THE NEXT GOOD BOYS

THE NEXT GOOD BOYS
Bucin vs cemburu



"Sayang...kau tahu putera kita kenapa?" Tanya Rendi pada sang istri, dan saat itu Anin pun sama tidak tahunya, ia bahkan sedikit khawatir pada Evan yang berlagak demikian.


"Jangan jngan Evan sakit perut pah? makan apa dia semalam?" Ucap Anin yang mengira sang putera mules ingin pergi ke kamar mandi.


Didalam kamar Evan, ia segera mengambil ponselnya, menatap pada layar ponsel tersebut.


"Astaga...Vanya! aku yakin ini Vanya!" Ucap Evan sembari menekan nomor tersebut lalu menghubunginya, sesaat panggilanya langsung tersambung.


"Halo sayang...ini kamu?" Ucap suara pelan seorang gadis dari seberang telephonenya, yang saat itu membuat Evan tersenyum senang.


"Iya ini aku! kamu yakin akan pulang empat tahun lagi?" Tanya Evan yang penasaran.


"Iya sayang...aku masih ada kerjaan soalnya." Ucap jujur Vanya, dinegara lain, Vanya mencari uang dengan jerih payahnya sendiri, lewat kenalan mamanya yang seorang foto grafer artis, dua tahun lalu ia merintis karir di luar Negeri, dan untungnya kini ia mulai tampil di berbagai banyak majalah fashion, dan membintangi beberapa iklan, meski belum bermain film, karir Vanya lumayan sukses karena kecantikanya.


"Baiklah...berikan alamatmu, aku akan kesana mendatangimu!" Ucap Evan dengan seketika, pikirnya memang harus seorang lelaki yang datang menemui gadisnya.


"Kamu yakin kamu merindukanku?" Tanya Vanya yang seketika membuat Evan tersenyum sadar akan perasaanya.


"Iya..." Ucap singkat Evan, dan saat itu Vanya pun mengirim alamatnya padanya.


Setelah selesai dengan panggilanya, Evan pun beranjak turun dari kamarnya.


"Sudah sayang mulesnya? perlu obat nggak?" Tanya Anin pada puteranya.


"Evan nggak mules kok mah...pah...emb...Evan boleh berlibur ke luar Negeri nggak?" Tanya Evan sembari beranjak duduk di kursi ruang makanya.


"Papa tahu nak kamu sedang libur, cuma sendirian?" Tanya Rendi pada sang putera.


"Nggak pah, Gandi dan yang lain juga ikut kok." Ucap Evan yang mencari alasan agar mendapat izin dari kedua orang tuanya, dan untuk masalah Gandi, Reza, dan Eric, mau tidak mau mereka harus Evan paksa untuk ikut.


"Oh...baiklah...kalau begitu, terserah kamu aja, sembari menambah wawasan ya nak." Ucap Rendi yang memberikan izin pada sang putera, dilain itu, pastilah mudah bagi Rendi untuk menjaga sang putera dimanapun berada.


Usai dengan makan sarapanya, nampak Evan pagi itu bergegas menuju ke rumah Gandi, yang sebelumnya ia memberi tahu Gandi lewat pesan singkat, dan beberapa saat akhirnya Evan sampai kerumah kakaknya itu.


"Janjian sama Gandi kan? tuh diatas dia." Ucap Nindi sembari menunjukan kamar sang putera, dan segera saja Evan berjalan naik menuju kamar Gandi, ternyata disana ia sedang video call an sama Keyra, dan saat Evan masuk, Gandi segera menyudahi panggilanya.


"Van...ada apa? tumben...aku ntar udah ada janji loh...nggak bisa keluar sama kamu!" Ucap Gandi yang mendahului, karena ia sudah janji sama Keyra akan mengajaknya jalan jalan.


"Aku nggak ngajak jalan nanti kok Gand, tapi besok." Ucap Evan dengan senyumanya.


"Kemana? jauh nggak?" Tanya Gandi sembari memainkan ponselnya.


"Paling enam belas jaman naik pesawat, itu pun paling cepet Gand, kalau standart ya duapuluh satu jaman lah." Ucap Evan dengan entengnya, dan saat itu membuat Gandi menjatuhkan ponselnya kebawah, keatas tempat tidurnya saking kagetnya.


"Lu yang bener aja Van, itu sih jalan jalanya di Negara lain, akh jangan bercanda deh lu, gue masih anget angetnya nih sama Key, nggak mau dipisahin!" Ucap Gandi yang menolak ajakan Evan.


"Ayo lah Gand...aku mau nyamperin Vanya, ajak aja Keyra sekalian." Ucap Evan yang saat itu membuat Gandi berpiki, bahwa ia pasti bisa bersama terus saat liburan dengan Keyra kalau begitu caranya.


"Oke, masalah mama papa ma gampang, kalau Reza...ntar kita kesana barengan ya, kalau Keyra...moga aja om Abi dan tante Nisa ngizinin, kan sama aku kesananya." Ucap Gandi dengan percaya dirinya, bahwa Keyra akan mendapatkan izin juga dari mama papanya, lalu keduanya pun akhirnya menuju ke rumah Reza, namun saat itu Reza tengah keluar mengantar Qiran untuk mengambil semua pakaianya dari apartemen dan pindah ke rumah Reza.


Mobil yang di tumpangi Reza dan Qiran akhirnya tepat berhenti di depan apartemen Qiran, namun sesaat Qiran hanya terdiam dan belum mau keluar dari dalam mobil, saat ia sadari seorang cowok yang tengah bersandar pada bemper mobil depanya.


"Adriyan!" Ucap dalam hati Qiran.


"Kenapa? ada apa? kamu kenal cowok itu?" Tanya Reza pada kekasihnya, dan saat itu Qiran hanya mengangguk saja, bisa dibilang, cowok itu adalah teman baik Qiran, dan bahkan sudah beberapa kali menyatakan perasaan sukanya pada Qiran, hingga Qiran pun sempat punya perasaan padanya, namun semua kalah dengan janji yang dibuatnya sendiri, Qiran harus menepati janjinya, dan saat itu juga perasaan sukanya pada Reza mulai tumbuh.


"Kamu menyukainya?" Tanya Reza lagi yang Qiran balas dengan anggukan, dan seketika membuat sesak dada Reza.


"Itu dulu Za, kita pernah dekat, mungkin aku pun menyukainya, tapi sekarang, aku sudah memilihmu, dan menyukaimu, namun aku takut dia akan sedih saat tahu aku punya kekasih." Ucap Qiran dengan jujurnya.


"Kau mau kita pergi? atau menemuinya?" Tanya Reza lagi, ia pun saat itu tengah diliputi rasa yang tidak biasa.


"Inikah yang dinamakan cemburu?" Ucap dalam hati Reza, dadanya sakit sangat sakit namun tidak bisa di ungkapkan dengan kata kata.