THE NEXT GOOD BOYS

THE NEXT GOOD BOYS
Tubrukan



Vanya begitu lega atas semua yang ia lalui, pelabuhan cinta yang ditunggunya selama sembilan tahun akhirnya bermuara juga, lelaki yang sudah ia pastikan dulu tidak bisa ia miliki, ternyata tuhan memberikannya, tuhan punya rencana lain yang memang sangat indah.


Didalam kamar, Evan membantu Vanya memasukan baju bajunya kedalam koper, Evan berencana mengajak Vanya pindah ke apartemen miliknya yang tidak ditempati.


"Nanti datang sama sama ya ke pesta pernikahan Eric?" ucap Evan pada gadis yang masih terlihat sibuk dengan aktivitasnya.


"Jangan Van...lusa aku masih berstatus istri orang, dan aku tidak ingin membuatmu sedih karena cibiran orang." Ucap Vanya yang lebih dewasa, sedangkan Evan tidak berpikir sampai sejauh itu.


"Kenapa sekarang kamu terlihat makin dewasa Van? dulu..." ucap Evan terhenti saat menatap Vanya berbalik menatap ke arahnya.


"Dulu aku gadis manja? suka keluyuran dan foya foya serta centil padamu ya?" ucap Vanya yang membuat Evan mengangguk.


"Karena kehidupan Van yang memaksa aku seperti ini...dan asal kamu tahu ya...aku hanya centil saat bersamamu, aku berusaha menarik perhatianmu, ya...karena aku pikir kepribadianmu begitu menantang Van...aku menyukainya, meskipun begitu...harusnya kau tahu...gadis yang tertawanya paling lebar, terlihat melebih lebihkan keceriaannya itu biasanya hanya untuk menyembunyikan kesedihannya Van..." ucap Vanya yang membuat Evan berjalan mendekat ke arahnya dan langsung memeluknya.


"Maaf sayang...harusnya aku saat itu lebih peka...aku tidak tahu perasaan nyaman yang bermula risih itu meluluhkan hatiku, dan aku tersadar saat aku kehilanganmu, tapi mulai sekarang...aku janji nggak akan ninggalin kamu lagi..." ucap bisik Evan yang membuat hati Vanya berbunga.


"Lalu...selanjutnya bagaimana?" tanya Vanya yang ingin tahu apa langkah selanjutnya yang akan Evan lakukan.


"Menikahimu." Ucap Evan dalam dekapannya. Seketika Vanya tersentak, ia menyadari perkataan Evan tidaklah main main, dan Evan memang tidak pernah main main.


"Van...kamu sudah memikirkannya matang matang? mengenai keluargamu...akankah mereka setuju kalu kau menikahi seorang janda?" tanya Vanya dengan wajah mendongak dan cemas terlihat disana.


"Jangan cemaskan hal itu...memangnya kalau statusnya janda kenapa? jandapun masih perawan...emmmb...tenang sayang...mereka pasti mau mengerti kok, kamu jangan khawatir lagi ya..." ucap Evan sembari mengusap lembut kedua sisi wajah gadis yang masih memeluknya itu.


"Oh ya, mama aku sekarang dalam pengobatan, tidak bisa kemana mana, dan papa setia menemani disana, menurutku mereka tidak akan keberatan, dan...untuk kak Nindi dan kak Arga,mereka pasti mau mengerti bagaimana perasaan dua orang yang saling mencintai...karena kehidupan percintaan yang mereka lalui setahu aku sangatlah rumit dahulu." Ucap Evan yang berusaha melegakan hati Vanya, Evan tidak ingin gadis itu berpikir macam macam. Hingga satu kecupan itu mendarat tepat di ujung bibir Vanya.


"Baiklah sayang...jangan lama lama disini...akh...aku nggak tahu lagi apa yang akan terjadi." Ucap Evan yang lalu menyibukan diri, dengan memasukan beberapa pakaian Vanya di koper yang lain.


Ditempat Gandi, lelaki itu sudah akan berangkat keluar, namun tidak untuk bekerja, dandanannya tidak se klimits saat bekerja, dengan pakaian casual yang dikenakan, persis anak muda yang gaul pada umumnya.


"Sayang...mau kemana? hemmmz kamu mau berangkat kerja dengan pakaian seperti itu?" tanya Nindi pada puteranya saat ia melihat pakaian yang dikenakan Gandi.


Kaos putih dengan luaran kemeja biru laut yang tidak di kancingkan, serta celana pendek selutut yang senada dengan kemeja yang dikenakanya, ditambah sepatu kets putih yang menunjang penampilannya.


"Mah...hari ini Gandi mau tempur!" ucap singkat Gandi saat ia duduk di meja makan bersama mama dan papanya. Sontak cekikik tawa Arga yang ia tahan akhirnya ketahuan juga oleh keduanya.


"Kenapa tertawa sayang?" ucap Nindi pada suaminya.


"Maksudnya? kamu tahu bertempur yang Gandi maksudkan?" tanya Nindi pada suaminya.


"Ya tahu lah...mana ada pertempuran yang susah aku menangkan selain mendapatkanmu saat itu." Ucap Arga dengan tawa dan gelengan kepala disana.


"Jadi...Gandi mau ngedapetin siapa?" tanya Nindi lagi yang memastikan, meski Nindi tahu gadis itu pastilah Keyra.


"Ayo lah mah...masak iya masih tanya...akh...Gandi nggak mau sarapan...nanti aja..." Ucap Gandi yang hanya meminum susu yang ada di gelas atas meja depannya.


"Masak iya...Eric mau nikah lusa, Reza juga...akhir bulan nikahnya...nah Evan...nggak usah ditanya dia...mungkin dia akan jadi pertapa...seleranya aneh...yakali Gandi masih jomblo mah...pah...kan Gandi juga mau ngajak gandengan datang ke pesta..." dengus Gandi dengan kesalnya.


"Lah itu salah kamu sendiri sayang...banyak yang mau sama kamu, yang ngejar kamu, kenapa juga nggak ada yang kamu pilih!" ucap Nindi yang ikut kesal pula pada puteranya.


"Sayang...di apresiasi dong...putera kita setia...gimana sih...kok malah disuruh pindah kelain hati!" ucap Arga yang membela perasaan puteranya.


"Ya...ya...ya...selamat sayang atas kesetiaannya...dan mudah mudahan segera usai kejombloannya...aneh aja Gand...pengusaha muda yang terbilng sukses tapi lebih memilih jomblo...mama cuma khawatir ntar anak mama dikira pisang makan pisang!" gerutu Nindi sembari menyuap makanannya.


"Jeruk makan jeruk!" ucap Arga dan Gandi yang bersamaan.


"Ya...itu maksudnya." Ucap Nindi dengan tawanya. Hingga Gandi berpamitan untuk keluar saat itu.


"Semangat sayang...mama dan papa bantu doa ya...semangat!" ucap kedua orang tua Gandi yang ia rasa terlalu baik itu. Gandi pun langsung membawa mobilnya menuju kerumah Key, disana ia sendiri tanpa Max, lelaki itu berada di kantor untuk pekerjaan yang Gandi tugaskan padanya.


"Hemmmz...aku bawa apa ya? bunga? coklat? permen kapas kesukaan Key, atau...skincare? kan dia jago dandan sekarang...kata Max pacarnya suka kalau dibelikan skincare, hemmz...kalau permen kapas itu kan kesukaan dia waktu SMP, kalau coklat dan bunga...kan bukan waktunya valentine, akh...aku bisa gila!" ucap Gandi sembari mengusap usap rambutnya yang tidak beraturan.


"Braaak!" tiba tiba Gandi merasa menubruk mobil di depannya, ia tidak melihat saat tiba tiba lampu menyala merah. Segera saja ia membuka jendela mobilnya, menyembulkan kepalanya saja dari dalam mobil, ia terlihat marah saat itu.


"Hya...nggak tahu apa ini mobil mahal...sini kamu keluar!" Ucap Gandi dengan teriakannya, lalu tidak ada balasan dari mobil depannya. Membuat Gandi keluar dari dalam mobil dan menghampiri mobil di depannya.


"Wah...mobil sport juga...walau begitu dia yang salah!" ucap gerutu Gandi sembari mengamati mobil di depannya.


"Woe...keluar! jangan ngerem mendadak!" teriak Gandi saat itu. Hingga terlihat jenjang kaki mulus dengan heels tinggi itu keluar dari dalam mobil, pahanya sedikit menginyip disana, karena rok yang dikenakannya hanya sebatas lutut.


"Anda menyalahkan saya tuan perfact?" ucap gadis itu sembari membuka kaca mata yang dikenakannya.