
Hingga menjelang sore, akhirnya Reza dan Qiran pun sampai di rumah Reza.
"Kita yakin keluar? nggak apa apa kah aku ketemu kedua orang tua kamu sayang? mereka ntar marah nggak aku ngajak anaknya pacaran?" Tanya Qiran yang masih tidak enak di hatinya, karena benar ia yang memaksa Reza untuk menjadi pacarnya.
"Nggak apa apa sayang...bunda dan papa aku bukan orang kolot kok, lagian, pacaran kalau keduanya nggak setuju juga nggak bisa di anggap pacaran, aku setuju kan? udah ayo turun!" Ucap Reza yang akan membuka pintu mobil di sebelahnya.
"Tunggu!" Ucap Qiran sembari menarik tangan Reza, karena saat itu Qiran benar benar gemetar ketakutan, hingga Reza bisa merasakanya.
"Setakut itu kah? perlu aku peluk?" Tanya Reza sembari menepuk punggung tangan yang tengah menggenggam tanganya kuat.
"Akh...nggak usah...tapi beneran ini aku gemetar..." Ucap Qiran yang tiada hentinya, sampai...ia melihat seorang bidadari yang tengah berdiri di teras depan rumahnya, tengah menyunggingkan senyum kearahnya.
"Cantik nya..." Ucap Qiran seketika, sesaat ia lupa akan ketakutanya.
"Itu bunda aku sayang...nggak nyeremin kan?" Ucap Reza dengan jemari yang menoel hidung Qiran, karena sampai sebegitunya Qiran terpanan menatap bundanya.
"Ouh...bunda ya...appaaa! bunda? kenapa kita nggak cepat turun sayang? tuh udah sampai di sambut bunda segala." Ucap Qiran dengan gelagapanya, dan tangan yang sudah akan membuka pintu mobil sampingnya, namun saat itu gantian Reza yang menarik tanganya, hingga Qiran berhenti sesaat dan menatap kearah Reza.
"Nanti...nggak usah cerita awal mula kita bisanya pacaran ya...kalau bunda nggak nanya, ntar aku bisa di tabok sama bunda kalau main cium aja." Ucap Reza yang membuat Qiran sedikit sedih, karena saat itu memang Qiran yang menjadi korbanya, namun Reza pun tak salah, ia berpikir Qiran akan nyebur ke sungai.
"Yaudah baiklah...kalau bunda tanya, cerita saja sayang...nggak apa apa kalau kamu lebih bisa bahagia." Ucap bijak Reza yang mendapat anggukan oleh Qiran namun Qiran pun tak semudah itu menceritakan kekonyolan yang menjerat keduanya dalam satu hubungan.
"Bunda..." Sapa Reza pada bundanya, setelah ia keluar dari dalam mobilnya, di susul Qiran yang berada di belakangnya.
"Tante..." Sapa Qiran pada bunda Reza.
"Iya sayang...ayo masuk pasti lelah kan? ayo...cantik juga ikut masuk..." Ucap ramah Bunda yang membuat Reza dan Qiran saling menoleh menatap satu sama lain, lalu Reza menyunggingkan senyum tampanya.
"Bundaku baik kan? nggak sesadis yang kamu bayangkan." Bisik Reza di telinga Qiran, yang membuat gadis itu tersenyum senang.
"Ayo ayo...masuk...sayang...kenalin dong pacarnya sama bunda..." Ucap Ifa pada sang putera.
"Iya bund...ini Qirani Lesmana bund...pacar Reza." Ucap Reza dengan gentle nya.
"Iya bund...almarhum nenek memang sering di panggil nenek Qiran, daripada nama nenek sendiri, benar tetanggaan bund...tapi semenjak nenek meninggal, Qiran jarang ke villa lagi bund..." Ucap Qiran menerangkan, karena memang tempat tersebut mengingatkanya pada masa kecilnya, dimana disana adalah tempat tinggal nenek kakeknya, dan setelah pindah ke kota tempat tersebut di bangun menjadi villa kecil untuk tempat berlibur, hingga sang nenek meninggal dan minta dimakamkan di kampung halamanya, akhirnya setiap sebulan sekali Qiran ke villa untuk ziarah makam sang nenek.
"Ouh...terus kok bisa pacaran sama Reza nak?" Tanya bunda pada Qiran, dan saat itu Qiran hanya menoleh menatap kearah Reza, dan Reza hanya memberi isyarat dengan kedipan matanya saja.
"Emmmb...anu bund..." Ucap Qiran yang terbata bata, lalu putus seketika.
"Nggak terjadi hal hal yang nggak nggak kan?" Tanya bunda seketika, ia ingin tahu apakah sang putera dan pacarnya tersebut tanpa sengaja melakukan hal hal dibatas wajar, hingga memaksa keduanya untuk menjalin hubungan.
"Kok bunda tahu?" Ucap Qiran dengan kagetnya, dan saat itu terlihat Ifa yang begitu shock.
"Sayang...kamu salah mengartikan pertanyaan bunda." Ucap Reza sembari beranjak dari dudunya dan mendekat kearah bundanya berada.
"Bund...hal yang bunda khawatirkan tidaklah terjadi, kami hanya tanpa sengaja berciuman...itu saja bund..." Ucap Reza yang seketika membuat bundanya lega.
"Appaaa?!! ciuman?" Ucap Ifa dengan kagetnya.
"Kami nggak sengaja tante...tapi kami saling suka setelah itu...habis itu juga nginep bareng tapi juga nggak ngapa ngapain." Ucap Qiran yang menerangkan.
"Oh syukurlah nak...bunda lega, lalu...kamu sekarang tinggal dengan siapa?" Tanya bunda pada pacar puteranya itu, karena Ifa tahu, semenjak kecil memang Qiran sudah di tinggal papa mamanya meninggal di kampung halaman papanya, dan setelahnya di asuh oleh sang nenek di kampung dekat rumahnya.
"Qiran sendirian tan...di apartemen tengah kota sana..." Ucap Qiran yang membuat Ifa mengerti.
"Maaf ya nak tante nggak tahu, yang sabar ya..." Ucap Ifa dengan senyum tulusnya.
"Yaudah...istirahat dulu di kamar tamu ya nak, dan kamu Reza...Gandi dari tadi telephone rumah terus tanyain kamu tuh, ada apa sih?" Tanya Ifa pada sang putera, Ifa tidak tahu kalau Gandi ngadain makan malam bersama di rumahnya, saat itu Reza pun belum tahu tentang Gandi pacaran dengan Keyra, termasuk kedua sahabatnya yang lain.
"Bentar lagi bund, dapat undangan dari mamanya Gandi, untuk makan makan disana, bentar lagi Reza kesana bund..." Ucap Reza yang menerangkan.
Dan saat itu, Reza dan Qiran mendapat persetujuan bunda Ifa untuk datang berdua diacara Gandi tersebut.