
"Nora." Ucap Eric yang menirukan gaya si gadis berbicara. Sampai Eric masih terdiam mematung seakan kebingungan, gadis itupun sudah pergi dari hadapannya lagi.
"Ya...pergi lagi! mau ngucapin makasih aja ribet amat." Ucap Eric dengan gerutunya, sampai kedua orang tuannya datang ke arahnya, Yura dan Satria selalu terlihat mesra dan lembut.
"Ayo sayang..." ucap Yura saat ia sudah sampai di dekat sang putera. Eric pun hanya turut mengekori kedua orang tuanya itu dari belakang.
"Sayang...nanti saat di dalam...jangan bertanya apa apa ya, nanti kalau pulang saja bisa bertanya pada mama dan papa, oke?" ucap Yura pada sang putera, dan Eric hanya membalasnya dengan anggukan patuhnya saja. Namun di hati dan otak Eric, berkecamuk beribu pertanyaan yang tergambar disana.
Hingga ketiganya di persilakan masuk oleh seseorang kedalam ruangan khusus yang ada disana, ketiganya pun langsung masuk seakan mengerti. Terdapat satu meja bundar yang di penuhi berbagai hidangan di atasnya, dan disana pula terdapat seorang lelaki paruh baya dan juga seorang anak gadis.
"Nora!" ucap Eric yang begitu kagetnya, namun ia senang saat itu, terlihat dari kedua pancaran mata Eric yang berbinar senang. Hingga Eric memilih untuk duduk di sebelah Nora, disusul kedua orang tua Eric. Hingga makan malam itu pun usai, tibalah kedua keluarga untuk membahas masalah pertunangan anak anak mereka.
Kesan pertama yang manis, anggun, nan cantik, dari Nora membuat kedua orang tua Eric senang, dan betapa terkejutnya Eric saat papa Nora berkata bahwa keduanya harus bertunangan sebelum minggu depan, karena Nora dan papanya harus kembali ke negara asalnya saat itu.
Eric terperanjat seakan tidak percaya saat kedua orang tuanya membahas perjodohanya dan Nora.
"Maaf, bisakah saya mengajak Nora keluar sebentar?" ucap Eric yang langsung mendapat anggukan dari papa Nora, Eric pun langsung mengajak gadis itu keluar dari ruangan, membiarkn para orang tua untuk membahas masalah mereka di dalam.
Eric mengajak Nora ke luar gedung, ke tempat duduk yang ada di area luar hotel.
"Nora, benar?" tanya Eric saat keduanya sampai di luar. Dan gadis itu hanya terlihat mengangguk dengan senyumannya.
"Kamu punya saudara kembar?" tanya Eric yang penasaran. Dan lagi lagi gadis itu hanya menjawabnya dengan gelengan, dan tanpa bersuara.
"Kamu gagu? nggak bisa ngomong?" tanya Eric lagi yang mulai curiga.
"Aku takut salah bicara, dan membuatmu tidak nyaman, tapi aku mengerti apa yang kamu katakan. Dan yang di bahas kedua keluarga di dalam." Ucap Nora dalam logat bahasa ingrisnya saat itu.
"Tenang...aku menguasai bahasa ingris kok. Eh tapi...kenapa kita di jodohkan?" tanya Eric yang tidak tahu, dan berusaha mencari tahu.
"Terus...kenapa kamu mau?" tanya Eric lagi.
"Terus kamu juga belum menjawabnya, kamu kembar?!" tanya Eric lagi yang bertubi tubi.
"Already?" ucap Nora saat Eric nerocos bertanya padanya.
"If so, letme answer it." Ucap Nora yang membuat Eric terdiam dan mengangguk.
"Okay, I am sorry..." ucap Eric menyela.
"So you help me?" ucap Eric yang ingin memastikannya. Dan Nora hanya mengangguk mengiyakannya saja, disana ada rasa senang, namun juga ada rasa keberatan, karena tiba tiba ia dan Nora telah di jodohkan.
"You just want to match up with me? no rejection at all? you're not afraid i am a jrerk? (kamu mau begitu saja di jodohkan denganku? tanpa penolakan sama sekali? kamu tidak takut aku adalah lelaki brengsek?)" ucap Eric yang mulai berbicara dengan santainya.
"Is there a jerk who can't fight? (mana ada lelaki brengsek yang tidak bisa ber'.kelahi?)" ucap Nora yang benar kenyataannya, membuat Eric terbelalak tidak percaya.
"Hais...never mind! whatever!" ucap Eric dengan geramnya. Dan saat itu Nora malah terkikik geli, Eric pun hanya bisa menatap wajah Nora yang bersemu merah karena tawanya.
"Cantik." Ucap eric tiba tiba, dan Nora langsung terdiam, menghentikan tawanya.
"Aku masih ingin tahu, dan aku akan mencari tahu, kenapa kita di jodohkan, aku akan bertanya pada kedua orang tuaku nanti saat pulang. Nih...kasih tahu nomor ponsel kamu." Ucap Eric sembari menyodorkan ponselnya pada gadis di depannya.
Dan segera saja Nora memberikan ponselnya agar Eric yang memasukan nomornya, keduanya saling bertukar nomor, sampai sosial media, lalu akan kembali ke tempatnya, namun kedua orang tua Eric dan papa Nora sudah keluar terlebih dahulu, sampai akhirnya kedua keluarga pun saling berpamitan.
Di sepanjang perjalanan, Eric hanya terdiam ia tidak bersuara sama sekali, hanya membuang muka menatap ke luar jendela, dengan kedua tangannya bersedekap seakan ia tengah merajuk disana.
"Kamu baik baik saja sayang? kamu tidak ingin bertanya?" tanya Yura pada anak laki lakinya.
"Apa jika Eric bertanya sekarang, bisa merubah kesepakatan yang mama dan papa sudah buat pada papa Nora? tidak kan?" ucap Eric dengan pilunya.
"Sayang...maafkan mama dan papa ya..." ucap Yura lagi yang memang tidak ada jalan lain selain menjodohkan anaknya.
"Asalkan tidak menjualku saja." Ucap Eric tiba tiba.
"Eric Emilio Ezra! begitukah sikapmu pada orang tua?" ucap teriakan yang melengking dari Satria, yang membuat Eric tersentak seketika, karena seumur umur, Satria baru kali itu mengeluarkan suara yang keras.
"Pah...maaf...mah...maaf, bisakah Eric turun disini? Eric mau ke rumah Gandi." Ucap jujur Eric, yang saat itu belum ingin pulang. Segera saja Satria menghentikan mobilnya, lalu Eric turun disana, namun sebelumnya ia sudah bertanya pada Gandi, apakah ia jadi jalan jalan dengan keluarganya atau ada di rumah, dan ternyata Gandi ada di rumah.
Menurut Eric, Gandi adalah teman yang terenak diajak ngobrol, setiap Eric ada masalah, entah itu karena gadis, atau pelajaran, Gandi selalu yang menjadi pencerahnya, dan ia lebih nyaman curhat dengan Gandi di banding Reza, apa lagi Evan yang pendiam itu.
Beberapa saat mobil taksi yang di tumpangi Eric tiba di depan kediaman, Sanjaya, segera saja ia turun disana, dan ternyata Gandi sedang ada di teras luar rumahnya sendirian, melihat bintang dan juga bulan, saat itu pun Gandi berharap Key menatap ke arah yang sama dengannya.
"Kapan ini berakhir? haruskah aku terus menyakiti perasaanku sendiri begini? akh...aku terlalu merindukannya." Ucap Gandi saat itu, sampai...
"Gand...!" teriak Eric yang lalu berhambur ke pelukan Gandi.
"Hei...gue kangen Key, napa lu yang meluk gue?!" ucap Gandi seketika, namun tidak di hiraukan oleh Eric.