
"Gand...tumben kamu datang kesini?" Tanya Evan saat Gandi nyelonong langsung masuk kedalam kamarnya dan membanting tubuhnya keatas tempat tidur.
"Lagi kangen oma sama kakek, eh...sampai sini mereka nggak ada." Ucap Gandi yang masih merasakan jengkel.
"Kakak tahu kamu kemari?" Tanya Evan lagi.
"Kamu tuh bawel banget ya Van, tanya mulu dari tadi." Ucap Gandi dengan sewotnya.
"Kamu kenapa sih Gand? ada masalah apa? kenapa marah kamu itu kamu bawa kesini? aku tanya baik baik, jawaban kamu nggak enak banget." Ucap Evan dengan nada dewasanya.
"Maaf Van...aku nggak ada maksud sama sekali Van, aku lagi nggak enak ati aja." Ucap Gandi yang menerangkan.
"Emb...Van...kamu pernah jatuh cinta nggak? gimana sih rasanya?" Tanya Gandi pada om nya itu.
"Kalau pakar masalah cinta itu bukanya papa kamu lebih berpengalaman ya Gand?" Ucap Evan yang sedikit mendengar tentang cerita suami kakaknya itu.
"Bisa di tampol aku tanya kayak gitu sama papa Van." Ucap Gandi lagi, karena menurutnya, papa dan mama nya pasti tidak mengizinkanya bermain main dengan yang namanya cinta itu, sang papa pernah bilang, jika cinta sejati itu hanya datang sekali, bukan berkali kalai, berbekal perkataan sang papa, Gandi tak ingin menaruh cintanya di tempat yang salah.
"Kenapa? kamu habis di putusin? nggak di terima? di tolak? siapa yang bisa nolak kamu?" Tanya Evan lagi yang keheranan.
"Bukan itu semua Van! ada teman cewek, udah lama sih...aku tuh seneng kalau deket dia, tapi...pas denger dia bahas cowok lain, aku kayak nggak terima Van, kenapa ya?" Ucap curahan hati Gandi yang baru pertama kalinya ia alami.
"Kamu udah pastiin yang dia maksud itu cowok lain? bukan kamu?" Ucap Evan yang seketika membuat Gandi terperanjat dari tiduranya.
"Akh...bodo...kenapa aku nggak pastiin sih tadi!" Ucap Gandi sembari menoyor noyor kepalanya.
"Cewek tadi maksud kamu? yang nyamperin kamu di depan gerbang sekolah?" Tanya Evan yang penasaran, dan Gandi hanya mengangguk mengiyakanya saja.
"Sejak kapan kamu dekat sama tu cewek? kayaknya...aku ketemu dia juga baru pertama kali deh Gand, kok bisa aku, Reza dan Eric nggak tahu ya?" Tanya Evan lagi yang merasa teman wanita Gandi itu baru pertama diperkenalkan padanya dan yang lain.
"Oh...appaaa!" Ucap Evan dengan kagetnya.
"Jadi kamu suka sama Keyra? kenapa nggak ngomong aja langsung? jarak jauh nggak masalah kali Gand, penting sama sama pengertian." Ucap Evan yang menasehati Gandi.
"Belom Van, belom tahu ini perasaan apaan! akh...ngomong ngomong! mau ngomong apaan coba." Ucap Gandi lagi yang masih menyangkal perasaanya.
"Lah kamu nggak suka dia bahas cowok lain, itu artinya kamu lagi cemburu Gand..." Ucap Evan lagi, yang membuat Gandi terperanjat dari tempatnya.
"Akh tahu ah Van...gue pulang dulu, salam ya buat oma dan kakek." Ucap Gandi yang langsung pergi meninggalkan tempatnya.
"Akh...harusnya gue pastiin yang dia suka tuh siapa, gue sih...main nyelonong aja..." Gerutu Gandi sembari mengendarai mobilnya, berjalan pulang.
"Sayang...kok wajahnya di tekuk gt sih? kenapa?" Ucap Nindi saat ia melihat Gandi dengan langkah lunglai baru masuk kedalam rumah, dan berpapasan denganya di ruang makan.
"Eh mah...sini deh...Gandi mau QnA nan sama mama dong...hati Gandi beneran ada yang ngeganjel nih, belum bisa plong mah..." Ucap Gandi sembari mendorong punggung mamanya dan mengajaknya duduk di kursi teras samping rumah.
"Mau tanya apa sayang?" Ucap Nindi dengan penasaranya.
"Mah...jatuh cinta itu gimana sih rasanya?" Tanya Gandi yang pada intinya.
"Kamu jatuh cinta sama siapa sayang? anak mana? mama kenal nggak?" Tanya balik Nindi pada puteranya.
"Belom mah belom! kan Gandi masih tanya tanya." Ucap Gandi lagi yang mendapat sambutan senyum hangat sang mama.
"Cinta itu nggak bisa di tebak, nggak bisa disangka, begitu aja datangnya, dan yang pasti, kita akan berusaha melindungi orang yang kita sukai, meski menyakitkan, kita ingin selalu ada di dekatnya, dan ingin bertemu saat ia tak ada." Ucap Nindi yang menerangkan, dan Gandi terlihat manggut manggut mengerti.
"Mah...Gandi kenapa jadi pingin sekolah kedokteran sih mah." Ucap Gandi yang membuat Nindi bengong saking terkejutnya, karena Gandi belum bisa memastikan perasaanya, baginya pasti butuh waktu lagi untuk memastikanya, dan ia harus tinggal dekat dengan Keyra baru akan tahu jawabanya.