THE NEXT GOOD BOYS

THE NEXT GOOD BOYS
Seperti bayi dalam dekapan



Tanpa terasa waktu pun berjalan dengan begitu cepat, pagi itu saat semua sudah berkumpul di kediaman Arga Sanjaya, terlihat suasana kekeluargaan yang sangat akrab antara tiga keluarga, keluarga Rendi, Aditya, dan juga Arga. semua nampak berkumpul dan membahas hal hal yang menyenangkan, namun saat si bibi mengeluarkan kudapan teman untuk bersantai, yaitu aneka kue yang tadi di bawa mama Anin, nampak Arga terkesan mengernyitkan dahinya.


"Huooook....huuuok...!" Tiba tiba Arga merasa mual dan segera berlarian menuju ke wastafel terdekat.


"Huoook....huooool....!" Disusul Aditya yang ikut mual pula, seakan keduanya kompak untuk mual mual bersamaan.


Dan benar saja, Ifa dan Nindi langsung bergegas menghampiri sang suami masing masing.


namun Anin serta Rendi tampak menatap satu sama lain beberapa saat, tiba tiba keduanya terkikik tertawa melihat menantu mereka yang ternyata tengah nyidam, dan bukan anak mereka.


"Nindi...Nindi! beruntung banget sih kamu...!" Ucap Anin dan Rendi bersamaan.


Hingga anak dan menantunya tiba di depanya, nampak kue kue itu sudah di pindahkan dari meja depan semuanya.


"Mama tahu kalau Arga mual tiap lihat kue mah?" Ucap Nindi dengan penasaranya.


"Bukan lihat kuenya sayang...tapi nyium bau kue aku nggak tahan..." Ucap Arga dengan seriusnya, dan terlihat Aditya pun sama.


Hingga hari itu pun berakhir, dan hari hari pun berganti hari, bulan berganti bulan, kandungan ifa sudah makin membesar, sudah memasuki usia ke tujuh bulan, sedangkan kehamilan Nindi pun sudah memasuki usia ke empat bulan, nampak semua sehat sehat saja, namun suami suami mereka yang kekurangan banyak berat badan, karena tidak bisa menelan makanan semaunya.


Hari itu...harusnya Nindi dan Arga serta bersamaan Aditya Ifa melakukan cek kesehatan ibu dan janin, karena lelaki mereka sama sama tepar dan tidak bisa beranjak dari tempat tidurnya, Nindi sepakat janjian dengan kakak iparnya untuk pergi bersama sama.


Sedangkan Nindi meminta bantuan mama papanya untuk mengantarnya, sekedar mengantar dan memastikan keselamatanya.


Sedangkan Arga dan Aditya, keduanya tengah di jaga bibi asisten rumah tangganya masing masing, yang sengaja Ifa dan Nindi mintai tolong.


"Sayang...memangnya suami suami kalian tidak apa apa? tidak kalian ajak periksa juga?" Tanya Anin yang penasaran pada keadaan suami puterinya dan juga Ifa yang terkesan kompak dalam hal ngidamnya.


"Nggak apa apa mah...kata bu Dokter...suami suami kita itu lagi kena Couvade syndrome. Atau di sebut juga Sindrom kehamilan simpatik mah...dan akan hilang dengan sendirinya seiring berjalanya waktu atau bayi yang di kandung kami ini lahir mama..." Ucap Nindi dengan entengnya.


"Loh...jadi suami kalian akan seperti itu terus sayang?" Tanya mama Anin lagi pada keduanya, dan di balas anggukan pula oleh keduanya.


"Aduh sayang...bisa gawat kalau terus berlanjut...kalau kalian hamil tua gimana ceritanya coba kalau suami kalian masih teler kayak gitu? dan lagi...sudah satu bulan lebih kan Arga dan Aditya cuti kerjanya? astaga...pah...kenapa menantu menantu papa ini bisa kayak gini sih?" Ucap Anin pada sang suami, dan Rendi hanya bisa mengangkat kedua bahunya saja sembari menyetir mobilnya.


Hingga ke empatnya pulang dari periksa, dan leganya tidak ada kendala apapun dalam kehamilan Nindi dan Ifa.


"Sayang...mama pamit dulu ya...mama masih ada acara sama papa...kalian baik baik ya...janga suami kalian masing masing, kalau ada apa apa kabari mama ya...kamu juga Ifa..sudah mama anggap anak sendiri...jangan sungkan sungkan ya..." Ucap mama saat berpamitan akan pergi setelah mengantar keduanya sampai pintu gerbang rumah masing masing.


Dan Ifa pun mengangguk patuh dengan senyum senang tersungging di bibirnya yang terlihat begitu bersyukur sudah di perhatikan oleh mama layaknya anak sendiri.


"Kak...aku masuk dulu ya...kakak hati hati ya...!" Ucap Nindi yang akan berlalu masuk kedalam pintu pagar rumahnya.


"Kamu juga ya Nindi...hati hati juga...masih rawan kalau umur empat bulan..." Ucap perhatian Ifa pada adik iparnya itu.


Dengan mengangguk dan senyumanya, Nindi pun akhirnya masuk kedalam rumahnya, terlihat di tanganya segebok vitamin untuk ibu hamil dan satu kotak susu khusus untuk ibu hamil.


"Nyonya...sudah pulang?" Sapa bibi saat Nindi baru masuk kedalam rumahnya.


"Suami aku mana bi?" Tanya Nindi setelah ia mengangguk menjawab pertanyaan bibi asisten rumah tangganya.


"Tuan masih di kamarnya nyonya...!" jawab bibi yang berjalan mendekat ke arah nyonya nya, dan segera mengambil kotak susu dari tangan nyonyanya lalu membawanya ke dapur, setelah Nindi sudah pergi meninggalkanya dan naik ke atas menuju kamarnya.


Dengan langkah perlahan lahan, Nindi menaiki anak tangga menuju ke arah kamarnya. perlahan ia membuka pintu kamarnya, dan masih ia dapati sang suami yang masih tiduran di sana, belum berubah posisinya dari yang terakhir tadi Nindi lihat sebelum pergi periksa.


"Sayang...kamu nggak apa apa kan?" Ucap Nindi setelah ia sampai kamarnya dan duduk di samping sang suami yang tengah berbaring di atas ranjangnya.


Satu jemari tanganya mengelus lembut wajah yang nampak sayu kelelahan di hadapanya, hingga yang punya wajahpun sedikit bergerak dan beringsut, menyahut jemari yang menyentuhnya dan menariknya perlahan masuk kedalam pelukanya.


Dengan segera Nindi pun melakukan apa yang sang suami inginkan, ikut menyambut pelukanya dengan pelukan yang sama.


"Maaf...maaf sayang...aku sudah melalaikan janjiku pada kalian...aku benar benar tak berguna." Rutuk serapah dan caci yang tiba tiba Arga lontarnya, ia merasa tak berdaya dengan keadaanya, hingga tak bisa mengantar sang istri periksa hari itu, hari dimana setiap bulanya di tanggal yang sama sang istri rutin memeriksakan kehamilanya.


Baru satu bulan itu Arga benar benar tak kuat bangun, badanya seakan sakit di setiap tulang tulangnya, bahkan mual berkepanjangan saat mencium sesuatu yang ia tidak sukai, namun kenyataanya yang ternyaman adalah di dekat sang istri dan calon buah hatinya.


"Sudah sudah...nggak apa apa kok sayang...nggak usah merasa sedih ya...aku dan calon anak kita sehat semua kok...kamu yang harus semangat...dan makasih ya...karenamu aku kuat makan dan melakukan semuanya, sehingga anak kita pun dapat nutrisi terbaik di masa ke emasanya." Ucap Nindi dengan bijaknya.


"Aku senang akan hal itu sayang...dan aku benar benar bersyukur...aku merasakan semua ini...hingga kamu baik baik saja, aku hanya sedih tidak bisa menjagamu dan calon anak kita untuk saat ini, jadi meskipun begitu...jangan jauh jauh dariku...tetaplah dalam jangkauan pandanganku, agar aku bisa terus mengawasimu dan calon anak kita, gini gini aku pun punya cita cita jadi suami siaga dan calon papa yang selalu menjaga...bukan malah di jaga!" Ucap Arga yang langsung mendapat ciuman manis dari sang istri.


"Meskipun begitu...mandi dong sayang...biar aku makin greget nyiumnya...!" Ucap Nindi yang menyadarkan sang suami di sampingnya, Dengan segera tubuh Arga seakan mendapatkan kembali nyawanya, dengan cepat ia pun terjaga dari tiduranya, dan meraup tubuh sang istri dalam boponganya.


"Sayang...kamu kuat? jangan jatuhkan aku ya!" Ucap Nindi yang merasa keheranan pada sang suami.


"Kau tahu kan selalu itu yang jadi multi vitamin aku...jadi...aku akan kembali segar jika kau yang mandiin aku sayang!" Ucap jahil Arga yang lalu membawa serta sang istri masuk kedalam kamar mandi.


"Hya....Arga...kau selalu segar saat menginginkanya!" Ucap Nindi dengan sedikit teriakanya, namun ia tidak merasa marah sama sekali, ia bahkan merasa senang karena sang suami bisa kembali seperti sedia kala, namun keduanya tidak tahu kapan Arga akan kembali seperti bayi dalam dekapan mamanya lagi setelah itu.