
"Aku nggak apa apa kok sayang...bibi selalu nemani aku disini, tadi bibi habis jemput aku dari kamar mandi, sekarang aku mau istirahat nih...ouh ya...kamu udah makan malam?" Tanya Nindi yang di balas ciuman oleh sang suami, ciuman panas yang membuat Nindi kuwalahan, jarang jarang Arga seperti demikian, sudah beberapa bulan Arga sibuk dengan kerjaan dan tidak se intens saat itu, itupun menurut Nindi, namun menurut Arga sudah beda lagi, Arga sengaja seperti itu, karena ia tahu situasi dan kondisi sang istri yang harus selalu di perhatikan dan harus ekstra mendapat pengawasan yang nyaman baginya.
Namun...malam itu, Arga sangat ketakutan, bukan karena takut hujan ataupun kilat petir, tapi yang ia takutkan sang istri yang berada di rumah jauh dari pengawasnya, meski ada bibi asisten rumah tangganya, ia tetap merasa cemas karenanya.
Satu tanganya melepas satu persatu kancing kemejanya, membukanya lalu Arga melepas kemeja basahnya, dan melemparnya asal asalan di dekat ranjangnya, sedangkan satu tanganya sibuk menyangga kepala Nindi agar tidak menjauh pagutan ciumanya.
"Sayang kau tak mandi dulu? kau bisa kena flu!" Ucap Nindi dengan susah payahnya, namun sang suami tak menghiraukanya, hingga sesuatu yang membuat keduanya bahagia itu pun berlalu dan keduanya melewati malam yang dingin itu dengan kehangatan.
Hingga pagi menjelang, terlihat tetesan tetesan sisa air hujan yang masih terlihat di pucuk pucuk dedaunan di taman rumah Arga yang terlihat jatuh ke tanah.
Keduanya masih betah saling memeluk, meski Arga yang memeluk sepenuhnya dan Nindi hanya memunggunginya dan cuma memeluk tangan sang suami, namun terlihat keduanya sangat nyaman dalam posisinya, sampai...
"Tok tok tok..." Suara ketukan dari luar pintu kamar yang keduanya tempati, sesaat Arga memastikan dengan telinganya, apakah benar suara ketukan itu berasal dari sana, karena Arga lupa bahwa sang bibi semalam menginap di rumahnya dan tidak pulang.
Hingga ketukanya berulang lagi beberapa kali, namun tanpa suara bibi yang memanggil tuan dan nyonyanya.
"Sayang...siapa pagi pagi begini yang mengetuk pintu kamar kita?" Tanya Arga pada sang istri yang berada di pelukanya.
"Sayang...kamu lupa ya...bibi kan semalam nemani aku sampai kamu pulang, dan hujan juga belum berhenti, aku nggak tahu berhentinya karena ketiduran, ya pastilah bibi nginap sini semalam, nggak mungkin malam malam bibi pulang sendirian hujan hujanan." Ucap Nindi menerangkan pada sang suami.
"Iya bi...ada apa?" Sahut Arga seketika setelah tahu dari Nindi, bahwa itu adalah bibi asisten rumah tangganya.
"Tuan...sudah pukul delapan...waktunya nyonya sarapan tuan..." Ucap bibi yang seketika menyadarkanya, bahwa ternyata hari sudah siang.
"Iya bi...makasih..." Sahut Arga seketika, lalu ia pun mengecup pipi sang istri agar ia bangun.
"Sayang cepat bangun...aku mau mandi di kamar atas saja kalau kamu mau pakai kamar mandinya." Ucap Arga yang sudah beranjak dari ranjangnya dan membantu sang istri mengenakan pakaianya, lalu Arga kemudian memakai pakaianya sendiri.
Hingga beberapa saat, saat Arga usai dengan mandinya dan sekaligus mengenakan pakaian lengkapnya untuk ke kantor dan kembali ke kamar yang di tempati sang istri,
Hingga Arga dengan segera membantunya untuk mengenakan pakaianya dan mengembalikan handuk basah yang baru di kenakan Nindi itu ke tempat pakaian kotor yang ada di dalam kamar mandinya.
"Sayang...hari ini aku masih harus kerja ya...kemarin aku belum tuntaskan, karena buru buru pulang, takut kamu dan anak kita kenapa napa..." Ucap jujur Arga pada sang istri.
"Nggak apa apa sayang...toh ada bibi kan...kamu yang fokus aja ya sama kerjaanya...aku pasti baik baik saja kok..." Ucap Nindi untuk menyemangati sang suami, dimana kandunganya sudah delapan bulan dan sudah masuk trimester akhir, dan akhir akhir itu pula Nindi merasakan bayi yang ada di dalam kandunganya itu makin diam dan tidak banyak bergerak seperti bulan bulan yang telah lalu.
"Aku pastikan setelah urusan ini usai...aku akan cuti sampai waktu yang tidak di tentukan untukmu dan anak kita sayang...aku akan dengan senang mengawasi setiap gerakmu setiap saat, jadi...sampai waktu itu tiba...aku harap kamu bersabar ya sayang..." Ucap Arga dengan senyuman hangatnya.
"Apa perlu aku minta mama buat kesini juga sayang?" Tanya Arga pada sang istri.
Jujur hati Arga saat itu entah mengapa tiba tiba tidak enak, namun ia hanya menepisnya, ia tidak ingin berpikir yang macam macam apa lagi hal buruk tentang istri dan calon anaknya.
"Nggak usah Arga...mama juga pasti sibuk dengan urusanya sendiri sendiri..." Ucap Nindi yang melarang sang suami memanggil mamanya, Arga pun tak bisa apa apa selain menyetujui keinginan sang istri, namun saat itu Arga melihat wajah Nindi nampak sedikit sayu dari biasanya, dan nada suaranya tampak kalem dan terkesan sangat menahan, namun lagi lagi Arga menepis suara batinya yang meronta mengingatkan bahwa bulan itu adalah trimester akhir kehamilan sang istri, bahkan bisa saja Nindi melahirkan tidak tepat waktunya.
"Yasudah...ayo sarapan sama sama, aku akan usahakan sebelum waktunya makan siang sudah sampai rumah ya sayang..." Ucap Arga sembari memapah sang istri menuju ke meka makan, membantunya berjalan dengan perlahan, dan sesekali Arga melihat Nindi sesekali meringis, seperti merasakan sakit yang tengah ia tahan.
"Apa yang salah? apa yang sakit sayang? haruskah aku nggak berangkat kerja saja? agar aku bisa menemanimu saat ini?" Ucap Arga di sela sela jalanya.
"Akh...biasa sayang...akhir akhir ini rasanya seperti tertusuk jarum, kadang ada kadang hilang, tapi hari ini kayaknya agak sering rasanya, udah...nggak apa apa kok...wajar itu di trimester akhir, kata bu Dokter...itu kontraksi palsu...kontraksi yang hampir sama persis seperti akan melahirkan, karena memang belum waktunya, makanya di katakan kontraksi palsu." Ucap Nindi yang menerangkan, agar sang suami tidak khawatir berlebih padanya, namun berbeda dengan Arga, ia sama sekali tidak merasa terhibur oleh penjabaran sang istri.
"Baiklah baiklah...aku percaya...sekarang sarapan dulu ya...dan minum vitaminya." Ucap Arga sembari mempersilakan Nindi duduk dan mengambilkan sarapanya di depan meja yang ada di depanya.
Setelah keduanya menghabiskan sarapanya, Arga pun langsung berpamitan pada sang istri, karena ia juga sudah sangat kesiangan, sampai sampai ia menyusuh supir untuk mengantarnya, ia khawatir karena kesiangan jadi ugal ugalan saat menyetir di jalan raya.
"Ingat...minum vitaminya ya...nggak usah berjemur, buat istirahat saja...jangan kecapekan...jangan berenang...nggak usah jalan jalan pokoknya...di kamar aja buat istirahat, aku lihat kamu jalan saja sudah ikut kuwalahan, apa lagi kamu sendiri sayang..." Ucap Arga dengan tulusnya, dan Nindi hanya mengangguk saja, ia ingin bicara saja rasanya sudah berat dan sangat berat untuk membuka mulutnya. Ia merasa kepayahan. Hingga Arga pergi meninggalkanya dan mobil yang di kendarainya pun sudah hampir tak terdengar bunyi nya.
"Akh....perutku..." Desis Nindi tiba tiba sembari meringis sesekali, ia merasa tusukan yang ia rasakan semakin sering saja.