THE NEXT GOOD BOYS

THE NEXT GOOD BOYS
Ancaman yang manis



Nampak pagi itu Nindi di temani sang suami tengah berjalan jalan di area rumahnya, lalu berjalan keluar melewati pintu gerbang yang tinggi menjulang, Terlihat dari kejauhan nampak mobil papa dan mama yang berjalan mendekat ke arah keduanya.


"Ga...baru aja kemarin mama papa kesini...kamu sih terlalu heboh...mereka repot repot kesini lagi kan...!" Ucap Nindi yang merasa bersalah pada mama papanya.


"Mereka nggak repot kok sayang...papa yang bilang!" Ucap balik Arga yang menimpali.


"Hai....!" Ucap Arga yang tiba tiba menyapa seseorang.


Seketika itu pula Nindi ikut menoleh ke arah orang yang tengah di sapa sang suami.


"Lagi ngapain di sini?" Ucap Aditya sambil mendekat ke arah adik dan adik iparnya.


"Lagi menyambut papa mertua, tuh! dan yang pasti jagain istri lah..." Ucap lebay Arga.


Hingga mobil yang di kendarai mertuanya itu tengah memeasuki area pelataran rumahnya.


"Kak...ajak kak ifa sekalian kesini dong...biar rame...kakak nggak kerja kan? pas tuh!" Ucap Arga yang lalu pergi begitu saja mengajak sang istri untuk masuk ke dalam, Sedangkan Aditya masih mematung di tempatnya.


"Kebiasaan kalau nyuruh orang, belom di jawab udah maen pergi aja nggak permisi, dasar!" Dengus Aditya yang kemudian pergi meninggalkan depan rumah Arga.


"Papa...mama..." Sapa Nindi pada kedua orang tuanya, tak lupa berjabatan tangan dan mengajak kedua orang tuanya untuk masuk ke dalam rumah.


"Evan tidurnya pules banget mah?" Ucap Nindi seraya mencium pipi adiknya yang gembul.


"Iya...semalam tidurnya malam banget sayang...ngajakin maen papanya tuh...begadang deh mereka berdua." Ucap Anin menerangkan.


Sedangkan Rendi sibuk mengeluarkan isi dalam mobilnya, beraneka macam buah buahan dan makanan yang Anin masak khusus untuk puterinya. Masakan ikan laut tentunya.


Sedangkan Arga pun langsung ikut membantunya setelah tahu papa mertuanya itu tengah repot dengan bawaanya.


"Mama kenapa pagi begini sudah mateng aja? Nindi mencium bau wangi masakan mama nih." Ucap jujur Nindi yang benar mencium bau wangi masakan mamanya.


"Sayang...papa mu tuh yang ribet...saat dengar kamu hamil...eh dia tuh yang antusias belanja daging sama ikan laut, akh...mama ma masaknya di bantu bibi...kamu udah sarapan belum? bibi mana?" Tanya Anin yang bertubi tubi pada puterinya.


"Aku jelas udah sarapan mama...tadi Arga beli bubur...dan kalau bibi...datangnya ntar pukul sembilan mah..." Ucap Nindi yang menerangkan, Karena kala itu pukul setengah sembilan saja belum genap.


Hingga semua bawaan telah di masukan oleh Rendi dan Arga kedalam rumah, Nampak ke empatnya tengah berkumpul, Sedangkan si Evan tengah di tidurkan di kamar tamu serta di tunggui bibi pengasuhnya.


"Gimana sayang...sudah berapa minggu calon cucu mama?" Tanya Anin pada sang puteri.


"Emb...udah sepuluh dan hampir sebelas minggu mah..." Ucap Nindi sembari mengrlus perutnya, dan kemudian Arga datang mendekat lalu duduk di samping sang istri, setelah meletakan semua makanan dan buah ke atas meja makan.


"Arga selalu siaga kok mah...jangan khawatir...!" Ucap Arga yang ikut menimpali kata kata sang istri, dan mama hanya tersenyum lalu manggut manggut saja.


"Eh...kakak ipar kamu ajak kesini sayang...mumpung banyak makanan...dia juga kan lagi hamil...pasti butuh teman ngobrol juga kan?" Ucap mama pada Nindi, dan segera saja Nindi akan beranjak dari duduknya untuk menuju ke meja telephone berada.


"Sayang mau kemana? mau telephone kakak ya? sini kamu duduk aja...biar aku yang telephone...oke?" Ucap Arga yang menahan sang istri agar tidak berdiri, lalu ia pun segera bangkit dan menuju telephone yang berada di atas meja khusus telephone rumahnya.


Beberapa saat Arga mencoba menghubungi, Nampak tidak ada yang menjawabnya, Hingga beberapa saat lamanya, barulah terdengar suara dari seberang yang mengangkat panggilanya.


"Oh...baiklah...sebentar lagi ya...masih nungguin bibi yang belom sampai..." Ucap jujur ifa, karena memang bibi yang bekerja di kediaman Wibawa itu datangnya sama waktunya dengan bibi yang bekerja di kediaman Sanjaya.


"Baiklah kak...akan aku sampaikan sama mama." Ucap Arga yang kemudian keduanya menyudahi panggilanya dan menutup telephonenya.


Dan hanya berselang hampir satu jam saja, Saat Aditya dan juga Ifa tengah datang ke rumah Arga dan Nindi.


Semua berkumpul di ruang keluarga, bersenda gurau dan saling ngobrol masalah kehamilan dan bayi, apa lagi mama Anin yang sudah berpengalaman dalam hal itu.


"Eh...sayang...kamu mau kemana? mau pipis ke kamar mandi? ayo aku anterin..." Ucap Arga seketika setelah melihat sang istri berdiri dari duduknya.


Dan tanpa sadar membuat semua mata menatap ke arah keduanya dengan keherananya.


"Akh...aku mau ambil ponsel di kamar sayang...udah kamu ngobrol aja sama papa dan kakak!" Ucap Nindi yang tidak di hiraukan oleh suaminya.


"Kamu duduk aja...biar aku yang ambilin oke?" Ucap Arga sembari bergegas menuju kamarnya.


"Hah...sayang...suamimu...sampai sebegitunya?" Tanya mama tiba tiba dengan kagumnya.


"Ya...sejak bangun tidur...Arga jadi berbeda mah...dari baju dalaman sampai minum susu kehamilan, dia yang siapkan mah...akh...apa aku harus senang mah? aku malah merasa Argaku berbeda...!" Ucap Nindi yang menerangkan, dan semua seksama menyimaknya.


"Semua lelaki kalau merasa bahagia yang luar biasa pun demikian sayang...nggak cuma Arga saja, papa dan Aditya pun pasti seperti itu...!" Ucap papa tiba tiba yang ikut menyahut obrolan mama dan puterinya itu.


"Benar sayang...malah beneran kan...nikmati momen seperti itu, karena tidak setiap tahun suamimu akan berubah manis kayak gitu!" Ucap mama sembari melirik tajam ke arah papanya.


"Aku kan selalu manis mah...masak nggak ingat sih?" Ucap papa tiba tiba yang tersadar akan tatapan tajam sang istri barusan.


"Ya...ya ya...papa selalu manis...maniiiis....banget sayang...!" Ucap mama dengan sungutnya, karena menurutnya, sang suami manis banget kayak gula aren kalau lagi ada maunya, sudah di pastikanya itu.


Hingga bibi asisten rumah tangga Nindi datang, dan Nindi meminta tolong untuk membawakan buah yang sudah di cuci dan di iris ke ruang keluarga.


"Loh sayang...kamu duduk aja...kok malah disini...biar aku aja yang bantuin bibi..." Ucap Arga yang tiba tiba nongol di dapur.


Dengan segera menggiring sang istri keluar area dapur, hingga sampai ruang makan, ruangan yang terdapat penyekat yang tidak tembus pandang dari ruang keluarga, karena jaraknya yang lumayan juga, membuat Arga menahan sang istri sebentar disana.


"Kamu jangan kecapekan sayang...kalau mau apa apa bilang saja padaku, pasti sebisaku akan aku lakukan."


Ucap Arga dengan kedua tangan yang sudah mengurung sang istri di kedua sisinya, Arga memegangi samping kanan kiri Nindi, ia menyudutkan Nindi sampai menekan meja makan belakangnya.


"Di lihat bibi tuh..." Ucap Nindi dengan kedua tangan sudah berada di dada sang suami.


"Kalau kamu masih ngeyel dan pingin capek...aku pastikan akan aku buat kamu capek dengan cara yang lain sayang...jadi menurutlah...dan duduk manis saja ya..." Ucap Arga dengan jemari yang sudah menyibakan sebagian rambut sang istri ke samping telinganya.


Dan Nindi sudah tahu kata kata yang di maksudkan sang suami barusan, Hingga ciuman Arga yang lembut membuatnya tersadar.


"Arga...ini di dapur sayang...!" Dengus Nindi sembari mengintip belakang Arga yang terlihat bibi tengah sibuk dan tidak memperhatikanya.


"Yasudah kembali sana...kalau nggak! bisa bisa aku lanjutin nih..." Ucap Arga yang tidak pernah main main dengan kata katanya. Hingga seketika Nindi pun berjalan cepat ke arah semua orang yang tengah berkumpul, dan beberapa saat Arga dan bibi datang membawa buah buahan segar di tanganya. Pagi setengah siang itu di habiskan ketiga pasangan suami istri itu untuk sharing masalah kehamilan dan bayi, semua sangat antusias, terlebih lagi Arga sanjaya.