THE NEXT GOOD BOYS

THE NEXT GOOD BOYS
Dan saat itu



Pagi yang menjelang, mentari makin menunjukan semburat cahayanya, saat itu Evan tengah menarik selimutnya, namun seketika ia terjaga, terbangun dari tidurnya, ia merasa ada sesuatu yang salah, lalu ia pun mencoba mengingat ingatnya kembali, dengan tangan yang menggaruk garuk kepalanya.


"Astaga! semalam aku mengirim pesan di komentar dia!" Ucap Evan dalam hatinya saat ia mengingatnya, lalu ia pun segera bangkit dari tidurnya, beranjak menuju kedepan laptopnya berada, menyalakanya dan mengecek ulang komentarnya pada pesan yang dikirimnya, namun ia begitu kecewa, saat melihat komentarnya tak terbalas dan tertimbun komentar yang lain, namun disana Vanya sudah menyukai pesan yang Evan kirim.


Hingga saat itu entah kenapa Evan langsung mengirim pesan pribadi pada akun sosial media Vanya.


"Kenapa kau cuma menyukai komentarku?" Ucap pesan yang Evan kirimkan.


"Akh...aku pasti sudah gila, ini pagi...ini hari libur, dan saat ini sudah merusak mood ku." Ucap Evan sembari akan menutup laptopnya, namun seketika ia mendapat balasan pada pesan yang ia kirimkan itu, hingga membuatnya memelototkan matanya seketika.


"Yatuhan sayangku...kemarin saat kamu komentar...aku masih sekolah...dan ini baru aja pulang sayang...kamu nggak tahu? disini baru pukul lima sore...disana pagi ya?" Ucap pesan balasan yang membuat Evan tersenyum dengan senangnya, karena ia masih ingat pada Evan.


"Tunggu! dia panggil aku sayang kan? tapi kenapa di kolom komentar semua orang juga dia panggil sayang?" Ucap gerutu dalam hati Evan.


"Kamu masih ingat aku nggak?" Ucap balasan Evan pada pesan yang baru ia kirim.


"Sayang...nggak usah ngetes deh...jelas lah aku ingat...kamu kan sayang ku..." Ucap pesan balasan Vanya yang membuat Evan lagi lagi tersenyum senang.


"Kapan kamu pulang?" Ucap pesan balasan Evan yang penasaran.


"Mungkin empat tahun lagi..." Ucap Vanya dengan jujurnya, dan saat itu tiba tiba perasaan Evan tidak karuan, ia merasa bad mood seketika.


"Terserah." Ucapnya lagi yang lalu mematikan laptopnya dan menutupnya, ia lalu menuju ke kamar mandi, namun lagi lagi ia dibuat penasaran dengan jawaban Vanya, ia pun mengurungkan niatnya masuk kamar mandi, kembali duduk di depan layar laptopnya, dan menyalakanya lagi, ia menatap pesanya tadi yang hanya di baca oleh Vanya.


"Vanya...mana nomor ponselmu?" Tanya pesan Evan yang baru ia kirimkan, namun sampai beberapa saat Vanya tidak membalasnya, hingga membuat ia uring uringan dan akhirnya membiarkan layar laptopnya menyala begitu saja dan meninggalkanya pergi ke kamar mandi.


"Pagi..." Sapa Reza saat ia baru turun dari lantai dua kamarnya, dimana di dapur sudah terdapat dua wanita yang di sayanginya tengah sibuk membantu bibi menyiapkan sarapan paginya, sedangkan si papa tengah membaca berita dari dalam laptopnya di samping ruang dapur, di teras samping, sembari menikmati cahaya mata hari pagi yang baru muncul.


"Pagi juga..." Sapa balik Qiran pada kekasihnya.


"Nanti anterin ambil pakaian Qiran ya sayang..." Ucap Ifa pada puteranya, dan Reza hanya mengangguk sembari menyunggingkan senyumanya yang membuat Qiran senang.


Sedangkan di tempat Arga, terlihat Gandi sudah ngobrol saja dengan Keyra lewat video call, dimana saat itu Gandi baru bangun karena Keyra bangunkanya.


Dan di tempat Eric, ia malah membawa semua pakaian kotornya menuju ke mesin cuci, karena asisten rumah tangganya tengah sakit dan tidak datang hari itu, sedangkan mama papanya yang masih di luar kota, membuatnya harus mencuci pakaianya sendiri.


"Yang lain suka suka, kenapa aku sendiri yang sangat tersiksa seperti ini? akh...andai ada bidadari yang sengaja di turunkan kebumi untuku pasti aku akan sangat bahagia." Ucap gerutu Eric sembari memutar mesin cucinya, dan ia pun akhirnya meninggalkan cucianya untuk keluar membeli sarapan.


Hingga Eric putuskan untuk membeli bubur ayam dan memakanya di taman dekat rumahnya, saat itu Eric tengah celingukan menatap kesana kemari mencari kursi atau tempat duduk taman yang kosong, namun hanya ada satu bangku yang diduduki seorang cowok, dan Eric segera menuju ke bangku tersebut.


"Bro...ngikut duduk sini ya..." Ucap Eric sembari berlalu duduk begitu saja.


"Bro, bro...pale lu! gue cewek tahu!" Ucap si cewek yang Eric kira lelaki, karena pakaian si cewek yang hanya mengenakn kaus oblong hitam dan celana compng camping serta topi hitam dan rambut yang teramat pendek.


"Akh...maaf maaf mbak!" Ucap Eric lagi sembari akan menyendok sarapanya.


"Mbak, mbak! kapan gue nikah sama kakak lu!" Ucap si cewek dengan sinisnya.


"Akh terserah lu aja deh, gue udah minta maaf, mau makan sarapan dengan tenang aja kagak bisa!" Ucap Eric yang sudah tidak menggubris si cewek lagi.