THE NEXT GOOD BOYS

THE NEXT GOOD BOYS
Lagi lagi kepo



"Bunda...papa...om...tante..." Sapa Gandi dan Qiran secara bersamaan, dan saat itu pula Aditya dan Ifa terjaga dari duduknya dan menyambutnya.


"Udah usai acaranya?" Tanya Ifa pada puteranya dan Qiran.


"Pah...kenalin ini Qiran, pacar aku pah." Ucap Reza yang membuat Qiran menunduk malu pada papa kekasihnya itu.


"Om...salam kenal..." Ucap Qiran dengan nada terbata batanya.


"Oh...iya iya, tadi bunda Reza udah cerita banyak tentangmu dan masa kecilmu." Ucap Aditya yang membuat Qiran tersenyum kearahnya.


"Sini nak kami mau ngomong sebentar." Ucap Ifa yang lalu di laksanakan oleh puteranya dan Qiran, keduanya lalu duduk bersandingan di sofa depan bunda dan papanya.


"Nak...kami tahu, saat ini kalian memang belum lulus SMA, kami juga tahu, masa sekolah kalian pun masih lama dan panjang, tapi kami nggak ingin membayangkanya terlalu jauh dulu, yang kami bayangkan yang saat ini dulu, gimana kalau kamu pindah kesini aja? bukan apa apa nak...biar kami bisa tahu perkembangan kalian, toh biar aman juga, bukan berarti kami tidak percaya pada kalian, tidak...tapi lebih amanya, kalau ada pengawasan orang tua, lagian Qiran tinggal sendirian kan? bukanya lebih baik kalau kita dekat, Qiran pun tak akan sendirian, bunda bisa menemaninya." Ucap Ifa yang tulus, dengan nada suara yang begitu kalem lembut, membuat Qiran meneteskan air mata.


"Huaaaaa...mamah...akh bunda...eh tante...Qiran terharu...Qiran sangat mau, Qiran juga senang bisa bertemu dengan Reza...!" Ucap Qiran dengan jujurnya, sembari berhambur datang memeluk Ifa di tempat duduknya.


"Baiklah...sudah di putuskan ya, Qiran tinggal disini." Ucap Ifa lagi yang membuat semua hati lega, Ifa dan Aditya pun khawatir yang tidak tidak, meskipun keduanya percaya pada sang putera, namun akan lebih baik jika keduanya dalam pengawasan dan jangkauan matanya, bukan apa apa, karena Ifa khawatir saja, dan itupun sudah atas persetujuan sang suami, keduanya tidak mikir terlalu jauh dulu, yang dipikirkan saat itu, itulah yang di lakukanya, masalah keduanya tidak cocok atau bahkan akan pisah kelak, itu tidaklah maslah.


"Akh...apa yang aku pikirkan!" Ucap dalam hati Evan, yang memaksa otaknya agar memikirkan hal lain, hingga ia putuskan tengah malam itu, ia membuka buku buku pelajaranya dan juga laptopnya.


"Astaga...apa yang aku lakukan? kenapa disaat semua pada menikmati liburanya, kenapa aku sendiri yang membaca ulang semua pelajaran, di tengah malam pula." Ucap dalam hati Evan.


Dan saat itu ia masih saja mengutak atik laptopnya, hingga matanya melotot sampai ia pun akhirnya mengatupkan mulutnya rapat rapat, seakan tak percaya, otaknya sepenuhnya menolak tidak ingin memikirkan semua tentang Vanya, namun kenyataanya jari jemarinya entah bagaimana bisa mengetik dan mencari berita tentang gadis itu, gadis yang pernah mengejar nya, gadis yang pernah menempel padanya seperti parasit.


"Apakah aku terlalu merindukanya?" Ucap gerutu Evan yang akhirnya ia menyerah, ia lalu melanjutkan membaca artikel tentang Vanya tersebut, sampai ia harus kepo tentang semua sosial media yang Vanya miliki, bahkan ia hampir bertanya kabar Vanya dalam kolom komentar sosial medianya, untungnya ia urungkan seketika.


"Astaga...aku bisa gila, ingin tahu kabarnya saja sampai seperti ini." Ucap Evan dengan gerutunya, lalu ia pun akhirnya menutup laptopnya kembali, beranjak dari duduknya dan akan pergi menuju ke tempat tidur, namun seketika ia duduk ke kursi depan meja belajarnya kembali, membuka laptopnya dan mengeklik sosial media Vanya lagi, lalu mengirim komentar pada kolom komentarnya.


"Gimana kabarmu Vanya?" Ucap komentar yang Evan kirim pada Vanya.


"Akh!! aku bisa gila...aku akan gila...!" Ucap Evan seketika yang membuatnya makin gelisah, ia gelisah karen khawatir jikalau Vanya mengabaikan komentarnya karena tidak mengenal, atau tidak tahu tentangnya lagi.