THE NEXT GOOD BOYS

THE NEXT GOOD BOYS
Ketika kau merasa itu yang terbaik



Gandi berjalan masuk kedalam rumah dengan langkah gontai, dimana ia begitu brengsek telah meninggalkan Key sendirian di tempat yang menjadi kenangan kedua orang tuanya. Gandi tidak punya pilihan lain selain tega menyakiti hati gadis yang di cintainya itu, dimana saat itu dirinyalah yang sangat kesakitan.


"Loh sayang kok sudah pulang?" Ucap Nindi pada sang putera yang ternyata tidak mendapat jawaban apa apa dari Gandi, Gandi berjalan menunduk tanpa menoleh atau pun melihat sekeliling, dan tidak menghiraukan sang mama yang berpapasan dengan nya di samping tangga menuju lantai dua, dimana kamarnya berada.


"Gand...mamamu tanya, kenapa tidak menjawab?" Ucap Arga pada sang putera dengan tangan yang sudah mencekal lengan Gandi, saat itu Arga dari ruang kerjanya dari lantai atas, dan tidak sengaja berpapasan dengan Gandi di anak tangga.


"Akh papah...maaf pah, mah...Gandi hanya kurang fokus saja." Ucap Gandi pada papa dan mamanya, dan saat itu mamanya hanya bisa tersenyum lalu pergi berlalu begitu saja, dan Gandi sendiri akan beranjak pergi menuju ke kamarnya.


"Tunggu Gand, kamu kenapa? ada apa?" Tanya Arga pada jagoannya.


"Gandi putus pah dengan Key." Ucap Gandi lesu, dengan tampang wajah yang benar benar menyedihkan. Saat itu Arga tidak bisa berkata apa apa, ia pun tidak menyalahkan sang putera, Arga tahu pasti ada sesuatu, dan Arga pun tidak ingin ikut campur, karena Arga tahu, apa yang puteranya lakukan pasti sudah ia pikirkan, dan yang pasti Gandi bukan tipe yang suka memainkan hati dan perasaan wanita.


"Yasudah...istirahat sana, ingat...jangan sakiti dirimu sendiri, paling tidak...ingat makan." Ucap Arga dengan bijaknya sembari menepuk pundak Gandi beberapa kali, lalu Arga akan turun kelantai bawah dimana istrinya berada.


"Pah...apa bukit cinta benar benar menjadi bukit kenangan papa dan mama?" Tanya Gandi sembari menghentikan langkahnya dan menoleh kearah papanya yang sudah beberapa tingkat di bawahnya. Saat itu Arga hanya mengangguk sekali, tanda mengiyakan perkataan puteranya.


"Sepertinya...bukit itu pun akan menjadi kenangan Gandi pah..." Ucap Gandi dalam hati sembari pergi meninggalkan papanya dan naik ke lantai dua rumahnya. Sampai di depan pintu kamarnya, Gandi hanya bisa menghela nafas dalam dalam beberapa kali. Ia masuk kedalam kamar yang ia rasa sangat sepi dan sunyi, saat itu ia sengaja mematikan ponselnya, dengan pikiran penat dan perasaan yang bercampur aduk, Gandi pun membanting tubuhnya di atas pembaringan, tanpa sadar ia menangis disana, dengan bantal yang ia ambil untuk menutupi wajahnya. Hingga tanpa terasa malam kian larut, saat itu Gandi tertidur, Gandi tidak tahu bahwa Key masih di tempat yang sama, ia tidak beranjak pergi sedikitpun dari sana, hingga udara malam makin terasa menusuk. Key menatap kearah depan yang ia rasa benar benar sangat luar biasa indahnya, namun ia tidak bisa menikmatinya sama sekali, saat itu air matanya sudah mengering, ribuan pertanyaan yang ada di otaknya tidak bisa ia tanyakan, dan apa salahnya pun ia tidak tahu, hingga laki laki itu memutus hubungan begitu saja dengan alasan yang sepele dan tidak masuk akal.


"Yas...apa putrimu baik baik saja?" Ucap Arga pada telephon yang telah tersambung dengan Abiyasa.


"Loh...bukannya Key sedang jalan sama Gandi ya Ga? dia belum pulang." Ucap Abiyasa dengan terkejutnya.


"Cepat cari putrimu Yas, sepertinya mereka ada sedikit masalah, hingga Gandi pulang sendiri tadi, dia bilang sudah putus dengan Key." Ucap Arga yang memberi tahu.


"Apa masalahnya?" Tanya abiyasa lagi dengan kagetnya.


"Aku tidak tahu Yas, yang pasti Gandi punya alasannya, dan dia pulang dengan sangat kacau, aku yakin putrimu pun saat ini tidak baik baik saja." Ucap Arga lagi, lalu Abiyasa pun mengerti.


"Jangan khawatir...kita lihat saja nanti." Ucap Arga lagi yang kemudian mematikan panggilannya. Setelah mendapat kabar dari temannya itu, Abiyasa pun segera menghubungi Keyra, setelah tahu tempat Key, Abiyasa pun segera menyusul sang puteri ke tempatnya.


"Papa..." Ucap Key sembari berhambur berlari memeluk papanya yang baru keluar dari dalam mobil, Key sudah menunggu sang papa di tempat parkir ternyata.


"Sudah, sudah sayang...semua pasti akan baik baik saja...waktumu masih panjang nak...jangan sia siakan masa mudamu untuk menangis dan bersedih." Ucap Abiyasa yang mencoba menghibur putrinya.