
Ditempat Evan, Bram datang dengan membawa dokumen lengkap informasi perusahaan suami Vanya, padahal baru beberapa menit saja lelaki itu keluar, namun sudah kembali lagi dengan apa yang bosnya inginkan, seolah begitu mudah mencari apa yang Evan inginkan.
"Pergilah." Ucap Evan yang meminta asistennya untuk pergi dari sana, dan Bram pun langsung pergi dari tempatnya, tidak jauh, ia hanya berada di luar ruang kerja bosnya.
Diantara ke empat sekawan, hanya Evan yang paling dingin, sadis dan bahkan mungkin tidak berhati, mengingat selama ia tumbuh tidak di temani orang tua, karena kedua orang tuanya berada di luar Negeri, ditambah ia menjalankan perusahaan sedari dini, membuatnya sangat berhati hati di setiap langkah.
Usai melihat isi map yang ada di tangannya, ia pun meletakan begitu saja, menuang minumannya kembali dengan menatap keluar jendela.
"Kesepian." Ya satu kata yang menyelimuti hatinya.
Di tempat Gandi, seorang perawat datang dengan membawakan obat oles untuk memarnya.
"Ini untuk tuan Gandi, dari Dokter Key." Ucap si perawat pada Max yang berjalan menghampirinya.
"Oh...terimakasih." Sahut Max yang lalu mengambil obat tersebut dari tangan si perawat.
"E...e...e...Max kembalikan!" ucap Gandi pada asistennya itu, membuat Max dan si perawat tidak mengerti.
"Tuan...ini untuk luka memar anda." Ucap si perawat lagi yang mencoba meyakinkan.
"Panggil Dokter Key kemari, aku lihat UGD sedang sepi tadi, aku tidak terbiasa tubuhku di sentuh orang lain." Ucap Gandi yang membuat melongo kedua orang itu disana.
"Hah...orang lain bos? bukannya Dokter Key malah baru kenal ya?!" ucap dalam hati keduanya, dan benar saja, si perawat pun langsung pergi dengan menyampaikan apa yang Gandi inginkan.
Di tempat Key, ia sudah selesai dan duduk di kursi kosong dengan beberapa paramedis lainnya disana, di luar begitu ramai memenuhi jalan depan Rumah sakit, semua berbondong bondong akan menuju ke alun alun Kota untuk menyangsikan detik detik pergantian tahun yang kurang lima belas menitan lagi.
"Dokter Key...itu...tuan Gandi yang menempati kamar VIP, dia bilang tidak terbiasa tubuhnya di sentuh orang lain, dia meminta saya untuk menyampaikannya pada anda." Ucap si perawat sembari memberikan obat olesnya pada Key.
"Tu orang mau apa sih?." Gerutu Key dalam hatinya, lalu menerima obat tersebut. Key melemparkan obat itu ke laci bawah meja depannya.
"Bodo amat, terserah mau di obati apa tidak!" ucap Key dalam hatinya yang sudah tidak peduli lagi.
Namu Key mengingat memar di tengkuk Gandi membuatnya harus menyisihkan perasaan bencinya pada laki laki itu.
"Ini tugas Dokterkan? yang tidak pandang bulu membantu pasiennya. Oke aku kesana." Ucap Key yang lalu mengambil salepnya dan membawanya menuju kearah Gandi. Disana Key sudah di sbut Max di depan pintu.
"Silahkan..." ucap Max yang mempersilakan, sedangkan Gandi ia tiduran miring di atas ranjang.
"Tuan...silahkan duduk, biar saya bantu." Ucap Key pada lelaki yang pura pura tidur, disana Gandi tersenyum senang.
"Tadi bos keserempet motor sampai beberapa meter." Ucap Max yang menerangkan, membuat Gandi membuka kedua matanya dan langsung terjaga.
"Kenapa sampai ke srempet motor?" tanya Key pada Gandi, sebagai para medis, ia ingin tahu detail kejadiannya.
"Kenapa? apa kau khawatir padaku?" tanya Gandi yang sudah duduk di tempatnya, Key pun dengan rasa kemanusiaannya membantu Gandi melepas kemejanya tidak sampai terlepas, hanya melorot kebawah, Key begitu terkejut saat menatap punggung lelaki di depannya itu penuh dengan luka lebam yang terlihat menghitam kebiruan. Sedangkan Gandi merasa gembira saat merasakan jari jari tangan Key menekan nekan kulitnya.
"Duar! Duar! Duar!" berulang ulang suara kembang api diluar gedung bersahutan, sontak keduanya menoleh menatap keluar jendela, menyaksikan malam pergantian tahun disana.
Gandipun mengambil kesempatan lengah Key yang terpana sesaat oleh letusan letusan kembang api. Seketika Gandi menarik tangan Key, hingga gadis itu tepat berada di pelukannya, Gandi mencium paksa Key disana.
Key berusaha meronta, melepaskan rengkuhan lelaki yang sudah mendekapnya erat, namun ciuman itu telah membuatnya lemas seakan tidak bertenaga, tulangnya seperti hilang sesaat, tanpa sadar Key menikmati ciuman mantan kekasihnya itu, dilubuk hatinya yang terdalam, ia sangat merindukannya.
"Hah." Max begitu terkejut saat melihat dengan mata kepalanya sendiri bosnya mencium seorang gadis.
"Sejak kapan bos bertindak seperti itu dengan yang namanya perempuan?" ucap Max dalam hatinya, kemudian segera pergi dari sana tanpa bersuara.
"Selamat tahun baru yang ke sembilan Keyra." Bisik Gandi sesaat tepat didepan bibir gadis itu, setelah menyudahi ciumannya.
Sontak membuat Key tersadar dari buaian sesaat nya.
"Plak." Tamparan keras mendarat tepat di pipi Gandi.
"Brengsek!" ucap Key sembari akan pergi dari hadapan lelaki itu, namun Gandi sudah mencekalnya disana.
"Key...bisakah kau beri aku waktu untuk menjelaskan semuanya?" ucap Gandi yang berusaha memohon pada gadis itu.
"Aku masih mencintaimu Key, sangat mencintaimu hingga detik ini." Ucap Gandi yang membuat Key memalingkan tubuhnya menghadap ke arah lelaki di belakangnya.
"Harusnya aku menamparmu lagi! tamparan itu yang ingin aku lakukan sembilan tahun lalu. Kau kira kau siapa? se enaknya menyampakanku lalu memintaku kembali, kau kira aku mainan yang bisa kau buang dan kau pungut kembali. Pikir!" ucap Key yang lalu mengibaskan kasar tangan Gandi dan pergi secepatnya dari sana, buliran buliran bening membasahi kedua matanya, Key berlalu pergi dan langsung menuju toilet di ruang UGD yang tidak jauh dari sana. Key terisak isak di dalam, ia memukul mukul tembok beberapa kali, perasaannya sesak, seakan tercekik ia rasakan.
"Tenang Key, tenang...kau sudah menamparnya, itu pantas ia dapatkan, tamparan itu yang harusnya sembilan tahun lalu kau berikan padanya." Ucap Key yang menyemangati dirinya sendiri.
Ditempat Gandi, ia hanya terduduk, tidak henti hentinya menyalahkan dirinya sendiri.
"Kenapa kau lancang menciumnya Gand? kenapa kau tidak bisa menahannya? kenapa?" ucap dalam hati Gandi, yang tanpa sadar Max sudah membantunya mengenakan kemejanya kembali.
"Bos...kenapa bos membuat Dokter Key menangis? bagaimana kalau bos di tuntut karena pelecehan seksual?" ucap Max dengan jujurnya. Dan Gandi hanya tersenyum singkat kearah Max, lalu meletakan tubuhnya kembali keatas brankar yang ia tempati. Memejamkan kedua matanya disana.
"Max tunggu di luar, jangan masuk kalau tidak aku panggil." Ucap Gandi yang tanpa membuka kedua matanya karena saat itu ia tengah menahan air matanya disana, sampai terdengar pintu terbuka lalu tertutup, barulah Gandi melepas lelehan air matanya. Dengan satu lengan tangan yang menutupi wajahnya.
"Caramu salah Gandi, dia merasa telah dicampakan, bisa bisanya kau malah mengatakan bahwa rasa cinta itu masih ada, kau kelewatan Gandi! mana ada perasaan sekian lamanya masih bertahan? siapa yang akan percaya?" ucap Gandi di sela sela sesak didadanya.