Apa kau tidak mau berkeliling kerajaan?"


"Tentu saja aku mau. Jangankan berkeliling bahkan melihat kerajaan saja adalah mimpi ku sejak lama. Tapi aku ingin pergi dengan mu, atau aku pulang saja."


"Begini saja. Aku tidak akan lama di dalam sana hanya beberapa saat, sementara itu kau ikut dengan kakak baru akan ku jemput kau nanti. Bagaimana?"


"Bagaimana kalau aku bertemu dengan keluarga kerajaan saat kakak mu bekerja? aku bisa mati nanti."


"Jangan berlebihan. Kakak ku tidak sesibuk itu, kan kak?" tanya Elena beralih pada Carlos dengan tatapan tajam.


"Ya. Kau ikut saja dengan ku, jangan sungkan. Biarkan Elena pergi. Di sana ada perpustakaan jika kau bosan duduk sendirian kau bisa membaca buku," bujuk Carlos pada Liana, setelah banyak pertimbangan akhirnya Liana menurut dan pergi bersama Carlos.


"Aku tidak tau dia sesulit itu jika di bujuk," batin Elena. Kini ia  bisa menemui Louis dengan tenang.


Elena berjalan masuk ke istana Louis. Para kesatria serta pelayan yang mengenalnya hanya memberi salam, Elena juga bersikap ramah pada mereka agar mereka tidak terlalu kaku dengannya.


"Permisi." Elena menghentikan pelayan yang sedang membersihkan vas bunga di lorong, "Apa kau tau di mana Louis?"


Pelayan itu hanya menatapnya tanpa berkedip, ia tidak mengenal Elena karena dia pelayan baru dan baru kali ini ada orang selain Keluarga Kerajaan memanggil nama Louis secara langsung.


"Aku tunangannya. Elena Abraham," ucap Elena untuk menjawab tatapan bingung dari pelayan itu.


"Di dapur utama. Sebelah selatan," jawab pelayan itu. Elena berterima kasih kemudian beranjak menuju dapur.


Di dalam dapur Louis sedang sibuk dengan berbagai alat untuk membuat kue, Fil yang punya segudang pekerjaan sebagai asisten Louis terpaksa harus turun tangan membantunya, karena pelayan dapur sudah beberapa kali mengadu padanya jika Louis meledakan dapur.


Fil tau Louis sangat antusias mencoba membuat pai apel untuk Elena saat dia datang nanti. Namun Fil juga tidak bisa diam saja jika ia merusak dapur sesuka hatinya, ia sudah bersusah payah menjaga istana ini tetap aman selama Louis pergi dan saat dia kembali ia malah merusak banyak hal.


Fil sudah menunjukan cara membuat pai apel beberapa kali pada Louis, dan oven juga sudah beberapa kali meledak sementara penyebab tidak di ketahui. Fil di buat pusing karena hal itu.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘