THE NEXT GOOD BOYS

THE NEXT GOOD BOYS
Perkenalan singkat



"Mana ada pah...bukan selera Gandi lah..." Ucap Gandi sembari memijit mijit luka di pipinya.


"Tapi ingat Gan...meski papa nggak marah...papa nggak bisa jamin mama kamu, jadi saat mama ngoceh ntar...diam dengerin...nggak usah jawab apa lagi bantah, anggap saja kamu yang paling bersalah." Ucap Arga menerangkan, dan Gandi hanya manggut manggut saja.


"Tapi nak...sejak kapan selera kamu ngawur kayak gitu? papa sih lihat...cewet gendut itu emang imut sih...tapi masak iya nggak ada satupun gadis cantik yang nyantol selain dia? papa lihat kamu banyak yang naksir, dan lagi...ada baiknya kalau kamu contoh si Evan, dia nggak mikirin cewek, apa lagi sampai berantem berebut." Ucap Arga lagi sembari mengambil tas sang putera dan membawanya.


"Papa...Gandi harus bilang apa sih agar papa percaya? Gandi nggak berebut cewek...Gandi masih mikir sekolah dan main sama temen temen, kalau pacaran ntar aja deh..." Ucap Gandi yang terlihat sangat nyaman ngobrol dengan papanya dibanding dengan mamanya.


Lalu keduanya pun melanjutkan obrolanya sambil jalan pulang, hingga sampai depan rumah, nampak Gandi dengan sedikit takut turun dari dalam mobil.


"Ayo...nggak usah ngumpet..." Ucap Arga dengan merangkul pundak Gandi dan mengajaknya masuk kedalam.


"Gandi...mama tahu apa yang terjadi, udah jangan ngumpet lagi, tuh mama dapat surat panggilan dari email sekolah kamu, kamu berantem?" ucap Nindi seketika saat keduanya masuk.


"Ayo makan dulu...mama mau ngomong sama papa kamu." Ucap Nindi yang mengajak sang putera ke meja makan, dan menggandeng sang suami ke dalam ruang kamarnya.


"Ada apa sayang?" Tanya Arga setelah keduanya sampai di dalam kamar.


"Kok ada apa sih? besok yang datang ke sekolah aku apa kamu?" Tanya Nindi sembari duduk di tepian ranjangnya.


"Aku aja...atau kita berdua?" Ucap balik Arga yang merasa biasa saja.


"Sayang...kenapa kamu manjain Gandi sih?" Ucap Nindi dengan kesalnya.


"Nggak manjain sayang...dia lagi masa puber tuh, kita marahin juga percuma..." Ucap Arga sembari menghampiri sang istri lalu ikut duduk di sampingnya pula.


"Darimana kamu tahu Gandi lagi puber? sayang dia itu baru aja masuk kelas satu loh..." Ucap Nindi dengan pandangan mata penuh tanya.


"Aku lihat di tas nya penuh surat cinta dari lawan jenisnya, dan kamu tahu dia berantem karena apa? karena nolongin cewek, jadi apa lagi coba sampai bela belain bonyok kayak gitu?" Ucap Arga menerangkan.


"Oke baiklah...lalu besok kalau sampai Gandi di tuntut gimana? empat orang yang Gandi hajar...untung nggak ada yang patah tulang." Ucap Nindi dengan memeluk sang suami.


"Akh...kamu sih...ngapain juga tiap akhir pekan selalu ngajak Gandi ke sasana tinju, apa lagi sampai kamu nyuruh orangmu buat ngajarin Gandi bela diri, kayak gini kan jadinya." Ucap Nindi yang merasa sesak dan jengkel yang menjadi satu, namun tak bisa ia utarakan pada sang suami.


"Sayang...jangan begitu...kesanya kamu nggak percaya sama dia, sudah untung aku ajarin dia sejak dini, dia bisa jaga diri, kalau nggak...udah masuk rumah sakit anak kita itu." Ucap Arga yang makin dalam memeluknya, membuat Nindi merasa nyaman.


"Emb...atau gini aja, kamu mau anak kita nggak nakal lagi kan? gimana kalau kita buatain dia adek?" Ucap Arga yang mulai tumbuh otak jahilnya.


Hingga membuat Nindi seketika tersedak ludahnya sendiri,


karena Nindi benar benar merasa takut jika harus mengalaminya lagi.


"Baiklah baiklah...hanya bercanda...kenapa kamu sudah ketakutan begitu sih? aku pun masih ingat antusiasmu saat menarik rambutku, jadi biarkanlah mengalir apa adanya..." Ucap Arga sembari menarik dagu Nindi lalu mengecup ringan di bibirnya.


"Makasih sayang atas pengertianya." Ucap Nindi lagi, lalu keduanya pun turun menemani sang putera untuk makan bersama.


Hingga hari berganti dan esok pun menjelang, dengan sikap lelakinya Gandi sudah siap sebelum papa dan mamanya turun untuk makan sarapan pagi itu.


"Sayang...tumben pagi pagi begini sudah siap nak?" Tanya Nindi pada sang putera.


"Kan nanti mau tempur lagi mah...sama papa pula" Ucap Gandi dengan antusuasnya, dan Nindi yang merasa keheranan.


Hingga ketiganya usai dengan sarapanya dan memutuskan untuk pergi ke sekolah Gandi.


"Loh...mama ikut sekalian?" Tanya Gandi yang keheranan.


"Iya...mama pingin tahu se imut apa sih gadis yang bisa bikin jagoan mama rela bonyok karenanya." Ucap Nindi dengan ledekanya, sebenarnya ia hanya formalitas saja untuk datang berdua dengan sang suami sebagai orang tua siswa.


"Akh....mama dapat info nya nggak akurat." Ucap Gandi dengan lesunya.


Lalu ketiganya masuk kedalam mobil, mobil yang di supiri oleh pak supir, hingga setengah jam perjalanan akhirnya sampai ke tempat tujuan.


"Kakek....!" Sapa Gandi saat turun dari mobilnya dan menyapa seorang lelaki yang kelihatan macho meski di usianya yang tidak muda lagi. Rendi Wijaya, pimpinan yayasan sekolahan yang Gandi tempati untuk menuntut ilmu.


"Anak nakal...!" Ucap Rendi dengan nada dinginya, namun kedua tanganya memeluk tubuh sang cucu.


"Pah..." Sapa Arga dan Nindi bersamaan, lalu ke empatnya


beriringan masuk kedalam sekolah, dan tepat masuk ke dalam ruangan khusus untuk diskusi, setelah ke empatnya masuk kedalam, nampak empat pasangan wali murid dari ke empat siswa yang Gandi gebuki, atau yang mengeroyok Gandi.


Setelah Arga, Nindi , Rendi dan Gandi duduk, semua memperkenalkan diri masing masing, tampak perdebatan sengit antar wali murid dan juga guru Bp saat itu, hingga kedua orang tua si gadis datang beserta pengacaranya, yang membuat bungkam semua yang ada di dalam ruangan.


Sang gadis memberitahu yang sebenarnya, dan akhirnya jatuhlah Skorsing pada ke limanya, termasuk Gandi.


"Gan...tunggu...!" Teriak gadis gendut yang Gandi tolong.


"Apa? ada apa?" Ucap Gandi saat keduanya sudah keluar dari dalam ruangan dan hanya di koridor berdua saja.


"Kenalin...nama aku Keyra Abiyasa." Ucap gadis gendut dengan mengulurkan tanganya.


"Ya ya ya...kamu nggak nyuruh aku ingat ingat kan? bye bye..." Ucap Gandi dengan sinisnya, sembari membalikan badanya dan pergi meninggalkan keyra sendirian mematung disana.


Hingga tiga hari sudah masa Skorsing usai, tampak Evan, Reza, dan Eric menyambut kedatanganya di sekolah.


"Slamat datang kawan...!" Ucap Reza dan Eric sembari menarikan kursi di sebelah Evan untuk Gandi duduk.


"Van...bisa ikut aku sebentar?" Tanya Vanya yang berada di sebelah bangkunya, Vanya adalah sekretaris kelas, dan kebetulan Evan adalah ketua kelasnya.


Evan pun kemudian ikut keluar, mengikuti kemauan Vanya.


"Stop!" Ucap Vanya sembari mencekal tangan Evan, seketika pula keduanya berhenti.


"Van...mau nggak jadi pacar aku?" Ucap Vanya tiba tiba diluar topik kelas yang Evan kira Vanya bakal bahas.