
Di apartemen Eric, malam itu ia sudah menyiapkan beberapa botol wine dan hidangan untuk teman malamnya, tidak berselang lama, datanglah Nora disana, sudah seperti biasa keduanya tanpa canggung, meski masih berstatus tunangan.
"Am I late? (apa aku terlambat?)" ucap Yura saat ia baru masuk kedalam apartemen, dan Eric yang hanya duduk di sofa dengan seperempat gelas wine di tangannya, ia hanya bisa menggeleng.
Nora pun segera duduk disamping lelaki itu, menatap keluar jendela besar yang membentang disana.
Eric segera menarik pinggang nora mendekat ke arahnya, hingga tubuh keduanya tanpa jarak.
"What do you want to do? (apa yang mau kau lakukan?)" tanya Nora yang sedikit resah disana.
"Kenapa? bukankah kau mau anak? hah...akan aku kabulkan apa yang kau mau." Ucap Eric sembari meletakan gelasnya diatas meja, lalu menekan tibuh gadis itu hingga terkantuk pembatas sofa. Eric mendekatkan wajahnya perlahan, mendaratkan satu ciumannya. Lalu yang kedua dan yang ketiga, hingga Nora merasa sesak, ia ketakutan saat melihat lelaki itu melepas pakaiannya.
"Tunggu! bukan seperti ini yang aku mau!" ucap Nora dengan tubuh yang bergetar dan gemetar. Ia merasa takut saat itu, perasaan yang pertama ia rasakan, ia takut lelaki di atasnya melakukan sesuatu padanya.
"Isn't this what you want? ( bukankah ini yang kau mau?" ucap Eric sembari melempar kemejanya asal asalan.
"Wait! are you drunk? (tungu! kau mabuk?" ucap Nora yang merasa ada yang salah.
"Ya kau benar! aku mabuk, jika aku tidak mabuk, tidak mungkin aku melakukan hal gila dengan calon istriku." Ucap Eric yang sudah mengurung tubuh gadis itu disana. Seketika ucapan Eric membuat Nora tersadar, kedua matanya berkaca kaca, hingga tanpa sadar ia merangkul leher Eric dan memeluknya.
"Maafkan aku selama ini, kita kurang komunikasi sampai saat ini." Ucap Nora dengan pelukan eratnya.
"Apa itu bisa merubah saat ini?" ucap Eric yang tidak mau mundur lagi, ia terus menyerang gadis di pelukannya dengan ciuaman liarnya, hingga terdengar gadis itu terisak isak disana, membuat Eric menghentikan aktivitasnya.
"Kenapa? apa kau takut? kau bilang ingin anak? aku akan mengabulkannya." Ucap Eric lagi.
"I just want you. (Aku hanya ingin kamu)" ucap Nora yang sudah pasrah apa yang akan Eric lakukan, ia sadar ia salah, dan ia tahu Eric sungguh sungguh padanya. Ia tidak peduli lagi, apakah ada anak atau tidak.
Dan Ericpun tahu akan hal itu, ia meninggalkan Nora sendirian di sofa, mengurung dirinya di dalam kamar mandi.
Malam kian larut, di tempat lain, saat itu Key hanya berniat untuk melihat lihat di tempat kerjanya yang baru, ia baru mulai masuk kerja minggu depan, karena malam itu ia diminta datang oleh pimpinan rumah sakit, hingga mau tidak mau, iapun harus datang, terlebih lagi, Key tahu mama dan papa Gandi akan melewati malam tahun baru di rumahnya, Key masih sangat malu akan hal beberapa tahun yang lalu, yang mengharuskannya berpisah dengan putera tunggal keluarga Sanjaya itu.
Key pun yang melihat lebih banyak pasien daripada tenaga medisnya, berusaha membantu sebisanya.
"Dokter tidak pulang? Ucap seorang Dokter laki laki yang berusaha menghentikan Keyra saat melihat Key tengah sibuk di hari pertamanya di tempat kerja, itu yang Dokter laki laki itu tahu. Ya Keyra Abiyasa adalah Spesialis Dokter penyakit dalam di rumah sakit tersebut. Parasnya cantik rupawan dengan segudang prestasi di dunia kedokteran yang di gelutinya, ia adalah mantan kekasih Gandi, putera dari Arga dan Nindi, keduanya putus tepat sembilan tahun yang lalu.
"Tidak apa apa Dok, aku akan membantu." Ucap Keyra dengan tulusnya, karena ia melihat beberapa para medisnya tengah kuwalahan menangani pasien di UGD.
"Baiklah aku urus yang disana dahulu, lukanya begitu lebar butuh segera di tangani, disini aku serahkan pada Dokter dulu ya sebentar." Ucap Dokter junior tersebut. Keyra pun hanya mengangguk mengiyakannya saja, dan beberapa saat lamanya, tiba tiba...
"Dokternya mana ini? cepat! bos saya sedang terluka! cepat!" Ucap si lelaki dengan teriakannya, membuat semua pengunjung unit gawat darurat menyingkir dari sana, menjauh se jauh jauhnya, disusul rombongan beberapa orang tengah memapah seseorang dengan kepala menunduk dan wajahnya tertutup rambutnya yang terurai maju sampai menutup bagian matanya.
Mungkin dia yang di yakini bosnya oleh lelaki sangar tersebut.
Beberapa orang memapahnya sampai duduk di salah satu kursi ruang tunggu didalam UGD.
"Ada apa ini?" Tanya Keyra pada lelaki sangar tersebut.
"Anda Dokternya?" Tanya lelaki sangar itu pada Keyra.
"Iya..." Ucap Keyra.
"Tolong bantu bos saya, tangannya terluka, darahnya mengucur deras." Ucap lelaki sangar tersebut. Saat itu Keyra melihat memang lelaki gagah yang berpakaian sempurna khas bos kantoran tersebut tangannya memang tengah mengalirkan darah.
"Iya baiklah." Ucap Keyra sembari meminta tolong suster untuk mengambilkan alat jahit dan semua perlengkapannya. Saat itu Key duduk di samping lelaki tersebut. Sembari berusaha melepas jas yang di kenakan oleh si lelaki.
"Parfum ini...bau ini...kenapa aku masih terus mengingatnya? apa aku sudah gila?" ucap dalam hati Key, ia pikir ia tengah berhalusi nasi, sembari tangannya terus berusaha.
"Kau berani melepas jas yang aku kenakan?" Ucap si lelaki sembari mendongakan kepalanya dan benar-benar menatap ke arah Keyra yang sudah menyentuh jas yang lelaki itu kenakan. Dengan refleks tangan si lelaki memegangi pergelangan tangan Key, dengan kuat pula. Tatapan keduanya bertemu, dan kedunya langsung terbelalak seakan tidak percaya atas apa yang dilihatnya.
"Key!" Ucap dari bibir lemah lelaki tersebut.
"Gandi!" Ucap balasan Keyra pula.
Dan saat itu Keyra langsung tahu, Gandi sekarang sudah sukses sebagai penerus perusahaan keluarganya, dan saat itu pun Gandi begitu bahagia bahwa gadis yang selama sembilan tahun ia cintai itu ternyata sudah sukses menjadi Dokter seperti apa yang di inginkannya. Kedua mata Gandi berbinar senang, ia lupa akan sakit di tangannya.
Tibalah suster perawat membawa semua alat yang Key butuhkan, disana pula terdapat jarum suntik yang Gandi takuti sedari dulu. Seketika Gandi makin terbelalak, ia ketakutan dengan hanya melihat jarum suntik saja.
"Kau mau balas dendam padaku Key?" Ucap Gandi dengan badan sedikit gemetaran.
"Aku tidak sepicik itu Gand..." Ucap Keyra dengan senyum yang ia kembangkan seakan-akan ia ingin membalas Gandi kala itu. Keyra segera melepas paksa jas yang Gandi kenakan, dan berhasil. Terlihat pula Max yang sedari tadi melihat tingkah keduanya.
"Kalian tidak mau bos kalian kenapa-napa kan? pegangi dia! dan kamu...berteriaklah sesukamu jika kamu merasa kesakitan. Masak iya bos besar takut jarum suntik?" ucap ledekan Keyra dengan sadisnya. Keyra belum bisa melupakan sakit hatinya yang Gandi torehkan disana.
"Awas kau nanti aku balas! tunggu saja!" Ucap Gandi dalam hatinya.