
"Key lu nggak apa apa? lu takut ama film horor? kenapa nggak ngomong dari tadi sih!" Dengus Gandi saat baru menyadari temanya itu tengah pucat dan sedikit gemetaran.
"Hah...perasaan aku udah ngomong..." Ucap Key dalam hati, ia masih sedikit ketakutan disana.
"Ayo cari makan dulu, biar ilang tu gemetaranya!" Ucap Gandi sembari mengulurkan tangan dan akan mengajak Keyra pergi dari tempatnya.
"Nggak mau! aku mau pulang." Ucap singkat Keyra, sambil berdiri dari duduknya dan tidak menghiraukan uluran tangan Gandi, sehingga Gandi pun akhirnya menarik kembali tanganya.
"Tapi Key..." Ucapnya lagi, namun akhirnya Gandi tidak bisa membuat Keyra bertahan disisinya, ia pun akhirnya mengantarkan Keyra pulang tanpa beli apa apa.
Dua minggu sudah waktu berlalu, hingga akhirnya liburan sekolah pun usai, saat itu Gandi dan teman temanya sudah naik ke kelas tiga, kelas yang paling menakutkan bagi semua, dimana disana akan jadi penentuan apakan semua akan lulus atau tidak, apa lagi Keyra, ia memiliki nilai yang agak rendah di banding Gandi dan yang lainya.
Satu minggu berlalu, saat saat dimana pengenalan kelas bagi siswa siswi baru, dan benar saja empat sekawan selalu jadi pusat perhatian, apa lagi untuk para siswi baru.
Setiap hari tak pernah sepi surat yang datang untuk Gandi dan teman temanya, seperti biasa, namun yang beda, saat itu Vanya tidak ada disana, Vanya pindah ke luar Negeri karena orang tuanya yang pisah, dan ia terpaksa ikut dengan mamanya, karena papanya berencana menikah lagi, ternyata nonton yang terakhir kali saat awal liburan itu adalah salam perpisahan darinya, Evan tidak tahu, keluarga Vanya sedang kacau sejak satu tahun terakhir, karena papanya selingkuh, dan mamanya tidak bisa terima, mungkin Vanya menemukan sosok setia dari diri Evan, hingga menyukai Evan sampai over, dan entah...keduanya akan bertemu lagi atau tidak, hanya tuhan yang tahu, saat itu, Evan baru menyadari, betapa ia kehilangan sosok Vanya, sosok yang selalu tebar pesona dan terkesan menggoda saat di dekatnya, sosok yang selalu melindunginya dari para siswi yang akan mengajaknya kenalan, bahkan sosok yang paling perhatian, apa lagi soal makan.
Meski Evan tahu, Vanya mungkin kurang perhatian dan mencoba membuatnya memperhatikanya, Evan baru tahu kabar itu saat dua hari yang lalu, saat ia pergi ke ruang guru, dimana semua guru menyayangkan kepindahanya, karena ia termasuk siswi yang sangat berprestasi, meski ia seorang artis cilik, ia selalu bisa mengatur jadwal syuting dan sekolahnya, yang lebih membuat Evan kaget, saat bu guru bilang, Vanya tinggal sendirian di apartemen dekat sekolahnya, tanpa kedua orang tuanya, mungkin saat itu Vanya lebih suka sendirian, dan muak dengan suara suara bising cek cok kedua orang tuanya.
"Jadi saat itu pun dia sendirian?" Ucap Evan lagi, yang mengingat ingat kenanganya dengan Vanya.
Bahkan senyuman Vanya yang baru Evan sadari sangat manis itu pun terngiang dalam benaknya, namun semua sudah terlambat, semua tidak bisa di kembalikan lagi, sudah berakhir.
"Puas lo...Vanya sudah pindah, bukan jangkauang dalam Negeri lagi, tapi luar Negeri Van." Ucap Gandi yang tiba tiba menyadarkan lamunan Evan tentang Vanya.
"Akh...syukurlah...aku bisa lega sekarang." Ucap Evan yang mungkin menyembunyikan rasa rindu pada sosok Vanya, namun ia terlalu gengsi untuk mengungkapkanya.
"Makan tuh gengsi." Ucap dalah hati Gandi, saat ia sadari suara Evan saat berucap terasa bergetar dan Gandi langsung tahu, Evan tidak ingin Vanya pergi.
"Kanapa kamu nggak bilang kalau kamu sendirian? jika aku tahu kejadian yang sesungguhnya, mungkin aku tidak akan sekasar dan sedingin itu padamu, paling nggak...aku bisa menemanimu saat waktu makan." Ucap penyesalan di hati Evan yang sudah nggak ada gunanya, semua sudah sia sia.
"Maaf Van..." Ucap dalam hati Evan lagi.
Evan menyadari, dibalik tawa renyah dan senyum lebar Vanya, terdapat pahit yang harus ia sembunyikan.