
Keduanya menyatu seakan lupa waktu, betapa tidak, dari pukul setengah dua belas siang hingga pukul satu, mama Anin menunggui keduanya untuk turun makan siang bersama, apa lagi papa Rendi yang terlihat baru saja tiba dan sudah ikut duduk di kursi meja makan.
"Sayang...Arga mana? diluar ada mobilnya kok papa nggak lihat ya?" Ucap tanya Rendi pada sang istri, dan Anin baru sadar, bahwa Arga dari tadi menyusul Nindi ke kamarnya dan belum keluar sampai sekarang.
"Akh...biar bibi yang panggilkan pah..." Ucap Anin pada sang suami, lalu ia pun meminta bibi untuk memanggil keduanya di dalam kamar.
Sedangkan di atas tempat tidur, nampak Arga dan Nindi yang kelelahan baru saja menyudahi sesuatu yang menyenangkan bagi keduanya.
"Maaf...kamu kelelahan ya?" Ucap tanya Arga pada sang istri, dengan jemari yang menyibakan sebagian rambut yang menutupi wajah cantik sang istri dan Nindi yang berada dalam dekapanya hanya mengusap lembut wajahnya ke dada bidang sang suami, memberi kepastian ia baik baik saja, hingga...
"Tok tok tok, tuan muda...nona muda..." Ucap bibi yang tengah mengetuk pintu kamar dari luar.
"Pasti bibi ngabarin kalau mama sudah nungguin di bawah," Ucap bisik Nindi yang masih malas untuk beranjak dari posisinya.
Lalu perlahan Arga memutuskan untuk bangkit dari tidurnya, dan mengenakan pakaianya kembali, kemudian berjalan menuju ke arah pintu kamarnya.
"Iya bi...ada apa?" Tanya Arga pada bibi asisten rumah tangga mertuanya.
"Tuan...dan nyonya sudah menunggu anda dan nona muda tuan..." Ucap bibi dengan nada halus dan kepala menunduknya.
"Iya bi...makasih ya...kami ketiduran tadi...sebentar lagi kami akan turun bi..." Ucap Arga sembari masuk ke dalam kamarnya lagi dan menutup pintunya.
Matanya tiba tiba tertuju pada sang istri yang tengah pura pura tidur dan menyelimuti tubuhnya di atas pembaringan.
"Sayang...ayo mandi...mama sudah nungguin tuh...mau aku gendong ya?" Ucap Arga sembari menghampiri sang istri dengan kedua tangan yang sudah mengangkat tubuhnya.
Hingga keduanya masuk ke kamar mandi dan menyelesaikan acara mandi bersamanya, lalu turun menuju ke meja makan, dimana mama dan papa nya ternyata sudah ada disana tengah menungguinya.
"Mama...papa...maaf kami ketiduran tadi..." Ucap Arga dan Nindi bersama sama, sembari turut duduk di kursi dekat mamanya, setelah kedua mertuanya terlihat menyunggingkan senyumanya.
Hingga beberapa saat, ke empatnya menikmati makananya.
"Mah...pah...istri kakak tadi sudah melahirkan dengan selamat, sekarang masih di rumah sakit." Ucap Arga yang memberitahu kabar membahagiakan itu, dan di sambut antusiasnya oleh Anin dan Rendi.
"Papa nggak balik ke kantor lagi kan?" Tanya Anin pada sang suami.
"Emmmb...enggak ma...ada apa?" Tanya balik Rendi pada sang istri.
"Anterin mama ke rumah sakit ya...dimana Ifa lahiran...!" Ucap Anin dengan keinginanya, dan terlihat Rendi mengangguk mengiyakanya saja.
Hingga waktu sudah menunjukan pukul tiga sore, saat Anin dan Rendi bergegas menuju ke rumah sakit bersalin tempat Ifa di rawat, disusul Arga dan Nindi yang ikut serta.
"Kok diem aja dari tadi?" Tanya Arga pada sang istri.
"Iya...iya...maaf sayang...maaf ya...janji kok nggak bakalan ngulangi lagi...!" Ucap Arga sembari merangkul pundak sang istri di sampingnya.
Hingga ke empatnya sampai di ruangan yang Ifa tempati, nampak hanya Aditya yang tengah menungguinya, di sampingnya terlihat bayi mungil yang tengah tidur lelap di box bayi samping ibu nya.
"Aduh...cakepnya...selamat ya sayang...atas kelahiran puteranya..." Ucap mama Anin pada Ifa yang tengah memberi selamat.
"Terimakasih mah..." Ucap Ifa yang masih lemah, dengan senyum bahagianya, terpancar kebahagiaan dari wajah kedua manusia yang kini telah menyandang status baru, status sebagai orang tua.
Hingga satu minggu pun berlalu, keluarga kecil itu pun kembali dari rumah sakit, terlihat Ifa tengah menggendong buah hati kecilnya turun dari mobil dan menuju ke rumahnya, nampak mama papa serta adik dan adik iparnya tengah menyambut kedatanganya.
"Sayang...pelan pelan..." Ucap Aditya pada sang istri, lalu terlihat Anin mendekat dan membantu Ifa menggendong jagoan kecilnya kedalam pelukanya.
"Terimakasih mah...sudah mengurus Akiqahan Adfa mah...kami merasa sangat bersyukur ada mama dan semua..." Ucap syukur dan berterimakasih Ifa pada mama dan juga Nindi, atas semua yang sudah di lakukan untuk keluarga kecilnya.
Dan hari itu adalah hari yang membahagiakan keluarga Aditya dan juga Ifa, nampak semua pun ikut bahagia pula dengan apa yang di rasakan keduanya.
"Akh...lelahnya..." Ucap Nindi setelah pulang dari kediaman Aditya, dengan kepala yang di sandarkan bahu sang suami meski keduanya baru memasuki pintu rumahnya dan berjalan perlahan menuju ke kamar.
Sengaja Arga memindahkan kamarnya ke lantai bawah, karena ia terlalu khawatir pada kehamilan sang istri yang sudah semakin membesar dan menghalangi pandanganya saat menatap lantai bawahnya.
"Sudah aku bilang kan tadi...nggak usah ikutan repot...kamu sih nggak pernah nurut apa kata suami!" Dengus sedikit kesal Arga, sembari berusaha mengangkat tubuh sang istri dan membopongnya menuju ke kamar.
"Apa aku makin berat sayang?" Tanya Nindi pada Arga.
"Iya tentulah sayang...pasti makin berat...kamu kan sedang mengandung...! kalau nggak berat berarti nggak normal kan?" Ucap Arga lagi, namun wajahnya sangat datar dan tanpa senyuman.
"Kan...kemana senyuman kamu itu? pasti aku makin jelek ya? aku makin gendut kan? kelihatan lo kamu makin sadis tahu nggak sih ga!" Ucap Nindi yang merasa hatinya sedikit tertekan karena hormon kehamilanya.
"Akh...istriku mulai lagi!" Dengus Arga dalam hatinya, lalu ia pun meletakan perlahan lahan tubuh sang istri di atas pembaringan, dan akan meninggalkan Nindi menuju ke kamar mandi.
"Kan...apa aku bilang...beneran kan?" Ucap Nindi lagi dengan kesalnya.
"Yatuhan...istriku...aku juga capek sayang...mau apa sih? mau aku manjain hemmmz...mau ikut mandi sekalian?" Ucap Arga lagi dengan nada suara geram bercampur datar yang membuat Nindi makin mengerutkan dahinya dan akan menangis.
"Aku nggak apa apa kok ga...aku masih ingin istirahat sebentar..." Ucap Nindi, kini nada suaranya terdengar sangat tenang, dan stabil, beda dari rengekan manjanya yang tadi, lalu Arga pun meninggalkan sang istri disana dan mulai masuk kedalam kamar mandinya.
"Pasti ada yang salah!" Ucap Arga dalam hatinya, ia merasa benar benar tidak enak hati saat itu, lalu ia pun sedikit membuka pintu kamar mandi dan mengintip keberadaan sang istri, terlihat Nindi memijit mijit kakinya perlahan lahan, dan sesekali mengelus perutnya yang membuncit dengan bisikan bisikan ringan yang entah apa yang ia utarakan pada buah hatinya, yang pasti Nindi tersenyum saat berbicara dan mengelus elus perutnya.
"Astaga ya tuhan...aku sudah menyakiti hati istriku! aku terlalu cuek belakang ini, hingga tanpa sadar dan tidak perhatian padanya, padahal ia pasti dua kali lipat capeknya dariku, akh...Arga...kamu begitu bodoh!" Ucap Arga dalam hatinya, ia benar benar merasa malu pada sang istri, harusnya ia tahu Nindi bersikap demikian hanya ingin di perhatikan olehnya dan di layani sebagai seorang istri yang tengah mengandung anaknya, dan itu wajar jika Arga menyadarinya.