
Sore itu di kediaman Arga Sanjaya, Arga mencoba menghubungi sang putera yang berada di luar Kota untuk mengurusi pekerjaan disana, karena Arga dan Abiyasa sudah sepakat untuk menghabiskan malam pergantian tahun bersama malam itu, niatnya hanya untuk menyatukan Gandi dan Key kembali, karena setelah Arga mendapatkan kabar dari papa Key, ia langsung mendapatkan ide demikian, memghabiskan malam tahun baru kali itu agar berbeda dari tahun tahun yang lalu. Sedangkan kedua keluarga sepakat untuk merahasiakan kepulangan Key, karena semua tahu, Gandi itu cerdik, satu gelagat sekecil apapun yang berbeda, ia jeli untuk menyikapi. Di tambah lagi agar menjadi kejutan keduanya nanti.
"Halo Gand...kenapa lama sekali mengangkat panggilannya? papa juga ada urusan lain." Ucap Arga yang terdengar sedikit kesal.
"Iya pah, maaf...Gandi masih sibuk...mungkin Gandi malam ini tidak bisa pulang, Gandi masih banyak pekerjaan." Ucap Gandi yang langsung mendapat anggukan dari papanya, Arga tahu betul puteranya, jika ia sudah bilang demikian, artinya ia tidak ingin di ganggu.
"Yasudah...kalau begitu...jaga kesehatan ya..." ucap Arga pada puteranya, dan mengakhiri panggilannya. Segera saja Arga memberi kabar pada Abiyasa bahwa rencananya malam itu gagal total. Sedangkan Abiyasa pun memiliki kabar yang tidak kalah mengejutkan, ternyata puterinya langsung di mintai tolong oleh Rumah sakit yang akan menjadi tempat kerja Key untuk berjaga malam itu. dan Key menyanggupinya.
Di tempat Eric, ia bersama dengan Nora berjalan jalan di area yang sudah dinsterilkan dari kendaraan, keduanya berjalan jalan menikmati sore setelah penat bekerja seharian, menikmati grup band ibu Kota yang sudah hingar bingar.
"Ini sudah tahun baru yang ke sekian kali kita lewati sebagai pasangan, apa kau ingat itu?" tanya Eric sembari melirik ke arah gadis di sampingnya, dan gadis itu hanya melirik ke arahnya.
"Hemmmz...kau yang hanya mengulur waktu, bukan aku." Jawab Nora dengan santainya.
"Lalu...apa kau ingin kita menikah dan bercerai kemudian? aku tidak mau pernikahan yang seperti itu." Ucap Eric dengan jujurnya. Dan Nora hanya menghentikan langkahnya sebagai jawaban.
"Lalu kau mau apa? pernikahan kita kelak adalah pernikahan bisnis, dan aku bukan tipe wanita yang bergantung pada pria, mengerti?" ucap Nora yang cukup menyakitkan.
"Kau hanya ingin anak dariku bukan? hemmmz...kenapa? apa aku salah? sembilan tahun ini aku sudah memberi waktu otakmu untuk berpikir, namun kau selalu tidak mengerti, aku tahu kau tangguh Ra, aku tahu meskipun tanpaku juga kau bisa, tapi apa jadinya seorang anak tanpa kedua orang tua? itu yang aku tidak bisa, kau mau anak kita kelak kurang kasih sayang ayahnya? hah!" ucap Eric sembari menatap lekat kedua mata gadis di sampingnya.
"Harusnya kau tahu, aku trauma dengan pernikahan, mengingat pernikahan kedua orang tuaku yang membuat mamaku meninggal, aku tidak menginginkan kelanggengan, cukup menikah, memiliki anak dan akan aku bawa anak itu pergi, sudah cukup." Ucap Nora dengan suara yang kian meninggi. Membuat eric geram.
"Kita bertemu hanya dua kali dalam setahun, dan setiap bertemu selalu membahas masalah dan topik yang sama, apa kau tidak muak? dan selama ini, apa kau pernah tahu aku menyelingkuhimu? apa itu tidak cukup untuk menjadi pondasi hubungan kita?" ucap Eric dengan sendunya, namun Nora masih berhati batu, ia hanya menyunggingkan senyuman sepintas saja. Membuat Eric begitu geram disana.
Di tempat Evan, lelaki itu hanya bisa menatap keluar jendela ruang kerjanya, setelah kepergian kedua orang tuanya ke luar Negeri untuk berobat beberapa hari yang lalu, Evan hanya sendirian di rumah maupun di tempat kerja. Di temani sebotol red wine di depannya, ia memilih di ruang kerjanya yang sepi dan tanpa semuanya, yang sudah pulang awal di akhir tahun, hanya asistennya yang ada di sana namun juga di luar ruangan. Evan seakan tidak percaya saat kemarin bertemu dengan Vanya di salah satu pusat perbelanjaan, dan gadis itu makin mempesona menurut Evan, meski ia tahu Vanya sudah menjadi milik orang. Evan tidak pernah bisa melupakan Vanya hingga detik itu.
"Apa aku perlu menghancurkan bisnis suamimu agar kau kembali padaku?" ucap Evan dalam hatinya yang sudah terpengaruhi oleh wine yang di teguknya. Evan tidak tahu, bahwa Vanya hanya sebagai tameng bagi suaminya, bahkan ia tidak di perlakukan sebagai wanita apa lagi istri, melainkan teman, karena suaminya yang menyimpang. Dan hingga detik itu Evan belum bisa menggantikan tempat Vanya di hatinya.
"Bram." Ucap Evan dengan teriakannya.
Dan datanglah seseorang dari balik pintu, mendekat ke arah Evan.
"Cari tahu pimpinan perusahaan UN, secepatnya." Ucap Evan yang meminta asistennya untuk mencari tahu mengenai suami Vanya, yang anak cabang perusahaannya ada di Negara Evan. Dan langsung mendapat anggukan siap dari si asisten, dan langsung bergegas pergi.
Di tempat lain, keluarga yang paling lengkap dan bahagia, Reza dan Qirani tengah menyiapkan pembakaran di teras samping rumahnya untuk melewati malam tahun baru bersama, Aditya dan Ifa memutuskan untuk melewati tahun baru malam itu di rumah saja, karena Arga dan Nindi sudah ada janji makan malam terlebih dahulu di rumah Abiyasa.
Terlihat cekikik tawa Reza dan calon istrinya, nampak bahagia karena hitungan hari saja keduanya akan melangsungkan pernikahan. Keduanya benar benar paling lancar hubungannya di antara ke tiga lelaki sukses yang lain yang selalu menjadi teman baik.
Di luar Kota, Gandi menurunkan kedua kakinya dari dalam mobil, tepat setelah mobil yang di kendarai asistennya berhenti di depan hotel berbintang, Gandi sudah janjian akan meeting di Lounge yang ada di hotel berbintang tersebut. Di ikuti beberapa anak buah Gandi yang berada di mobil lain, sedangkan ia hanya dengan asistennya saja yang menyupiri.
"Max, kamu nanti ikut aku kedalam, aku paling ilfeel pada CEO wanita." Ucap Gandi pada asistennya dan langsung di angguki oleh lelaki di sampingnya yang tidak kalah rapi pakaiannya dari Gandi.
Gandi merasa aneh saja, ada banyak anak buah Gandi di perusahaannya yang memimpin berbagai departemen disana, namun CEO yang Gandi tahu wanita itu malah bersi keras agar bertemu langsung dengannya. Gandi pun tidak bisa menolak permintaan CEO wanita itu, mengingat dia adalah orang yang sudah lama menjadi klien perusahaannya.
Gandi masuk dan langsung di sambut seseorang dari hotel agar mengikuti arahannya, dan orang tersebut menunjukan tempat yang harus Gandi masuki. Gandi pun turut masuk kedalam. Terlihat seorang gadis bertubuh ramping dengan kemeja lengan panjang putih tulang dan rok ketat seatas lutut dan masih terdapat belahan di bagian belakangnya, dengan heels tinggi hitam, wanita itu berdiri dengan tangan bersedekap menatap kearah luar jendela kaca lebar di ruangan tersebut.