THE NEXT GOOD BOYS

THE NEXT GOOD BOYS
Mungkinkah??



"Key...kamu ceritain semuanya ke om Abi?" Tanya Gandi pada Keyra, Dan Keyra hanya mengangguk mengiyakanya saja.


"Yang bener kamu Key? semua?" Tanya Gandi yang memastikanya, dan lagi lagi Keyra hanya mengangguk saja.


"Key...kamu bisa ngomong kan? mulai dari mana kamu ceritainya?" Tanya Gandi lagi, yang terlihat antusiasnya.


"Semua Gandi...mulai dari acara ngambil topi sampai ponsel kamu terjatuh, dan...kamu yang nabung uang jajan kamu selama sebulan." Ucap Keyra yang menerangkan.


"Aduh key...malu maluin aja tahu! akh kamu ma nggak tahu mana yang perlu di omongin ama mana yang enggak!" Ucap Gandi dengan sungutnya.


"Loh...salah aku dimananya Gand? kan semua itu kenyataan!" Ucap Keyra yang mencoba membela diri.


"Dan lagi...aku bilang ke papa juga sengaja biar kamu di belikan ponsel baru, pengganti ponsel kamu yang jatoh, karena aku nggak mau dekat dekat dengan kamu saat di sekolah!" Ucap Keyra dengan jujurnya.


"Hah...aku nggak salah denger nih Key?" Tanya Gandi tiba tiba, namun Keyra beneran malah mengangguk.


"Saat semua cewek di sekolah pingin dekat denganku, kamu malah pingin menjauh? apa se memalukan itu aku untuk di dekati?" Tanya Gandi dengan perasaan sedikit tidak sukanya.


"Akh...kenapa juga aku harus ingin tahu alasanya!" Ucap Gandi lagi dalam hatinya.


"Emb...itu...anu..." Ucap Keyra yang langsung terhenti karena sahutan kata kata Gandi.


"Akh sudahlah, nggak perlu juga aku tahu alasanya Key." Ucap Gandi dengan seriusnya, padahal Keyra akan menjawab, bahwa ia tidak ingin terlihat dekat dengan Gandi, bukanya Keyra tak suka, melainkan Keyra takut cewek cewek sekolahanya makin banyak yang memusuhinya, terlebih lagi...Keyra takut bahwa perasaan kagumnya pada Gandi akan meningkat menjadi rasa suka, dan sudah pasti Keyra bukan selera Gandi, akhirnya hanya Keyra lah yang merasakan kesedihan, bagi Keyra, berteman seperti itu saja sudah sangat menyenangkan, dan Keyra ingin mempertahankan pertemananya dengan Gandi lebih lama, tanpa embel embel perasaan.


Hingga malam itu Keyra dan papanya berpamitan untuk pulang, dan Gandi dengan senang pula memakai ponsel pemberian papanya Keyra, ponsel yang harganya nggak tanggung tanggung, seharga dua kali lipat motor matic.


"Hemzzz....sok sokan nolak tadi, katanya nggak mau...setelah om Abi pulang...eh...kan mau papa pakai itu ponsel, malah di sahut, sinih...kasihkan papa!" Ucap Arga yang tengah menggoda sang putera.


"Papa...papa kan tahu, Gandi anak sekolahan, butuh pegangan kalau lagi jalan sama teman teman kan, jadi...biar nggak sering minta uang jajan, dan nggak buat papa mama risi...ponselnya Gandi pakai ya pah...akh...pasti saat ini juga ATM Gandi gembul, karena transferan oma." Ucap Gandi sembari langsung ngibrit berlari membawa ponsel barunya menuju ke kamar.


"Gandi!!! kamu minta uang saku oma? akh...!" Ucap Arga dengan sungutan hampir meledak karena jengkelnya, namun Nindi yang melihatnya dengan tawa yang ia tahan, tawanya hampir pecah namun ia dengan susah payahnya menahanya sebisa mungkin.


"Sayang...kenapa kamu malah ketawa? apa yang lucu sih?" Tanya Arga pada sang istri.


"Lihat Gandi kayak gitu, aku jadi teringat akan si belel, kelakuanya nyebelin, ngejengkelin, dan yang lebih parah, kayak gitu tu...sok keren!" Ucap Nindi yang melihat tinglah sang putera tidak jauh dari suaminya.


"Sayang...kamu sepertinya ingin sekali mengulang masa masa dulu, sepertinya saat ini aku terlalu mengabaikanmu ya...oke...baiklah...akan aku turutin sampai kamu menyerah!" Ucap Arga dengan sungguh sungguhnya, karena Arga tak pernah main main dengan kata katanya.


Arga segera membopong paksa tubuh dang istri menuju kedalam ruang kamar untuk tamu di lantai bawah, sedangkan kamarnya sendiri di lantai atas, berhadapan dengan kamar Gandi.


"Ga...jangan gila, ada Gandi dirumah tuh..." Ucap Nindi yang berusaha memberontak.


"Akh nggak lama kok...lagian Gandi juga pasti sibuk dengan ponsel barunya, udah nggak usah protes!" Ucap Arga lagi, yang lalu menutup pintu kamar yang di tempati, dan menguncinya setelah menurunkan tubuh sang istri, tidak ada yang tahu, apa yang dilakukan keduanya di dalam, hingga malam itu berakhir, dan pagi pun menjelang.


"Mama...papa...kok lalian dari kamar tamu?" Sapa Gandi saat ia tengah berada di ruang makan, Arga dan Nindi baru menyadarinya saat Gandi menyapanya.


"Gand...nanti nggak papa anterin ya, papa berangkat ngantor agak siangan, nebeng om Aditya aja ya..." Ucap Arga yang mengalihkan jawaban dari pertanyaan sang putera.


"Oh...oke pah...ya udah...mah pah...Gandi berangkat dulu ya..." Ucap Gandi yang tanpa pikiran macam macamnya.


Hari itu, adalah hari masuk sekolah yang terakhir sebelum liburan panjang kenaikan kelas, dimana saat itu sudah tidak ada mata pelajaran, atau hanya jam kosong saja.


Tepat sebelum bel masuk berbunyi, Gandi dan Reza berjalan lengang menuju ruang kelasnya, nampak di koridor depan kelas sebelahnya, sosok yang Gandi kenal tengah duduk berdua dengan anak lelaki yang berkacamata.


"Hah...dia nggak mau dekat sama cowok paling tampan di sekolah, eh malah mau diajak ngobrol sama model yang begituan." Dengus Gandi tiba tiba yang entah mengapa Gandi pun tidak menyadarinya, spontan saja ia lontarkan.


"Apaan sih Gand? kamu ngomong apa? ngomong sama aku apa siapa sih?" Tiba tiba ucapan Reza yang membuatnya tersadar.


"Akh...nggak Za...itu...papa mama ku semalam di seramg nyamuk mungkin di kamarnya, makanya pindah kamar." Ucap Gandi yang mencoba menepis kata kata yang tadi ia ucapkan.


Hingga beberapa jam sudah di habiskan Evan, Reza, Gandi dan Eric, hanya untuk main main saja, menghabiskan waktu di dalam ruang kelas.


"Van...dunia seakan tanpa warna, saat Vanya tidak ada di sisi." Ucap Eric dengan syair konyolnya.


"Bener tuh Van, alergi Vanya apa parah sih kemarin? kok sampai sampai dia nggak masuk? kan biasanya, ia nggak bisa hidup, jika seari saja tanpa melihat Romeo." Ucap Gandi yang menimpali, ia terlalu iseng menggoda Evan.


"Van...aku jadi kamu nih ya...tuh mulut udah aku timpuk pake penghapus tuh!" Ucap Reza yang dengan usilnya ikut membakar Evan.


Dan benar saja, hanya dengan gertakanya saja, Gandi berlari menuju ke arah pintu kelasnya.


"Tunggu ya...aku nggak lari nih...aku mau ke toilet." Ucap Gandi dengan langkah mundurnya.


"Brugh!!" Tiba tiba Gandi tanpa sengaja menubruk seseorang di belakangnya sampai terjatuh, seketika Gandi menoleh, dan seketika tanganya terulur akan membantu gadis yang masih tersungkur tersebut, namun seketika ia menarik tanganya kembali, mengurungkan niatnya, saat gadis itu lebih memilih tangan teman lelaki yang bersama denganya.


"Makanya hati hati!" Ucap Gandi dengan ketusnya pada gadis yang kini sudah berdiri sempurna.


"Maaf Gand...aku yang salah..." Ucap sang gadis yang lalu pergi dari hadapan Gandi.


"Key, jelas jelas aku lihat dia yang mundur mundur tadi, terus nubruk kamu kan, kenapa malah kamu yang minta maaf?" Tanya anak laki laki di samping Keyra, anak laki laki yang tadi membantunya bangun.


"Tomi...kamu nggak tahu orang orang seperti kita, meski kita yang benar pun semua orang nggak akan percaya, daripada berbuntut panjang...terus aku di serang para fansnya...lebih baik secepatnya menghindar." Ucap Keyra yang membuat teman lelaki barunya itu mengngguk mengiyakan.


Namun Keyra tidak tahu, gimana dongkolnya hati Gandi saat itu.