
Hingga pagi itu, Gandi yang masih tertidur meski mentari sudah mulai naik, karena semalam ia sama sekali tidak bisa tidur.
"Tok tok tok, Gandi bangun sayang...papamu aja udah berangkat kerja, kamu masih malas malasan...!" Teriak Nindi sembari menggedor pintu kamar Gandi yang sengaja dikunci dari dalam, meski Nindi tahu, Gandi baru mulai liburan sekolahnya, namun saat waktunya bangun pun ia berusaha membangunkan sang putera.
"Iya mah...satu jam lagi ya...!" Teriak Gandi yang belum mau bangun dari atas ranjangnya.
"Ddddrrrt....ddddrrrrt....ddddrrrtt..." Suara getaran ponsel Gandi, tanda ada seseorang yang tengah menghubunginya.
"Siapa sih pagi pagi gini gangguin tidur orang aja!" Gerutu Gandi saat ia masih merasa ngantuk berat.
"Halo...apaan sih pagi pagi gangguin orang, nggak tahu apa aku masih ngantuk!" Ucap ketus Gandi yang menjawab panggilan telephonenya, sedangkan matanya masih terpejam dan belum melihat siapa yang tengah menghubunginya.
"Ouh...maaf sayang..." Ucap dalam panggilan tersebut, yang kemudian langsung mematikan panggilanya.
"Tunggu!" Ucap Gandi yang menyadari sesuatu, namun terlanjur panggilan sudah terputus.
"Dia panggil aku apa tadi? sayang?" Ucapnya dalam hati yang masih mencerna kata kata halus seseorang dari dalam telephonenya tadi.
"Ouh iya...aku lupa aku kan sekarang punya pacar, astaga mati aku!" Ucap Gandi seketika sembari melompat dari atas ranjangnya, ia segera terjaga sepenuhnya, kantuknya seketika sirna, lalu mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi sang kekasih lagi.
"Halo sayang...maaf ya...aku kira tadi si Eric yang bangunin...maaf ya...nggak marahkan?" Tanya Gandi saat panggilanya sudah tersambung.
"Kirain udah lupa..." Ucap Keyra dengan manisnya.
"Mana bisa lupa sih, udah bertahun tahun ngarep di bangunin kayak gini sama kamu...sekarang udah bangun nih..." Ucap gombalan Gandi pagi pagi.
"Iya...yaudah kalau begitu...aku masih mau balik dulu." Ucap Keyra yang membuat Gandi penasaran seketika.
"Kok balik? kamu dimana sekarang? sama siapa?" Tanya Gandi yang tiba tiba.
"Ini...aku lagi sepedaan sama Alex, di alun alun kota, udah ya aku balik dulu!" Ucap Keyra sembari mematikan panggilanya seketika.
"Kenapa dia nggak ngajak aku, tapi malah ngajak si Alex sih." Dengus Gandi dengan sedikit kesalnya, lalu ia pun berlalu masuk kedalam kamar mandi.
Di tempat lain, terlihat Reza sedang menikmati embun pagi yang menguap dari atas daun daun pepohonan dekat villa Qiran, ia berada di balkon, dengan cahaya matahari pagi yang sedikit terhalang halangi oleh ranting ranting pohon yang menjulang tinggi.
Sedangkan Qiran baru saja terbangun, karena matanya silau dengan cahaya yang masuk kedalam kamarnya, ia pun terduduk sembari menatap punggung yang lumayan lebar tengah berdiri di tepian balkon luar kamarnya, lalu ia pun terbangun, segera mencuci wajahnya dan tak lupa menyikat giginya, baru ia menghampiri Reza yang masih berdiri disana.
"Kamu udah bangun? sejak kapan?" Tanya Qiran pada Reza, sembari ikut berdiri disampingnya.
"Dari subuh tadi sih, bibi yang bertugas disini tadi pagi udah datang." Ucap Reza yang tengah memberi tahu Qiran.
"Bibi kaget lihat kamu disini?" Tanya Qiran yang penasaran ingin tahu, karena bibi yang membersihkan villanya itu sudah Qiran anggap keluarganya sendiri, si bibi sudah bertugas disana sejak almarhum neneknya masih hidup.
"Nggak kaget kok, mau sarapan sekarang?" Tanya Reza lagi pada kekasihnya itu, karena si bibi sudah menceritakan semua tentang kisah malang kehidupan kekasihnya itu, dan memang kebenaranya sama persis seperti yang Qiran ceritakan padanya.
"Yaudah ayo sarapan, habis itu siap siap pulang ya sayang?" Tanya Qiran pada Reza, dan kekasihnya itu hanya mengangguk mengiyakanya saja.
"Emb...nanti ke kotanya sama aku aja ya, mobilnya ntar biar diantar pak supir kerumah kamu, kamunya ikut aku pulang kerumah." Ucap Reza yang sengaja ingin menunjukan Qiran pada papa dan bundanya, Reza sudah siap menghadapi konsekuensinya, meski ia belum lulus sekolah SMA, dan lagi ia merasa khawatir jika Qiran berkendara sendirian.
"Kamu yakin nggak apa apa?" Tanya Qiran sembari mengambil jemari Reza dan menggenggamnya.
"Nggak apa apa, mungkin sudah harusnya seperti itu, kalau nggak ntar kamu marah lagi." Ucap Reza sembari mengusap usap puncak rambut Qiran, lalu keduanya turun kebawah menuju meja makan untuk sarapan.
"Huaaa...ikan? ikan apa ini bi? gurame?" Tanya Qiran yang melihat ikan goreng kering dengan sambal di atas meja makanya.
"Itu nila..." Ucap Reza yang menjawab pertanyaan Qiran.
"Iya non...tadi tuan muda itu yang menggorengnya...bibi cuma bantuin ngiris bawang merah sama nyuci bahan sambelnya." Ucap bibi yang membuat Qiran menoleh dan menatap ke sampingnya, dimana Reza ada disana.
"Huaaa...calon suamiku super duper luar biasa..." Ucap Qiran yang seketika merangkul dan memeluk erat leher Reza yang sedikit lebih tinggi darinya, dan Reza yang menyadari si bibi yang melongo menatap kearahnya itu pun hanya bisa menyunggingkan senyuman yang ia paksakan.
"Tadi aku lihat ada penjual ikan segar yang lewat mau jualan ke pasar, sekalian aku beli, sudah ayo makan..." Ucap Reza sembari menarik tubuh Qiran dari pelukanya.
Hingga keduanya menghabiskan makananya, dan mengemas barang barang Qiran, lalu menuju ketempat Reza dan mengemas barang barang miliknya.
"Bi...apa bunda telephone?" Tanya Reza yang membuat bibi kaget bukan main.
"Kalau bibi seperti itu, pasti bunda telephone, nggak apa bi...udah bilang jujur ke bunda, nanti biar Reza yang terangin ke papa dan bunda." Ucap Reza yang seketika membuat si bibi lega.
Hingga keduanya berpamitan dan melanjutkan perjalananya.
"Sayang..." Ucap Reza pada gadis di sampingnya, dan Qiran pun langsung menoleh ke arahnya, saat itu Reza tengah memarkirkan kendaraanya ketepian jalan.
"Ada apa sayang?" Tanya Qiran yang penasaran.
"Kamu nggak lagi mau nyium aku kan? nggak lagi mau berbuat yang nggak nggak kayak di film film dan novel novel yang menepikan mobilnya ke tepi jalan sepi." Ucap Qiran yang membuat Reza tersenyum sembari mengetuk ringan kening kekasihnya itu dengan jari telunjuknya.
"Kamu tuh mikir apaan sih? bisa bisanya mikir kayak gitu." Ucap Reza yang masih menahan tawanya.
"Gimana aku nggak mikir kayak gitu, secara tempat ini sepi...dan lagi, di sekolahku ada yang dikeluarin pasangan gitu, karena si cewe hamil loh." Ucap Qiran yang menerangkan.
"Nggak usah takut, aku cuma mau tanya...kamu serius nggak sama aku?" Tanya Reza dengan sungguh sungguh.
"Kan...pertanyaan kamu menjurus kesana sayang...gimana aku nggak takut coba, mulanya itu tanya gitu, trus si cewek ngasih bukti karena cowoknya nggak percaya, ya kan?" Ucap Qiran lagi yang sesekali melirik kearah Reza yang benar benar sedang menatap kearahnya dengan punggung tangan yang menyumpat bibirnya, karena tidak bisa menahan tawa.
"Sayang...gini ya, kamu tuh mau aku ajak pulang kerumah, mau aku temuin ke bunda dan papa aku, apa aku salah tanya kayak gitu?" Ucap Reza yang menyadarkan Qiran dengan seketika.
"Oh...jadi gitu, aku udah mikir macam macam, habisnya kamu nggak lagi goda aja udah menggoda, apa lagi kalau beneran menggoda, gimana aku nolaknya!" Ucap lirih Qiran yang samar samar Reza dengar.
"Apa?" Tanya Reza seketika.
"Emb...ya jelas aku sungguh sungguh lah...tapi aku masih mau kuliah dulu, aku belom mau nikah setelah lulus sekolah." Ucap Qiran yang mengutarakan semua yang ada diotaknya, dan saat itu Reza benar benar tertawa dibuatnya, ia sudah tidak bisa menahanya lagi.
"Sayang...kamu terlalu keseringan lihat drama percintaan kayaknya, yaudah intinya aku udah tahu jawaban kamu, kita lanjut jalan lagi ya..." Ucap Reza yang seketika langsung menancap gas mobilnya.
"Udah gitu aja? berhenti nggak ngapa ngapain cuma tanya jawab aja!" Ucap Qiran yang sedikit sedih.